Translate

Showing posts with label Iptek. Show all posts
Showing posts with label Iptek. Show all posts

Sunday, 11 March 2012

Untuk Mencapai Kemandirian Industri Pertahanan Harus Libatkan Perguruan Tinggi

JAKARTA-(IDB) :Komisi I DPR RI dari Fraksi PKS, Al Muzzammil Yusuf, menilai, peran perguruan tinggi sangat penting dalam membangun kemandirian industri pertahanan dan keamanan nasional. Menurutnya, perguruan tinggi dapat berperan dalam riset pengembangan teknologi alutsista, penyediaan SDM unggulan, dan pengambil kebijakan di Komite Kebijakan Industri Pertahanan dan Keamanan (KKIP). Hal itu dikatakan Muzzammil dalam siaran pers yang diterima Jurnal Nasional, Minggu (11/3).

Wakil Ketua Fraksi PKS DPR ini menjelaskan, perguruan tinggi memiliki konsep, struktur, dan budaya riset yang tinggi. Sehingga pengembangan teknologi industri pertahanan dapat dilakukan secara sistematik dan terstruktur dalam jangka panjang.

Untuk itu, kata Muzzammil, riset yang dilakukan oleh perguruan tinggi harus sinergi dengan kebutuhan industri pertahanan. Pihak perguruan tinggi harus memastikan riset yang dilakukan dosen dan mahasiswanya bukan sekedar untuk pengembangan teori semata, tapi memiliki nilai jual.

Peran lainnya, menurut Muzzammil, perguruan tinggi memiliki kemampuan untuk menyiapkan SDM unggulan yang diperlukan untuk menguasai teknologi tinggi dan ilmu terapan Industri Pertahanan dan Keamanan. Sehingga industri pertahanan ini dapat menyerap lulusan perguruan tinggi sehingga tidak menjadi pengangguran baru muncul setiap tahun."Jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi tahun 2011 mencapai 1.132.751 orang, meningkat 15,71 persen dibandingkan tahun 2010. Industri pertahanan harus berkontribusi untuk menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar," Papar Muzzammil.

Selain mengurangi pengangguran, kata dia, sinergi kerja sama antara perguruan tinggi dengan industri pertahanan sangat penting untuk mencegah terjadinya brain drain. Selama ini, orang cerdas di Indonesia tidak memiliki tempat untuk mengembangkan keahliannya karena tidak diberikan tunjangan gaji yang layak dan sarana riset yang memadai membuat mereka lebih memilih bekerja di luar negeri."Brain drain ini sudah terjadi. Banyak ilmuwan Indonesia yang memilih tinggal untuk mengajar dan bekerja di luar negeri. Data terbaru tahun ini, sekitar ratusan mantan pegawai PT Dirgantara Indonesia yang memiliki kepakaran di bidang pesawat terbang bekerja di industri pertahanan Malaysia," katanya.

Sumber : Jurnas

Wednesday, 29 February 2012

AS Miliki Mainan Senjata Mata-mata Baru

OHIO-(IDB) : Perangkat mata-mata terbaru militer Amerika Serikat (AS) ini lebih mirip mainan anak-anak. Namun perangkat baru ini merupakan perangkat tercanggih dunia.

Angkatan Udara (AU) AS mengembangkan miniatur pesawat mata-mata super kecil berwujud burung, bahkan serangga yang keberadaannya bisa luput dari perhatian. Micro Air Vehicles (MAVs) dikembangkan di Wright-Patterson Air Force Base di Dayton, Ohio.

Misi Laboratorium Riset AU ini yakni mengembangkan MAVs yang mampu mencari, melacak dan menarget musuh sembari beroperasi di lingkungan kota yang rumit.

Pemimpin teknisi Dr Gregory Parker menggunakan beragam helikopter mungil serta robot di lab guna mengembangkan program dan software ini.

Pengujian robot ini bertempat di lingkungan dalam ruangan. Selama itu, data yang terkumpul akan digunakan pengembangan lebih lanjut. Defense Advanced Projects Agency AS menghabiskan bertahun-tahun mengembangkan robot mungil ini dan berharap mampu menciptakan ‘lalat di dinding’.

Pada dua tahun lalu, peneliti mengungkap berhasil membuat robot kumbang yang mampu dikendalikan nirkabel melalui laptop.

Sumber : Itoday

Thursday, 23 February 2012

ITS Kembangkan Hovercraft Standar Internasional

Illustrations
SURABAYA-(IDB) : Hovercraft atau kapal melayang kini bisa diproduksi di Indonesia. Kapal amphibi yang dulu hanya dimiliki negara-negara adikuasa seperti Amerika dan Jepang, kini juga dimiliki Singapura, Malaysia dan tentu saja Indonesia yang dikembangkan oleh Ship Designer asal ITS.

Bentuk Hovercraft yang diproduksi di ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) ini tak beda jauh dengan yang telah dipakai pasukan Angkatan Darat di Amerika. Kendaraan yang berjalan di atas bantalan udara (air cushion) ini juga sengaja difungsikan untuk mengangkut penumpang dan mengakses dari kapal menuju daratan dengan speed khusus.

Kendaraan atau kapal amphibi berdimensi 14,2 x 7 meter ini memiliki 25 knot ground speed dan 30 knot air speed. Kapal yang mampu bermanuver di perairan maupun di darat tersebut menunjukkan kemampuan bangsa memproduksi perlengkapan pertahanan sendiri.

"Ground speed-nya 25 knot, air speed 30 knot," kata Marine Engineer & Ship Designer ITS, Ir H Agoes Santoso kepada detiksurabaya.com, Kamis (23/2/2012).

Seperti Hovercraft di negara-negara lain, kapal amphibi ini memiliki bantalan udara yang ditimbulkan dengan cara meniupkan udara ke ruang bawah kapal (plenum chamber). Proses ini berlangsung melalui skirt (sekat yang lentur) sehingga tekanan udara di dalam plenum chamber lebih tinggi daripada tekanan udara luar sehingga timbul gaya angkat

Untuk menggerakkan kapal bantalan udara, digunakan gaya dorong yang diperoleh dari baling-baling (propeller). Gaya angkat kapal ini bekerja pada penampang yang luas, sehingga tekanan terhadap tanah atau air (ground pressure) yang ditimbulkan tidak besar.

Dengan demikian, kendaraan ini dapat berjalan di atas lumpur, air maupun daratan dengan membawa beban yang cukup berat. Maksimal, Hovercraft ini berkapasitas hingga 5 ton muatan.

Muatan berupa penumpang atau bahkan kendaraan bisa sangat efektif diangkut menggunakan kapal amphibi ini. Dan lagi, dengan 1000 liter bensin, hovercraft buatan ITS ini mampu mengakses perjalanan ke darat dengan cepat.

"Maksimal dikendarai selama 2 jam," tuturnya.

Kini, satu unit hovercraft produksi ITS telah diambil fungsi oleh Direktorat Perbekalan Angkutan TNI Angkatan Darat di Jakarta. Sayangnya, kapal amphibi yang diproduksi dengan dana tak lebih dari Rp 50 Miliar ini belum ada lagi yang memesan. Padahal, alat angkut penumpang semacam ini sering digunakan anggota TNI di luar negeri untuk pertolongan kali pertama saat terjadi bencana di laut.

Sumber : Detik

Wednesday, 18 January 2012

Skuadron F-5 Tiger TNI AU Upgrade SYstem Avionik Produksi Dalam Negeri

SURABAYA-(IDB) : Untuk mencapai Minimum Essential Forces (MEF), TNI berupaya meningkatkan kemampuan daya tangkal Alutsistanya dengan membeli Alutsista baru guna menggantikan yang lama, dan meningkatkan kemampuan Alutsista yang ada dengan mencangkokan teknologi terkini di Alutsista yang masih laik.
Salah satu Alutsista lama TNI yang masih beroperasi namun perlu peningkatan teknologi, adalah pesawat tempur TNI AU, jenis F-5 E/F Tiger II.

Walau sempat diisukan F-5 E/F TNI AU akan digantikan dengan F-16, namun dengan telah dibukanya embargo militer Amerika Serikat (AS) terhadap Indonesia, pesawat tempur yang dibeli tahun 1980 dapat lebih maksimal menjalankan tugasnya.

Kepada itoday, PT. Infoglobal Teknologi Semesta mengatakan, rencananya perusahaan asal Surabaya inilah yang akan meningkatkan kemampuan avionik sang Macan TNI AU. Sehingga pesawat tempur yang dibeli untuk menggantikan Mig-21 TNI AU ini bisa tetap beroperasi di masa depan.

Pesawat tempur F-5 E/F TNI AU sendiri sebenarnya pernah ditingkatkan kemampuannya di 1995 oleh SABCA, perusahaan asal Belgia dalam proyek Modernization of Avionics and Navigation (MACAN).

Kesempatan yang didapatkan perusahaan lokal untuk meningkatkan kemampuan pesawat tempur TNI AU ini, disebabkan karena SABCA, Belgia yang menjalankan proyek MACAN dahulu sudah tidak ada lagi.

Hal tersebut dianggap sebagai sebuah peluang bagi PT. Infoglobal Teknologi Semesta untuk membuktikan diri, bahwa perusahaan lokalpun mampu meningkatkan kemampuan avionik pesawat tempur TNI AU. Apalagi, Infoglobal sudah berpengalaman mengganti avionik pesawat tempur jenis Hawk TNI AU.

Salah satu avionik F-5 E/F TNI AU yang akan ditingkatkan kemampuannya, adalah perangkat Inertial Navigation Unit (INU). Infoglobal sendiri sudah mampu membuat perangkat INU untuk F-5 yang juga bisa dipasangkan di F-16 milik AU.

Dan perangkat INU buatan Infoglobal sendiri bukanlah produk sembarangan. Alat navigasi lokal ini menyabet penghargaan Indigo Fellow 2010 untuk bidang pengembangan industri kreatif digital nasional.

Avionik Lokal di Lirik Negara Asing

Anak Indonesia kembali mencetak prestasi di luar negeri. Kali ini sebuah perusahaan avionik pesawat tempur, PT. Infoglobal Teknologi Semesta (Infoglobal) asal Surabaya, berhasil mengekspor produknya ke negara tetangga, Malaysia.

Ditemui itoday di acara Rapat Pimpinan TNI 2012 di Mabes TNI, Cilangkap, perwakilan Infoglobal mengatakan bahwa perusahaan asal Kota Pahlawan ini mendapatkan kepercayaan dari Malaysia, untuk mengganti avionik Digital Video Recorder (DVR) dan Radar Monitoring Unit (RMU) 18 pesawat tempur Hawk milik Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM).

DVR adalah alat perekam video, radar dan audio di kokpit pesawat dalam format digital. DVR merekam video dari kamera pesawat, simbologi data-data penerbangan, view yang disaksikan pilot serta suara percakapan di kokpit pesawat.

Sedangkan RMU adalah perangkatavionik yang berfungsi menampilkan informasi hasil tangkapan radar yang ada di pesawat tempur tipe Hawk 200.

Berita diliriknya produk lokal oleh asing ini menjadi kebanggaan tersendiri, dimana situasi sekarang, masyarakat dan juga pemerintah masih menganggap produk pertahanan dalam negeri masih kalah bersaing dengan produk luar, hanya karena dianggap belum terbukti kualitasnya, alias belum battle proven.

Sumber : Itoday

weapon military