Translate

Showing posts with label Amerika. Show all posts
Showing posts with label Amerika. Show all posts

Thursday, 15 March 2012

Hemat Anggaran, AS Pensiunkan 20 Ribu Marinir

WASHINGTON DC-(IDB) : Korps Marinir AS (USMC) berencana menutup empat batalyon infanteri dan 12 skuadron udaranya dalam lima tahun ke depan sebagai bagian dari langkah penghematan anggaran pertahanan AS. Nantinya, USMC akan fokus pada pengembangan pasukan khusus dan pesawat tak berawak yang membutuhkan jumlah personel lebih sedikit tanpa mengurangi kemampuan tempur.

Komandan Komando Pengembangan Tempur USMC Letnan Jenderal Richard Mills mengatakan, Rabu (14/3/2012), secara keseluruhan USMC akan memangkas 20.000 personel untuk menyesuaikan dengan pembatasan anggaran dan kebutuhan personel di masa damai.
 
Pemotongan terbesar akan terjadi di beberapa pangkalan USMC di negara bagian North Carolina. Pangkalan Camp Lejeune dan Pangkalan Udara New River akan kehilangan 5.800 personel, sementara Pangkalan Udara Cherry Point akan kehilangan 2.100 personel.

Tiga pangkalan USMC di California, yakni Campe Pendleton, 29 Palms, dan Miramar akan kehilangan total 6.000 personel. Namun, pengurangan jumlah personel di pangkalan-pangkalan di Pasifik jauh lebih kecil, yakni hanya sekitar 200 personel di Hawaii dan belum ditetapkan di Jepang.

Di luar pengurangan personel tersebut, USMC mengatakan akan merekrut tambahan 250 orang untuk memperkuat sektor peperangan cyber, 821 orang untuk dimasukkan ke Komando Operasi Khusus USMC, dan menambah satu skuadron pesawat tak berawak di bawah komando Pasukan Cadangan Marinir.

Mills mengatakan, pengurangan jumlah personel ini akan dilakukan secara bertahap dan menyesuaikan habisnya masa kontrak setiap prajurit Marinir. ”Kami jelas akan membutuhkan jumlah prajurit yang lebih sedikit. Pendaftaran kembali prajurit akan diperketat. Seorang Marinir nantinya harus benar-benar memiliki kualifikasi profesional, personal,dan kinerja puncak untuk tetap bisa bertahan meniti karier di korps Marinir,” tandas Mills.

Dengan pengurangan ini, jumlah personel USMC akan berkurang dari 202.000 personel saat ini menjadi hanya 182.000 personel pada 2016. Jumlah batalyon infanteri juga akan menyusut, dari 27 batalyon menjadi 23 batalyon. Sementara jumlah skuadron udara USMC berkurang dari 70 skuadron menjadi hanya 58 skuadron.

Sumber : Kompas

Thursday, 8 March 2012

Minta Israel Tunda Serangan Iran, AS Tawarkan Senjata Canggih

WASHINGTON-(IDB) : Pemerintah Amerika Serikat dikabarkan menawarkan persenjataan canggih baru kepada Israel namun dengan syarat. Syaratnya, Israel harus berkomitmen untuk tidak menyerang fasilitas nuklir Iran tahun ini.

Demikian diberitakan harian Israel, Maariv seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (8/3/2012) yang mengutip diplomat-diplomat Barat yang tidak disebutkan namanya dan sumber-sumber intelijen.

Dituliskan media tersebut, saat kunjungan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu ke Washington pekan ini, pemerintah AS menawarkan kepada Israel untuk menyediakan bom-bom penghancur bunker dan pesawat-pesawat pengisi bahan bakar jarak jauh.

Bom-bom penghancur bunker yang ditawarkan AS tersebut jauh lebih hebat daripada bom-bom serupa yang dimiliki Israel saat ini. Dengan bom-bom tersebut, Israel akan bisa menargetkan fasilitas-fasilitas nuklir meski berada di bawah bebatuan yang kuat.

Sebagai imbalan atas persenjataan canggih tersebut, Israel setuju untuk menunda kemungkinan serangan terhadap Iran hingga tahun 2013, setelah pemilihan presiden AS pada November 2012 mendatang.

Pemerintah AS dan Israel belakangan terus bertentangan mengenai cara menghadapi ambisi nuklir Iran. Pemerintah AS berulang kali mengingatkan bahwa serangan militer terhadap Iran akan berkonsekuensi besar bagi wilayah Timur Tengah juga global.

Sumber : Detik

Saturday, 3 March 2012

AS Kurangi Jumlah Pangkalan F-35

WASHINGTON DC-(IDB) : Khawatir dengan perkiraan biaya operasional dan perawatan yang bisa mencapai 1 triliun dollar AS (Rp 9,07 kuadriliun), Angkatan Bersenjata Amerika Serikat memutuskan mengurangi jumlah pangkalan yang akan menjadi basis operasi pesawat tempur masa depan F-35 Lightning II.

Majalah penerbangan Aviation Week, Jumat (2/3/2012), menyebutkan, dua calon operator utama F-35 di AS, yakni Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS, mulai meninjau kembali rencana pengoperasian jet tempur generasi kelima tersebut untuk memangkas biaya operasi dan perawatan (O&S cost).

Kepala Staf AU AS Jenderal Norton Schwartz mengatakan, pihaknya semula berencana menempatkan F-35 di lebih dari 40 pangkalan. "Dengan perkembangan terbaru ini, kami mengurangi jumlah pangkalan menjadi sekitar 30 pangkalan saja," ujar Scwartz.

Pengurangan basis operasi F-35 ini sejalan dengan rencana AU menutup beberapa pangkalan dalam rangka pengurangan kelebihan infrastruktur yang mereka operasikan hingga 20 persen. AU AS berencana mengoperasikan varian F-35A untuk menggantikan armada pesawat F-16 Fighting Falcon.

Ini adalah perkembangan terbaru dari program Joint Strike Fighter (JSF), yang sebelumnya sudah diwarnai sederet kabar tak mengenakkan, mulai dari pembengkakan biaya pengembangan program, berbagai masalah teknis yang ditemukan saat uji terbang, dan kemungkinan penundaan produksi, pengurangan jumlah pesanan, sampai pembatalan pesanan.

Departemen Pertahanan AS telah memutuskan menangguhkan pemesanan 179 unit F-35 dalam lima tahun ke depan sebagai bagian dari langkah penghematan anggaran pertahanan AS. AS sedianya akan membeli sekitar 2.400 unit F-35 untuk menggantikan seluruh armada F-16, F/A-18, dan AV-8B Harrier II, yang selama ini menjadi andalan AU, AL, dan Korps Marinir AS.

Kabar tersebut memicu kekhawatiran negara-negara calon pembeli F-35 bahwa harga satuan pesawat itu akan naik lagi. Jepang sudah menyatakan akan membatalkan rencana pembeliannya apabila harga dinaikkan dan jadwal pengiriman tertunda.

Sementara Italia, salah satu dari delapan negara di luar AS yang menjadi mitra utama program JSF, sudah memutuskan memotong rencana pembelian 131 unit F-35 sebesar 30 persen. Negara-negara lain dikhawatirkan akan mengikuti langkah Italia.

Meski demikian, dalam pertemuan yang difasilitasi Menteri Muda Pertahanan Nasional Kanada Julian Fantino di Kedutaan Besar Kanada di Washington DC, AS, Kamis hingga Jumat (2/3/2012), perwakilan sembilan negara mitra JSF, yakni AS, Kanada, Inggris, Australia, Turki, Denmark, Norwegia, Italia, dan Belanda, menyatakan tetap mendukung penuh program F-35 tersebut. 

Sumber : Kompas

Friday, 2 March 2012

AS Batalkan Kontrak Pembelian Pesawat Brasil

WASHINGTON-(IDB) : Angkatan Udara AS telah membatalkan sebuah kontrak senilai 355 juta dollar AS untuk pembelian pesawat serang ringan buatan Embraer, Brasil. Angkatan Udara (AU) AS mengatakan akan menggelar sebuah investigasi setelah muncul protes dari sebuah perusahaan kedirgantaraan AS yang menjadi saingan Embraer, kata sejumlah pejabat AS, Selasa (28/2/2012).

Kontrak pembelian 20 pesawat Embraer jenis AT-29 Super Tucano itu dimenangkan Embraer pada Desember lalu sebagai bagian dari rencana AS untuk mempersenjatai militer Afghanistan di tengah penarikan pasukan NATO. Namun AU AS mengatakan tidak "puas" dengan dokumen-dokumen yang mendukung keputusan untuk menyerahkan proyek itu ke Sierra Nevada Corporation yang berbasis AS, yang bermitra dengan Embraer.

Militer AS ingin memberikan pesawat ringan kepada Angkatan Udara Afghanistan untuk melakukan pelatihan penerbangan, pengintaian udara dan operasi pendukung bagi pasukan darat. AT-29 Super Tucano merupakan pesawat turboprop yang didesain untuk lingkungan berancaman rendah.

Namun Hawker Beechcraft Corp, yang berbasis di Wichita, Kansas, memprotes kontrak itu. Perusahaan itu beralasan, pesawat AT-6 buatannya blokir secara tidak adil dari kompetisi untuk memenangkan kontrak tersebut.

Para pejabat Embraer membantah tuduhan itu tetapi pihaknya tidak dapat menghentikan penyelidikan pemerintah.

"Hari ini, Angkatan Udara menyarankan kepada Departemen Kehakiman bahwa mereka akan mengambil tindakan korektif pada kontrak Afghanistan Light Air Support dan akan menyisihkan kontrak untuk Sierra Nevada efektif per 2 Maret 2012," kata Angkatan Udara AS dalam sebuah pernyataan.

"Sementara kami mencari kebenaran, kami kadang-kadang gagal, dan saat kami lakukan kami akan mengambil tindakan korektif," kata Sekretaris Angkatan Udara AS , Michael Donley, dalam pernyataan yang sama. Dia menambahkan, eksekutif akuisisi senior "tidak puas dengan kualitas dokumen yang mendukung keputusan pemenangan" tapi tidak menjelaskan lebih lanjut. Pernyataan itu juga mengatakan, Kepala Komando Perlengkapan Angkatan Udara, Jenderal Donald Hoffman, telah meluncurkan penyelidikan terkait kemenangan itu.

Para anggota parlemen yang mewakili Kansas, tempat Hawker Beechcraft berada, telah mengajukan pertanyaan tentang kesepakatan dengan Sierra Nevada dan Embraer.

Di Brasil, Embraer dalam sebuah pernyataan menyatakan bahwa pihaknya telah memberikan "tepat waktu dan tanpa pengecualian, semua dokumentasi yang diperlukan" dalam kemitraan dengan Sierra Nevada. "Keputusan memilih Super Tucano ... adalah sebuah pilihan untuk produk terbaik dengan kinerja yang telah terbukti dan semua kemampuan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan klien," kata Embraer. 

 
Disisi Lain Pentagon Masih Tertarik Beli Pesawat Brasil

Amerika Serikat tetap tertarik pada kemungkinan pembelian pesawat serang ringan buatan Embraer, Brasil, meskipun telah membatalkan kontrak minggu ini, kata Wakil Menteri Luar Negeri AS, William Burns, Kamis (1/3/2012).

Burns, dalam kunjungan ke Rio de Janeiro, mengatakan, pembatalan kontrak itu bukan sebuah refleksi penolakan terhadap Super Tucano—untuk digunakan di Afganistan. Ia menggambarkan pesawat itu sebagai "sebuah pesawat yang sangat baik".

Kementerian Luar Negeri Brasil telah mengeluarkan pernyataan keras yang menyuarakan "keterkejutan" terkait pembatalan itu, khususnya cara dan waktu pembatalan. "Perkembangan ini dianggap tidak kondusif untuk memperkuat hubungan antara kedua negara dalam urusan pertahanan," kata pernyataan kementerian Brasil itu.

Pentagon, Selasa, membatalkan kontrak senilai 355 juta dollar AS dengan perusahaan AS, Sierra Nevada Corp, dan perusahaan kedirgantaraan Brasil, Embraer. Pentagon juga mengumumkan akan melakukan investigasi setelah ada gugatan hukum dari perusahaan kedirgantaraan AS yang menjadi saingan, yaitu Hawker Beechcraft Corp.

"Embraer sebuah perusahaan besar dan Super Tucano merupakan pesawat yang sangat bagus," kata Burns kepada wartawan di Rio. "AS kini berada di tengah-tengah proses internal, tetapi kami tetap tertarik."

Burns mengatakan, tidak ada kaitan antara kontrak itu dan perang penawaran sengit di Brasil untuk 36 unit jet tempur angkatan udara. Boeing yang berbasis di AS bersama Dassault dari Perancis dan Saab dari Swedia berjuang untuk mendapatkan kontrak senilai antara 4-7 juta dollar dari Brasil.

"Itu dua soal yang berbeda," kata Burns. Kami yakin bahwa F18 (buatan Boeing) adalah pesawat terbaik yang tersedia. Satu hal yang mencerminkan itu adalah bahwa pesawat itulah yang AS gunakan selama 20 atau 30 tahun mendatang," katanya.

"Kami yakin bahwa paket transfer teknologi yang kami tawarkan bersama pesawat itu belum pernah terjadi dalam hubungan kami, juga yang terbaik dari paket yang tersedia."

Tentang kontrak Embraer, Jenderal AS, Norton Schwartz, Rabu, mengatakan, Angkatan Udara akan bergerak "cepat" untuk meluncurkan kontes bagi 20 pesawat serang ringan untuk membantu militer Afganistan karena dana untuk program tersebut akan hangus pada akhir tahun fiskal 2013. Kontrak bagi 20 pesawat Embraer jenis AT-29 Super Tucano itu dimenangkan pada Desember sebagai bagian dari rencana untuk mempersenjatai militer Afganistan di tengah penarikan pasukan NATO. Namun, Angkatan Udara AS mengatakan tidak "puas" dengan dokumen-dokumen kontrak itu dan mengumumkan akan meninjau kembali kemenangan Embraer. Militer AS ingin memberikan pesawat ringan bagi armada udara Afganistan guna melakukan pelatihan penerbangan, pengintaian udara, dan operasi tempur dukungan bagi pasukan darat.

Namun, Hawker Beechcraft Corp, yang berbasis di Wichita, Kansas, memprotes kemenangan Embraer, dengan alasan bahwa pesawat AT-6 buatan perusahaan itu diblokir secara tidak adil dalam kompetisi untuk mendapat kontrak tersebut.

Para pejabat Embraer telah membantah tuduhan itu.

Sumber : Kompas

Thursday, 1 March 2012

AS Siapkan Bom Khusus Untuk Iran

WASHINGTON-(IDB) : Amerika Serikat (AS) memiliki bom sangat kuat yang sudah disiapkan untuk kemungkinan aksi militer ke Iran. Saat ini bom tersebut sedang ditingkatkan kekuatannya.

Ancaman itu diungkapkan Kepala Staf Angkatan Udara (AU) AS Jenderal Norton Schwartz kemarin. Dia menolak mengatakan apakah senjata AS tersebut termasuk bom penembus raksasa (MOP) 30.000 pound, yang dapat mencapai fasilitas nuklir yang tersembunyi atau berada jauh di dalam tanah. “Kami memiliki kemampuan operasional dan Anda tidak ingin berada di sana saat kami menggunakannya.Tidak untuk dikatakan bahwa kami tidak dapat melanjutkan untuk membuat perbaikan dan kami melakukannya,” papar Schwartz saat ditanya wartawan tentang bom MOP.

Di tengah spekulasi bahwa satu fasilitas nuklir Iran berada di bawah pegunungan dekat Qom yang jauh dari jangkauan persenjataan AS, Menteri Pertahanan (Menhan) AS Leon Panetta menyadari kekurangan bom raksasa MOP dan mengatakan Pentagon bekerja untuk meningkatkan kekuatan bom itu. Saat ditanya tentang komentar terbaru dari sejumlah pejabat senior bahwa targettarget di Iran kebal dari kekuatan udara AS, Schwartz menjawab,“ Itu muncul tanpa mengatakan bahwa serangan itu tentang fisik. Semakin dalam Anda pergi, semakin sulit dicapai.”$20

Tapi Schwartz menambahkan bahwa persenjataan AS tidak memiliki kemampuan yang ngawur. Mantan Wakil Kepala Staf Gabungan AS Purnawirawan Jenderal James Cartwright menjelaskan bahwa satu fasilitas nuklir Iran tidak dapat dicapai dengan serangan bom.Cartwright tampaknya merujuk pada fasilitas nuklir Fordo yang dibangun di bawah pegunungan dekat kota Qom,150 kilometer selatan Teheran.

Schwartz juga menolak mengatakan apakah kekuatan udara akan efektif melawan program nuklir Iran. Namun, dia mengatakan, hasil semua serangan pencegahan bergantung pada tujuan serangan itu. “Apa tujuannya? Ini untuk menghancurkan,ini untuk menunda, ini untuk mempersulit? Maksud saya, apa tujuan keamanan nasional. Itu argumen terdekat untuk semua ini,” katanya.
 

“Ada kecenderungan yang saya pikirkan untuk kita semua agar bertindak taktis secepatnya dan khawatir tentang persenjataan dan segalanya terkait itu.” Pernyataan Schwartz itu bersamaan dengan kunjungan Menhan Israel Ehud Barak ke Washington pekan ini, di tengah spekulasi terbaru serangan Israel ke fasilitas nuklir Iran.

Iran menegaskan berulang kali bahwa program nuklirnya untuk tujuan damai.Namun, para diplomat Barat mengatakan, pengawas dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tetap khawatir dengan aktivitas yang dilakukan di fasilitas militer Parchin, Iran.Tidak jelas apa aktivitas tersebut. Diplomat mengatakan, IAEA mengawasi fasilitas itu melalui citra satelit.

Sementara itu,Hezbollah di Lebanon memperingatkan, serangan militer ke Iran akan mengacaukan Timur Tengah dan kemungkinan menyeret AS ke dalam konflik.“AS tahu bahwa jika terjadi perang di Iran, ini berarti seluruh kawasan akan turut menyala, dengan tanpa batas bagi api itu,”kata deputi Hezbollah Sheikh Naim Qassem pada Reuters.

Sejumlah sanksi Barat yang diterapkan terhadap Iran memengaruhi ekspor minyak Negeri Mullah tersebut.Badan penasihat AS memperingatkan, kekurangan suplai minyak akan meningkatkan harga minyak mentah dan melemahkan ekonomi global saat ini. Dengan harga minyak mentah yang tinggi dalam 10 bulan terakhir dan keterbatasan kapasitas produksi minyak dunia, AS mungkin memberikan kelonggaran pada sejumlah konsumen terbesar minyak Iran sehingga tidak mendapatkan sanksi.


Sanksi AS terhadap Iran akan berlaku 28 Juni. Iran merupakan eksportir minyak terbesar kelima dunia dan produser terbesar kedua di OPEC setelah Arab Saudi.Konsumen terbesar minyak Iran ialah China,Jepang,dan India. Ketiga negara itu dapat terjerat sanksi AS untuk menekan Iran, tapi muncul pula kekhawatiran resesi ekonomi global yang dapat terjadi.

Kenaikan harga minyak menjadi isu penting menjelang pemilu presiden AS pada November mendatang.Partai Republik berupaya menggalang kemarahan publik untuk mengkritik kebijakan energi Presiden AS Barack Obama dan Partai Demokrat.

Sebaliknya, kondisi ini menguntungkan Arab Saudi yang telah meningkatkan produksi minyak dalam dua bulan terakhir. Saudi memproduksi rata-rata 9,7 juta barel per hari selama dua bulan terakhir. Jumlah tersebut naik 600.000 barel per hari pada periode yang sama tahun lalu.

Sumber : Sindo

Wednesday, 29 February 2012

AS Miliki Mainan Senjata Mata-mata Baru

OHIO-(IDB) : Perangkat mata-mata terbaru militer Amerika Serikat (AS) ini lebih mirip mainan anak-anak. Namun perangkat baru ini merupakan perangkat tercanggih dunia.

Angkatan Udara (AU) AS mengembangkan miniatur pesawat mata-mata super kecil berwujud burung, bahkan serangga yang keberadaannya bisa luput dari perhatian. Micro Air Vehicles (MAVs) dikembangkan di Wright-Patterson Air Force Base di Dayton, Ohio.

Misi Laboratorium Riset AU ini yakni mengembangkan MAVs yang mampu mencari, melacak dan menarget musuh sembari beroperasi di lingkungan kota yang rumit.

Pemimpin teknisi Dr Gregory Parker menggunakan beragam helikopter mungil serta robot di lab guna mengembangkan program dan software ini.

Pengujian robot ini bertempat di lingkungan dalam ruangan. Selama itu, data yang terkumpul akan digunakan pengembangan lebih lanjut. Defense Advanced Projects Agency AS menghabiskan bertahun-tahun mengembangkan robot mungil ini dan berharap mampu menciptakan ‘lalat di dinding’.

Pada dua tahun lalu, peneliti mengungkap berhasil membuat robot kumbang yang mampu dikendalikan nirkabel melalui laptop.

Sumber : Itoday

Thursday, 23 February 2012

Super Cobra dan Huey Tabrakan di Udara, 7 Marinir AS Tewas

YUMA-(IDB) : Tujuh prajurit Korps Marinir AS dilaporkan tewas, setelah dua helikopter militer bertabrakan saat menjalankan latihan pertempuran malam di Kompleks Latihan Militer Yuma, dekat kota Yuma, negara bagian Arizona, AS, Rabu (22/2/2012) malam waktu setempat atau Kamis (23/2/2012) pagi WIB.

Letnan Maureen Dooley dari Pangkalan Udara Miramar, California, mengatakan, dua helikopter yakni heli serbu AH-1W Super Cobra dan heli angkut UH-1Y Huey bertabrakan di udara saat menjalankan operasi latihan rutin, Rabu sekitar pukul 20.00 waktu setempat.

Para pejabat pertahanan AS mengatakan, penyebab tabrakan masih dalam penyelidikan dan nama-nama korban baru akan dipublikasikan paling cepat 24 jam setelah kecelakaan terjadi. Pihak Marinir AS mengatakan, lokasi kecelakaan berada terpencil di pedalaman kompleks latihan militer, yang terletak di dekat perbatasan negara bagian Arizona dan California itu.

Sumber : Kompas

Wednesday, 15 February 2012

AS Kurangi 80 Persen Senjata Nuklirnya

WASHINGTON DC-(IDB) : Pemerintahan Presiden AS Barack Obama dikabarkan sedang mempertimbangkan pemangkasan besar-besaran terhadap jumlah senjata nuklir yang disiagakan selama ini. Meski dengan opsi terkecil pun, pengurangan arsenal nuklir AS ini akan menjadi langkah bersejarah dan berani.

Demikian hasil investigasi kantor berita Associated Press (AP) yang dipublikasikan Selasa (14/2/2012) waktu AS atau Rabu (15/2/2012) WIB.

Belum ada keputusan yang diambil, tetapi pemerintah AS diduga sedang menimbang tiga opsi jumlah senjata nuklir yang akan disiagakan. Opsi pertama adalah memotong jumlah senjata nuklir menjadi hanya 1.000-1.100 hulu ledak, opsi kedua menjadi hanya 700-800 hulu ledak, dan opsi ketiga, yang paling kontroversial, memangkas penyebaran senjata nuklir menjadi sekitar 300-400 hulu ledak nuklir saja.

Di bawah perjanjian pengurangan senjata strategis (START) terbaru dengan Rusia, AS dituntut menurunkan jumlah senjata nuklirnya hingga jumlah maksimum 1.550 hulu ledak pada tahun 2018. Per 1 September 2011, AS masih menyiagakan 1.790 hulu ledak nuklir, sementara Rusia masih menempatkan 1.566 hulu ledak.

Jika AS memilih opsi ketiga, yakni hanya menyiagakan 300 hulu ledak, maka itu akan menjadi jumlah senjata nuklir terendah AS sejak tahun 1950, saat AS mulai meningkatkan produksi senjata nuklir dalam perlombaan senjata dengan Uni Soviet waktu itu. Jumlah senjata nuklir AS mencapai puncaknya dengan 12.000 hulu ledak pada akhir 1980-an, dan baru turun di bawah 5.000 hulu ledak pada tahun 2003.

Pihak Pentagon enggan berkomentar soal dugaan opsi pemangkasan senjata nuklir ini, dan mengatakan data soal itu merupakan rahasia negara.

Jumlah pasti senjata nuklir yang dimiliki setiap negara kekuatan nuklir biasanya dirahasiakan. Namun, para pengamat militer meyakini, hanya Rusia dan AS yang menyiagakan senjata nuklir di atas jumlah 300 hulu ledak.

Menurut Federasi Ilmuwan Amerika (FAS) memperkirakan, Perancis memiliki 300 hulu ledak, disusul China (sekitar 240 hulu ledak), Inggris (225 hulu ledak), dan Israel, India, dan Pakistan masing-masing memiliki sekitar 100 hulu ledak nuklir. 

Sumber : Kompas

Tuesday, 14 February 2012

Armada U-2 AU AS Dipertahankan Sampai 2025

WASHINGTON DC-(IDB) : Angkatan Udara AS akan terus mengoperasikan pesawat mata-mata U-2 paling tidak sampai tahun 2025, atau sekitar 70 tahun sejak pesawat itu pertama kali dioperasikan.

Keputusan memperpanjang masa pakai U-2 ini merupakan bagian dari langkah penghematan anggaran pertahanan AS. Menurut AU AS, Senin (13/2/2012), kemampuan U-2 masih lebih unggul dibanding pesawat tak berawak Global Hawk yang sebelumnya dirancang untuk menggantikan U-2 mulai 2015.

Dua pesawat itu sama-sama berkemampuan terbang hingga ketinggian sangat tinggi di atas wilayah musuh untuk mengambil foto dan menyadap komunikasi lawan. Namun, sensor yang dimiliki U-2 berkualitas jauh lebih baik dibanding peralatan pengambil gambar Global Hawk.

Menurut Jenderal Larry Spencer dari AU AS, biaya untuk meningkatkan kemampuan Global Hawk menjadi setara U-2 akan terlalu besar sehingga Pentagon memutuskan untuk membatalkan pembelian 18 unit pesawat Global Hawk Block 30.

Pesawat mata-mata U-2 dirancang sejak era 1950-an dengan misi utama memata-matai arsenal rudal nuklir Uni Soviet. Seusai Perang Dingin, pesawat itu ternyata masih membawa banyak manfaat dalam perang di Irak dan Afganistan. 

Sumber : Kompas

Monday, 6 February 2012

Keterlambatan JSF Project, AU AS Retrofit Armada F16 Untuk Tambah Masa Pakai

WASHINGTON DC-(IDB) : Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) berencana menganggarkan dana 2,8 miliar dollar AS (Rp 25,1 triliun) untuk memodernisasi armada pesawat tuanya. Hal itu dilakukan setelah produksi pesawat masa depan F-35 Lightning II terus tertunda-tunda.

USAF saat ini merencanakan meningkatkan kemampuan 350 pesawat tempur F-16 Fighting Falcon untuk menjaga kondisinya agar layak operasional sambil menunggu F-35 memasuki skala produksi penuh.

"Masalah dengan F-35 adalah pesawat-pesawat tersebut tidak dikirim secepat rencana awal," ujar Jenderal Norton Schwartz, Kepala Staf Angkatan Udara AS, Jumat (3/2/2012).

Rencana modernisasi armada F-16 ini sedang disusun sebagai bagian dari pengajuan anggaran pertahanan untuk tahun fiskal 2013.

Pesawat yang dibuat dalam program Joint Strike Fighter (JSF) itu dirancang untuk mengganti seluruh armada pesawat tempur yang dioperasikan angkatan bersenjata AS saat ini. Varian F-35A, yang lepas landas dan mendarat dari lapangan terbang konvensional, dirancang untuk menggantikan F-16.

Namun, berbagai masalah teknis serius terus menghambat produksi pesawat tempur generasi kelima ini, dan ongkos produksinya pun terus membengkak.

Meski demikian, Menteri Angkatan Udara AS, Michael Donley, menegaskan, Pemerintah AS akan berkomitmen terhadap program JSF dan tetap akan memesan 2.443 unit pesawat ini seperti rencana semula.

Sebelumnya, sempat ada kekhawatiran beberapa negara mitra program JSF bahwa militer AS akan memangkas jumlah pesanannya, yang akan berdampak pada kenaikan harga satuan F-35.

"Ini adalah program yang harus dilakukan bagi angkatan bersenjata kami. Ini adalah masa depan kekuatan udara kami, tidak hanya bagi AU, AL, dan Korps Marinir, tetapi juga bagi 12 mitra internasional kami," tandas Donley.

Sebelumnya, militer AS berharap 423 unit pesawat ini sudah akan dikirim selama periode 2013-2017. Namun, dengan berbagai kendala yang terjadi, jumlah rencana pengiriman itu dipangkas menjadi hanya 244 pesawat.

Sumber : Kompas

Saturday, 28 January 2012

Pentagon Percepat Pengembangan Bom Antibunker Baru

Bom antibunker Massive Ordnance Penetrator (MOP)
WASHINGTON DC-(IDB) : Departemen Pertahanan AS mempercepat pengembangan sebuah bom baru yang mampu menembus bunker bawah tanah yang sudah diperkuat. Bom tersebut dirancang khusus untuk menghancurkan fasilitas-fasilitas nuklir bawah tanah milik Iran dan Korea Utara.

Demikian dilaporkan harian Wall Street Journal (WSJ) edisi Sabtu (28/1/2012), seperti dikutip kantor berita RIA Novosti. Saat ini, bom seberat 13.600 kilogram yang dikenal dengan nama MOP (Massive Ordnance Penetrator) itu masih menjalani tes awal.

Meski demikian, menurut harian itu, bom yang saat ini diuji coba tersebut diperkirakan belum bisa menghancurkan sebagian fasilitas nuklir Iran, baik karena posisinya yang jauh di bawah tanah, maupun karena Teheran sudah menambah dinding penguat untuk melindungi berbagai fasilitas itu.

Menurut beberapa pejabat pertahanan AS, dana terus digelontorkan untuk program tersebut demi memastikan senjata baru ini mampu menembus bunker terdalam sekali pun, termasuk fasilitas pengayaan uranium Iran di Fordow yang dibangun di bawah gunung.

Dalam sebuah wawancara dengan WSJ, Menteri Pertahanan AS Leon Panetta mengatakan, bom baru ini diharapkan siap dioperasikan dalam waktu dekat. "Kami masih mencoba mengembangkan bom-bom baru ini," tutur Panetta. 

Sumber : Kompas

Pentagon Siapkan Pangkalan Militer Terapung untuk Timur Tengah

Kapal USS Ponce (LPD-15) yang dikabarkan sedang direnovasi menjadi pangkalan militer terapung.
WASHINGTON DC-(IDB) : Departemen Pertahanan AS sedang menyiapkan sebuah pangkalan militer terapung untuk basis operasi pasukan komando yang dikirim ke kawasan Timur Tengah seiring meningkatnya ketegangan dengan Iran, peningkatan aktivitas Al Qaeda di Yaman, dan maraknya geng bajak laut di Somalia.

Demikian diungkapkan harian The Washington Post, Sabtu (28/1/2012). Surat kabar tersebut memperoleh informasi dari berbagai dokumen pengadaan yang dirilis Pentagon dan Angkatan Laut AS (US Navy) dalam beberapa pekan terakhir.

Untuk sementara, pangkalan ini akan memanfaatkan sebuah kapal perang tua yang seharusnya sudah dipensiunkan. Kapal perang dari jenis landing platform dock (LPD) tersebut akan direnovasi dan dimodernisasi sehingga mampu menjadi pangkalan perahu cepat dan helikopter yang biasanya digunakan oleh tim pasukan elite Navy SEAL.

Langkah tersebut diambil atas permintaan Komando Pusat AS (US Central Command/CENTCOM), yang mengendalikan operasi militer di kawasan Timur Tengah. Saat dikonfirmasi, juru bicara Komando Kesatuan Armada US Navy, Letnan Komandan Mike Kafka, menolak memberi detail lebih jauh rencana tersebut, termasuk tujuan pembuatan pangkalan terapung dan di mana pangkalan itu akan ditempatkan nantinya.

Namun, berbagai dokumen yang diperoleh The Post mengindikasikan pangkalan terapung ini akan ditempatkan di Teluk Persia yang saat ini sedang tegang setelah Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz, pintu keluar masuk satu-satunya menuju kawasan perairan yang sibuk dengan pelayaran minyak itu.

AS saat ini sudah memiliki pangkalan militer Armada Kelima US Navy di Bahrain dan menempatkan sedikitnya dua gugus tempur kapal induk di sekitar perairan strategis tersebut. Namun, keberadaan sebuah pangkalan terapung akan meningkatkan mobilitas operasi komando rahasia.

Kapal yang diduga akan direnovasi menjadi pangkalan terapung garis depan (afloat forward staging base) ini adalah kapal USS Ponce (LPD-15) setelah Komando Lintas Laut Militer US Navy mengumumkan penawaran tender untuk pekerjaan meretrofit kapal yang sudah berusia 41 tahun itu.

Padahal, hingga Desember lalu, Pentagon masih berketetapan akan memensiunkan kapal itu pada bulan Maret mendatang. Kapal sepanjang 173 meter itu masih dilibatkan dalam operasi tempur di Libya, pertengahan tahun lalu, sebelum dipulangkan ke pangkalannya di pantai Virginia, AS.

Pentagon terkesan sangat mendesak proses retrofit ini segera diselesaikan. Lowongan tender itu ditutup tanggal 3 Februari dan pekerjaan dijadwalkan sudah bisa dimulai 10 hari setelah itu. Pangkalan terapung ini diharapkan sudah bisa dikirim ke Timur Tengah pada awal musim panas tahun ini, yakni sekitar bulan Juni.

Kafka mengatakan, pangkalan terapung ini ditujukan untuk mendukung operasi kapal-kapal penyapu ranjau, kapal patroli kecil, dan pesawat. Dalam spesifikasi aslinya, USS Ponce selain bisa mengangkut beberapa perahu pendarat pasukan, juga bisa mengakomodasi dua helikopter sekelas CH-53 Sea Stallion atau CH-46 Sea Knight, atau empat heli UH-1/AH-1, atau dua pesawat AV-8B Harrier.

Seiring dengan pemotongan anggaran pertahanan besar-besaran dalam 10 tahun ke depan, pemerintahan Presiden Barack Obama memang menginginkan militer AS lebih fokus pada pengembangan kekuatan tempur yang lebih kecil, tetapi lebih lincah dan efektif menjalankan berbagai misi. Operasi pasukan komando, yang terbukti efektif dalam perang di Irak dan Afganistan, menjadi salah satu pilihan pengembangan militer AS ke depan. 

Sumber : Kompas

Thursday, 26 January 2012

Pastikan Pembelian Alutsista, Dubes Rusia Temui DPR

JAKARTA-(IDB) : Duta Besar Rusia untuk Indonesia mempertanyakan Kredit Ekspor (KE) US$ satu miliar yang diberikan Pemerintah Rusia kepada Indonesia, ketika bertemu dengan Komisi I DPR RI.  yang seharusnya digunakan untuk membeli berbagai peralatan militer dari negara Beruang Merah tersebut. Padahal sudah ada penandatangan Menteri Keuangan Indonesia dengan Rusia.

“Rusia mempertanyakan mengapa Indonesia tidak melanjutkan pembelian peralatan militer dari Rusia, Ini preseden buruk bagi Indonesia” Kata Lili Wahid yang mengaku, jika Komisi I baru tahu ada masalah seperti itu.

Kepada itoday, adik Alm. Gus Dur ini juga mengatakan, Komisi I akan meminta keterangan dari pemerintah, dalam hal ini kementerian pertahanan. Dan Komisi I juga akan memberitahukan ke komisi yang berhubungan dengan kementerian keuangan.

Kerjasama pertahanan antara Rusia-Indonesia menghangat kembali sejak Pemerintahan Megawati, yang membeli berbagai peralatan militer dari Rusia. Sejak saat itu, Rusia semakin intensif berhubungan dengan Indonesia dengan memberikan KE untuk mempermudah Indonesia mendapatkan peralatan militer negara Beruang Merah tersebut.

Indonesia sendiri berencana akan menambah lagi armada Sukhoinya, dengan memesan pesawat tempur sejenis dengan nilai kontrak sebesar US$ 200 juta.

Sumber : Itoday

 
Dubes AS Bertemu Komisi I DPR RI

JAKARTA-(IDB) : Selain dengan Dubes Rusia untuk Indonesia, siang tadi Komisi I DPR RI juga bertemu dengan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia.

Kepada itoday, anggota Komisi I DPR RI, Lili Wahid mengatakan, kedatangan Dubes AS ke Komisi I hanya untuk memberitahukan, AS akan merampingkan angkatan bersenjatanya, dan menaruh perhatian terhadap perkembangan Indonesia dalam skala hubungan bilateral kedua negara.

Namun Lili tidak menjelaskan lebih lanjut, mengenai hal apa yang akan diperhatikan Pemerintah AS dalam rangka hubungan dua negara. Hal ini menjadi pertanyaan besar, sebab AS memiliki banyak kepentingan di Indonesia, salah satunya masalah Freeport dan HAM di Papua.

Sejak AS diterpa krisis ekonomi, Pemerintah AS memang berencana untuk melakukan efisiensi di segala ini, termasuk militernya. Salah satunya dengan merampingkan jenis Alutsista yang digunakan angkatan bersenjatanya.

Sumber : Itoday

Sunday, 22 January 2012

Ketegangan Meningkat, Jenderal AS ke Israel

JERUSALEM-(IDB) : Pejabat penting militer AS memulai serangkaian pertemuan tingkat tinggi dengan para pemimpin Israel, Jumat (20/1/2012), di tengah kekhawatiran internasional yang meningkat bahwa Israel bisa bertindak sendiri untuk menggagalkan program nuklir Iran.

Dalam lawatan pertamanya ke Israel sejak ditunjuk sebagai Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Martin Dempsey, tampil untuk meredakan perbedaan kebijakan antara kedua negara itu dan mengukuhkan kerja sama AS - Israel. Dalam pertemuan dengan mitranya dari Israel, Letnan Jenderal Benny Gantz, Dempsey mengatakan, kunjungannya mencerminkan "komitmen yang kami miliki terhadap satu sama lain, dan saya di sini untuk meyakinkan Anda bahwa itulah yang terjadi."

Gantz menyuarakan kembali pentingnya kerja sama antara kedua negara, tapi juga menyinggung adanya perbedaan dalam pendekatan kebijakan. "Saya tahu bahwa kedua negara kami punya minat yang sama, nilai yang sama, dan saya yakin, bagaimanapun juga, kami dapat mengerjakan itu secara bersama-sama," kata Gantz kepada Dempsey.

Dalam sebuah pertemuan setelah itu, Dempsey diberitahu Presiden Israel Shimon Peres bahwa Israel percaya pada militer Amerika Serikat dan "bahwa bahkan saat ini dalam situasi yang sangat rumit kita bisa menemukan kesamaan."

Kunjungan Dempsey, yang para pejabat dari kedua belah pihak hanya menggambarkan sebagai sebuah kesempatan untuk membahas masalah keamanan regional, terjadi saat ketegangan terkait program nuklir Iran terus meningkat. Pemerintahan Obama telah mendorong para sekutu untuk menandatangani sejumlah sanksi yang menyasar industri minyak dan bank sentral Republik Islam itu. Sementara para pemimpin Iran telah mengeluarkan ancaman untuk menutup Selat Hormuz, titik transit penting bagi seperlima dari penyaluran minyak dunia. AS telah memperingatkan Iran terkait ancaman tersebut.

Para pejabat di Washington berharap, pengetatan jerat sanksi akan memaksa Iran meninggalkan apa yang Gedung Putih yakin sebagai upaya Iran untuk memproduksi senjata nuklir. Iran telah membantah bahwa pihaknya mengupayakan senjata nuklir. Negara itu menegaskan, program nuklirnya murni untuk tujuan sipil.

Kunjungan Dempsey ke Israel saat ini secara luas dipandang sebagai upaya AS untuk meyakinkan Israel agar biarkan dulu sanksi-sanksi itu diterapkan dan untuk mencegah setiap tindakan militer sepihak Israel terhadap Iran. Meski Pemerintah Israel menyambut langkah nonmiliter yang lebih keras terhadap Iran, sejumlah pejabat Israel telah mempertanyakan efektivitas penerapan sanksi tersebut.

Hari Minggu lalu Wakil Perdana Menteri Israel, Moshe Ya'alon, mengatakan kepada radio Israel, "Di pemerintahan AS ada keraguan karena takut harga minyak naik tahun ini." Menurut Ya'alon, keraguan itu terkait dengan penyelenggaraan pemilu di AS tahun ini. Menurut dia, hal itu merupakan sesuatu yang "mengecewakan" Israel. 

Sumber : Kompas

Kapal Perang Inggris Prancis Bergabung Dengan Armada Amerika di Selat Hormuz

JAKARTA-(IDB) : Kapal-kapal Inggris dan Prancis bergabung dengan kelompok kapal induk AS dalam armada enam kapal perang yang melewati perairan sensitif Selat Hormuz, kata Departemen Pertahanan Inggris Minggu.

Kementerian itu mengatakan, satu kapal Angkatan Laut Kerajaan, HMS Argyll, merupakan bagian dari kelompok kapal induk yang dipimpin

Amerika Serikat berlayar melalui Selat Hormuz, di mana Iran telah mengancam untuk menutup setelah tindakan Barat menjatuhkan sanksi-sanksi baru atas program nuklir Teheran.

Seorang juru bicara mengatakan: "HMS Argyll dan satu kapal Prancis bergabung dengan kelompok kapal induk AS transit melalui Selat Hormuz, untuk menggarisbawahi komitmen internasional tak tergoyahkan mereka dalam mempertahankan hak-hak berdasarkan hukum internasional."

Ia mengatakan Inggris mempertahankan "kehadiran terus -menerus di wilayah itu sebagai bagian dari kontribusi abadi kita untuk keamanan Teluk".

Kapal perang Inggris telah berpatroli di Teluk terus menerus sejak tahun 1980-an.

Selat Hormuz adalah rute transit utama untuk pasokan minyak global.

Para menteri luar negeri Uni Eropa bertemu di Brussels pada Senin yang diperkirakan setuju terhadap pemberian sanksi kepada Bank Sentral Iran dan mengumumkan embargo pembelian minyak Iran.

Amerika Serikat, Prancis, Inggris dan Jerman menuduh Iran berusaha membangun bom nuklir, namun Teheran berkali-kali menegaskan bahwa program nuklirnya untuk kepentingan damai.

Sumber : Antara

Kapal Induk AS Menuju Perairan Iran

TELUK PERSIA-(IDB) : Kapal induk USS Abraham Lincoln tiba di Laut Arab, Kamis (19/1/2012), kata para pejabat Angkatan Laut AS. CNN melaporkan, kedatangan kapal itu bisa menjadi permulaan untuk menguji peringatan Iran baru-baru ini terhadap pengiriman sebuah kapal induk AS ke kawasan Teluk melalui Selat Hormuz.

Lincoln bergabung dengan USS Carl Vinson yang sudah lebih dulu berada di wilayah tersebut. Dengan begitu Angkatan Laut AS kini kembali pakem operasinya, yaitu menempatkan dua kapal induk di sana. Kapal induk USS John Stennis meninggalkan kawasan itu beberapa waktu lalu dan sekarang dalam perjalanan pulang melalui Pasifik Barat.

Lincoln merupakan kapal induk AS pertama yang berlayar kembali ke Teluk Persia melalui Selat Hormuz sejak ketegangan dengan Iran meningkat. Para pejabat militer AS mengatakan kepada CNN, AS akan melanjutkan komitmen jangka panjang militernya untuk menempatkan sebuah kapal induk di Teluk, tetapi tidak akan mengatakan kapan kapal itu melintasi Selat Hormuz terkait masalah keamanan dengan Iran.

Beberapa minggu lalu, saat Stennis meninggalkan Teluk, para pejabat Iran memperingatkan AS untuk tidak mengirimkan sebuah kapal induk lain. Dalam beberapa tahun terakhir, AS telah menempatkan satu kapal induk di Teluk dan satu di Laut Arab Utara untuk jangka waktu yang lama.

Menteri Pertahanan AS, Leon Panetta, mengatakan, kehadiran angkatan laut dan militer AS di wilayah tersebut tidak akan berubah dan tingkat kehadiran saat ini dinilai cukup untuk menangani setiap situasi yang mungkin timbul.

"Kami selalu mempertahankan kehadiran yang sangat kuat di daerah itu," kata Panetta, Rabu. "Kami punya armada Angkatan Laut yang terletak di sana. Kami memiliki kehadiran militer di wilayah itu. Dan ... kami secara terus-menerus mempertahankan kehadiran yang kuat di kawasan tersebut untuk membuat jelas bahwa kami akan melakukan segala kemungkinan demi membantu mengamankan perdamaian di belahan dunia itu."

Seorang pejabat senior AS mengakui, Pentagon terus melihat Angkatan Laut Iran yang dikontrol Korps Garda Revolusi Iran di Teluk Persia sebagai yang lebih agresif ketimbang angkatan laut biasa. 

Sumber : Kompas


Kapal Induk AS Lewati Selat Hormuz
 
WASHINGTON-(IDB) : Kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, berhasil melewati Selat Hormuz dan saat ini berada di Teluk, kata markas besar pertahanan militer AS, Pentagon, Minggu (22/1/2012). Kapal induk itu melewati selat Hormuz, setelah Teheran mengeluarkan ancaman menutup rute pelayaran strategis itu.

"Kapal induk AS, USS Abraham Lincoln, menyelesaikan misi regular dan perjalanan rutin Selat Hormuz untuk melakukan operasi keamanan militer sesuai jadwal yang ditentukan," ujar juru bicara Pentagon, Kapten Angkatan Laut John Kirby, dalam surat elektroniknya seperti dikutip kantor berita AFP.

Kapal induk itu, yang bisa membawa 80 pesawat terbang dan helikopter itu dikawal kapal pembawa rudal USS Cape St George dan dua kapal perusak.
 

Sebelumnya, menteri pertahanan Inggris mengatakan kapal perang Inggris dan Prancis telah bergabung dengan kapal induk untuk berlayar melewati jalur laut itu. Kapal-kapal sekutu sering berpartisipasi dalam latihan angkatan laut AS dan terkadang merupakan bagian armada angkatan laut.

Kehadiran kapal Inggris dan Prancis seakan membawa pesan kepada Teheran tentang keputusan Barat yang menginginkan rute pelayaran itu tetap terbuka. "HMS Argyl (kapal Inggris, red) dan kapal Prancis bergabung dengan kapal induk Amerika melanjutkan perjalanan melewati Selat Hormuz. Hal ini juga untuk menggarisbawahi komitmen internasional tidak akan tergoyahkan untuk terus menjaga hak-hak perlintasan di bawah hukum internasional," kata seorang juru bicara dari Kementerian Pertahanan Inggris.

Dia mengatakan Inggris mempertahankan kehadiran di kawasan itu untuk menjaga kemanan kawasan Teluk itu.

Militer Iran dan pimpinan politik mengancam akan menutup selat yang menjadi rute utama pelayaran distribusi minyak global itu. Ancaman itu direalisasikan jika Barat meningkatkan sanksi dugaan pengayaan nuklir dengan mengembargo ekspor minyak Iran. Angkatan Laut Iran juga melontarkan peringatannya, mereka akan bertindak jika AS mencoba untuk menempatkan satu dari kapal induknya di jalur itu.

Menteri Pertahanan AS, Leon Paneeta, berulang kali mengatakan penutupan selat sama halnya dengan tindakan berbahaya. Saat ini dua dari 11 kapal induk AS berada di kawasan itu.

Menteri Luar Negeri Iran, Ali Akbar Salehi, mencoba mengurangi ketegangan dengan mengatakan Teheran tidak pernah mencoba untuk menutup selat itu. "Kami menginginkan perdamaian dan stabilitas di kawasan ini," kata Ali Akbar Salehi.

Pertemuan menteri luar negeri Uni Eropa di Brussel, yang akan dilakukan pada Senin (23/1/2012), mengharapkan persetujuan sanksi Bank Sentral Iran dan mengumumkan embargo pembelian minyak Iran.

Amerika Serikat, Prancis, Inggris dan Jerman menuding Iran memproduksi bom nuklir, namun Teheran membantah mengatakan nuklir itu digunakan untuk perdamaian. 

Sumber : Kompas

Tuesday, 17 January 2012

Ketika AS Tinggalkan Israel Sendirian

TEHRAN-(IDB) : Kekhawatiran Washington atas pembalasan Tehran terkait kematian ahli nuklirnya baru-baru membuktikan kegagalan AS dalam menaklukkan Iran. Di tengah kondisi terdesak saat ini, Gedung Putih membiarkan Tel Aviv sendirian dengan ambisi haus perangnya yang meledak-ledak tanpa kontrol. Imbasnya, kedua negara sekutu itu membatalkan manuver militer bersama yang rencananya digelar bulan Januari ini.

Meski belum diketahui secara detil seberapa besar tensi ketegangan antara Washington dan Tel Aviv  yang terjadi saat ini terkait masalah Iran, namun yang jelas AS tidak bersedia mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendanai petualangan berbahaya Israel yang gila perang itu. Tentu saja, Gedung Putih menolak mengorbankan kepentingan nasional AS yang saat ini dilanda krisis ekonomi yang semakin akut.


Indikasi friksi antara AS dan Israel terbaca dari sikap berlepas diri Washington atas teror Mostafa Ahmadi Roshan, Deputi Ekonomi Instalasi Nuklir Natanz. Obama terang-terangan mengelak dari keterlibatan teror berdarah itu. Sebelumnya, Washington juga bersikap dingin menyikapi aksi teror terhadap ilmuwan nuklir Iran. Namun aksi pembalasan yang dikemukakan Tehran terhadap para pelaku aksi teror itu memicu kekhawatiran Gedung Putih melebihi sebelumnya. Kekhawatiran itu semakin memuncak dengan menguatnya ancaman penutupan Selat Hormuz. Dan Iran menggelar manuver militer baru-baru ini untuk membuktikan keseriusan ancamannya itu.


Admiral Jonathan W. Greenert, Panglima Angkatan Laut AS mengatakan, "Jika saya ditanya mengapa tidak bisa tidur di malam hari, saya akan jawab karena Selat Hormuz dan aktivitas di Teluk Persia." Berbagai pernyataan para pejabat teras AS hanyalah cara Washington untuk menghindar dari kemungkinan dampak buruk pembalasan Iran.


Sehari sebelum majalah Times mengarahkan telunjuknya terhadap agen-agen Mossad sebagai pelaku teror ilmuwan Iran, majalah Foreign Policy menulis sebuah laporan berjudul " Bendera Kebohongan" yang menegaskan sikap berlepas diri Dinas Intelejen AS (CIA) atas serangan teror tehadap ilmuwan Iran.


Foreign Policy menulis, "Pada periode pemerintahan Presiden George W Bush, agen Mossad dengan mengusung bendera kebohongan atas nama CIA mengorganisir aksi teror Jundullah untuk melakukan operasi spionase dan teror di Iran pada tahun 2007-2008."


Berdasarkan laporan tersebut, mata-mata Mossad yang mengatasnamakan agen CIA mengadakan pertemuan dengan milisi Jundullah yang biasanya dilakukan di kota London dan sekitarnya. Majalah terkemuka AS itu mengungkapkan bahwa agen Mossad menggunakan paspor AS dan mata uang negeri Paman Sam itu.


Salah seorang pejabat intelejen AS kepada Foreign Policy mengungkapkan rasa herannya atas sepak terjang Israel yang melakukan tindakan apapun demi mewujudkan ambisinya. Seorang pejabat CIA mengakui bahwa AS menggandeng Israel untuk mengorek informasi rahasia dari Iran, namun Washington tidak terlibat dalam berbagai operasi teror terhadap militer dan warga sipil Iran.


Sehari setelah terbitnya laporan Foreign Policy itu, majalah Times mengutip sumber intelejen Barat secara terang-terangan menyebut agen Mossad sebagai pelaku aksi teror terhadap ilmuwan Iran. Times menegaskan bahwa teror yang sama juga dilakukan Mossad terhadap Ahmadi Roshan.


Selain Times, kantor berita CNN mengutip statemen Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton memberitakan ketidakterlibatan AS dalam aksi teror terhadap ilmuwan Iran baru-baru ini. Tidak hanya itu, Menteri Pertahanan kepada wartawan mengelak atas keterlibatan AS dalam teror Mostafa Ahmadi Roshan.


Reuters melaporkan sikap gembira para pejabat teras militer Israel atas tewasnya ilmuwan nuklir Iran baru-baru ini. Juru Bicara Militer Israel, Yoav Mordechai di laman resmi facebooknya mengatakan, "Saya tidak tahu siapa pelaku teror ilmuwan Iran, tapi saya pasti tidak akan menumpahkan air mata."


Reuters melaporkan ledakan teror bom yang menewaskan Ahmadi Roshan terjadi sehari setelah kepala staf Israel mengatakan bahwa 2012 akan menjadi  tahun kritis bagi Iran.


"2012 akan menjadi tahun kritis berkaitan dengan kelanjutan proyek nuklir Iran, perubahan internal dalam kepemimpinan Tehran, tekanan masyarakat internasional dan berbagai hal-hal yang menimpa mereka dengan cara yang tidak wajar," kata Letnan Jenderal Benny Gantz kepada anggota parlemen dalam sambutan yang disampaikan oleh juru bicaranya.


Tampaknya aksi teror terbaru terhadap ilmuwan nuklir Iran memicu ketegangan anyar antara Tel Aviv dan Washington. Martin Indyk, Mantan Duta Besar untuk Israel dalam sebuah konferensi di Baitul Maqdis mengakui adanya friksi antara Israel dan AS mengenai masalah nuklir Iran. Pemicunya, tutur Indyk, karena AS tidak menghendaki Iran menguasai senjata nuklir, sedangkan Israel sejak awal menentang keras Iran menguasai energi nuklir damai.


Direktur kebijakan Luar Negeri The Brookings Institution itu menegaskan bahwa Washington tidak menghendaki Israel menyerang instalasi nuklir Iran. Pejabat teras AS dari Presiden Obama hingga menteri pertahanan Leon Panetta mengirimkan pesan terhadap Israel mengenai bahaya besar yang akan mengancam, jika Israel benar-benar menyerang instalasi nuklir Iran. Buntut sikap mbalelo Israel terhadap peringatan Washington menyebabkan AS membatalkan manuver militer bersama kedua negara sekutu itu.


Haaretz mengutip pejabat militer Israel melaporkan bahwa penangguhan latihan perang itu dilakukan menyusul desakan AS untuk tidak meningkatkan suhu ketegangan yang terus memuncak dengan Iran, terutama setelah Tel Aviv semakin serius mewujudkan ambisinya menyerang instalasi nuklir Iran. Koran Israel itu menyatakan manuver militer bersama antara Washington dan Tel Aviv akan digelar musim semi ini, namun segera dibatalkan dengan alasan tingginya dana yang harus digelontorkan untuk membiayai latihan peran tersebut.


Haaretz mengakui bahwa manuver militer angkatan bersenjata Iran "Velayat 90" sebagai pemicu utama dibatalkan latihan perang bersama Israel-Amerika yang disebut-sebut sebagai yang terbesar dalam kerjasama militer kedua mitra dekat itu.

Sumber : Irib

weapon military