Translate

Showing posts with label Tank. Show all posts
Showing posts with label Tank. Show all posts

Thursday, 8 March 2012

Kasad: Tawaran Leopard Jerman Lebih Menjanjikan Daripada Belanda

 " Jerman menawarkan JOINT PRODUCTION pembuatan leopard dengan menggandeng PT. PINDAD dan bila Indonesia sudah deal dengan Jerman kemudian Belanda jadi menjual leopardnya ke Indonesia kita akan beli dari keuanya", jelas KASAD

JAKARTA-(IDB) : Kepala Staf Angkatan darat (Kasad) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo menilai tawaran dari Jerman lebih menjanjikan dibandingkan Belanda mengenai rencana pembelian tank tempur utama (Main Battle Tank/MBT) Leopard 2A6.

"Tawaran Jerman cukup menjanjikan untuk mengisi kekosangan. Apalagi Belanda masih ada permasalahan dari parlemen," kata Pramono di Mabes AD, Jakarta, Kamis.

Selain dapat melakukan "transfer of technology" (TOT), Jerman juga menawarkan "joint production" untuk pembuatan beberapa bagian tank seberat 60 ton tersebut, dengan menggandeng PT Pindad.

Bahkan, lanjut dia, Jerman menantang kesiapan industri pertahanan dalam negeri. Prinsipnya dalam merawat teknologi tinggi itu perlu persiapan matang, dan membutuhkan waktu cukup lama untuk mempelajarinya.

"Ini tak bisa dalam tiga tahun kita memproduksinya. Tidak sederhana teknologinya," ucapnya seraya mengaku pihaknya berencana membeli Tank Leoprad dari Jerman.

Menurut Pramono, belum satu suaranya pemerintah Belanda dengan parlemen membuatnya harus bersikap tegas, terlebih tidak adanya perbedaan harga dengan yang ditawarkan Belanda.

Oleh karena itu, pihaknya mengusahakan agar anggaran 280 juta dolar AS mampu mendapat 100 Tank Leopard.

Namun, kalau pihaknya sudah "deal" dengan Jerman, dan pemerintah Belanda setuju menjual Leopard, maka TNI AD akan membeli dari keduanya.

"Adapun mekanisme pembelian dilakukan langsung antarpemerintah (goverment to goverment)," ujarnya.

Pramono tidak menyangkal Tank Leopard 2A6 adalah hasil "retrofit 2A4" alias pengembangan teknologi terbaru karena cetak baru teknologi Leopard serupa sudah tidak diproduksi lagi.

Ia pun yakin Tank Leopard dari negara Eropa tidak membawa konsekuensi apapun, terlebih hingga terancam bakal terkena embargo.

"Tidak ada alasan untuk mengembargo kalau kondisi Indonesia seperti sekarang," tutur Pramono.

Sumber : Antara

Tuesday, 6 March 2012

Belanda Menolak Jual, Kemhan Incar Leopard Jerman

JAKARTA-(IDB) : Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsuddin membeberkan alasan kunjungannya ke Jerman dan Prancis pada pekan lalu. Dikatakannya, kunjungan itu terkait dengan komitmen defence cooperation dan modernisasi alutsista militer. Untuk kunjungan di Jerman, katanya, Indonesia memiliki komitmen untuk bersama-sama mendukung modernisasi peralatan TNI. Salah satunya, rencana pembelian main battle tank/MBT alias tank tempur utama Leoprad 26A.

Diterangkan Sjafrie, Jerman merupakan produsen dan pengguna Leopard dan di sana terdapat 15 batalion Tank Leopard. Pihaknya bersama petinggi Mabes TNI AD mengadakan observasi untuk mengetahui keunggulan, baik secara teknis maupun taktik.  ”Ternyata Leopard itu cukup sederhana cara perawatan dan penggunaannya,” katanya di Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Selasa (6/3).

Sjafrie menekankan, proses pembelian MBT di Jerman merupakan salah satu opsi yang sedang dikaji. Dijelaskannya, Jerman mengusulkan adanya kerjasama modernisasi ini secara government to government (G to G). Artinya kaitan pembelian Leoprad tidak hanya membeli peralatannya, namun juga sistemnya. Sistem yang dimaksud, imbuhnya, pemeliharaan sampai bagaimana persiapan amunisinya.

Disebutkannya, jika proses dalam negeri telah selesai baik secara adminsitrasi maupun politik selesai maka segera pemerintah Jerman akan mendukung pengadaan MBT kepada Indonesia. “Ini yang sementara kita jajaki,” ujar Sjafrie.

Dia menjelaskan, mengapa Kemenhan beralih ke Jerman, bukan lagi ke Belanda. Menurut Sjafrie, Jerman merupakan negara original country alias produsen Leoprad. Sehingga meski Indonesia membeli peralatan Leoprad dari negara manapun maka harus tetap menggunakan ijin penjualan dari Jerman. Opsi itu, paparnya, lantaran melihat proses pembelian darimana yang lebih mudah, lancar, dan efisien.

Sumber : Republika

Thursday, 1 March 2012

Analisis : Abaikan Belanda, Masih Banyak Jalan Menuju Leopard

ANALISIS-(IDB) : Perjalanan shopping alutsista kembali dilakukan Kemhan dan Mabes TNI.  Kali ini kembali mengunjungi Jerman dan Perancis. Kafilah Kemhan dipimpin Wamenhan Syafrie Syamsoedin dan Mabes TNI dipimpin KSAD Jendral TNI Pramoni Edi Wibowo.  Di Jerman rombongan penjelajah alutsista RI itu melakukan lamaran akad nikah dengan Kemhan Jerman tanggal 27 Pebruari 2012.  Isinya berupa MOU sama dengan kesepahaman untuk menjalani pendekatan lebih intensif dalam upaya mendapatkan alutsista yang  diinginkan, misalnya MBT Leopard atau kapal selam U214.  Wamenhan RI bilang penandatanganan kerjasama itu bertujuan sebagai kerangka untuk memajukan kerja sama bilateral kedua negara berdasarkan prinsip kesetaraan, saling menguntungkan dan saling menghormati, kedua pihak.

Hal yang sama dilakukan juga di Perancis.  Di Paris Rabu tanggal 29 Pebruari 2012 dilakukan sign bidang pertahanan, bisa ditebak  maksud dan tujuan MOU itu, mendapatkan alutsista made in Perancis untuk TNI AD.  Yang menarik hanya dalam waktu 1 minggu ada 2 sign kerjasama pertahanan.  Itu merupakan jalan-jalan belanja alutsista yang istimewa sekaligus ingin meledek Belanda yang plin plan menjual tank second Leopard.  Jual beli alutsista itu mestinya pakai aturan bisnis tok atau prinsip kesetaraan.  Polanya macam-macam bisa G to G atau B to B.  Tak usah membawa-bawa issue lain yang berada di luar wilayah bisnis bilateral.  Emang lu siape, emang lu penjajah yang baik, emang lu mewariskan negara jajahan yang berkualitas, jangan sok menggurui dong.  Statemen Wamenhan di Jerman itu jelas dan tegas, prinsip saling menghormati, kesetaraan dan menguntungkan adalah landasannya.
Howitzer Caesar Perancis yang diincar TNI AD
Kita tentu masih ingat ketika seorang menteri luar negeri Belanda Pronk berjalan-jalan di kawasan miskin di Jakarta akhir tahun 80 an.  Gaya bicara dan langgam bahasa tubuhnya menunjukkan seperti dewa penolong, lalu memberikan berbagai syarat agar bantuan IGGI (Inter Government Group on Indonesia)  bisa cair waktu itu. Pak Harto tersinggung berat, tak lama kemudian IGGI dibubarkan oleh Indonesia.  Sekedar informasi IGGI didirikan tahun 1967 yang merupakan group donatur untuk pembangunan ekonomi RI lewat Repelita yang anggotanya adalah Jepang, Belanda, Inggris, AS, Italia, Perancis, Jerman, Bank Dunia, ADB  dll.  Setiap tahun group ini memberikan pinjaman rata-rata 2 milyar dollar, dan si Belanda tadi kontribusinya setiap tahun tidak lebih dari US$ 70 juta, tapi gayanya itu yang menyesakkan hati, arogan dan mendikte.  Jepang yang bantuannya paling besar low profil aja tuh.

Sekarang itu perilaku itu diperlihatkan lagi ketika kita mau order Leopard.  Belum lagi langgam Damen Schelde yang setengah hati melakukan kerjasama pembuatan kapal perang berkualifikasi PKR.  Membaca langgam dan lagu negeri dibawah laut itu kadang membuat kita gregetan sekaligus keki.  Belanda  selalu merasa sebagai bangsa kelas satu lalu menganggap bangsa ini masih berada dalam “aura” negeri jajahan dia.  Perilaku ini kontras dengan gaya sambut Kemhan Perancis dan Jerman.  Mereka say hallo dengan keakraban dan bernuansa kesetaraan, lalu tak bertele-tele, prinsip dagangnya anda jual kami beli.  Bukan, anda jual, mau kami beli lalu jangan ini jangan itu.

Diantara negeri-negeri barat yang mampu membawakan bahasa santun dalam etika pergaulan dengan Indonesia tercatat Perancis dan Jerman yang paling softly.  Spanyol dan Italia juga merupakan negara yang membawa “kesetaraan gender” dalam melihat Indonesia.  Belanda sepanjang sejarah gaulnya dengan RI tak pernah menampakkan diri dalam wajah ketulusan bersahabat.  Mungkin untuk menutupi malunya ketika dua kali tarung teritori dengan RI.  Yang pertama bertekuk lutut dengan pengakuan kedaulatan RI akhir Des 1949.  Dan yang kedua kalah terhormat dalam “final Irian Barat Cup” dan mengembalikan Irian Barat (Papua) kembali ke Indonesia akhir tahun 1962.  Mereka gentar dengan kekuatan armada perang RI waktu itu

Perilaku Inggris agak mirip-mirip dengan Belanda.  Ketika insiden St Cruz Dili Timor Leste tahun 1991 meletus,  Inggris langsung embargo senjata ke RI.  Hebatnya lagi pada waktu bersamaan sedang dilakukan penerbangan ferry pengadaan 40 jet tempur Hawk 100/200.  Beberapa jet itu ditinggalkan pilot Inggris di Bangkok Thailand.  Lalu ketika dilakukan operasi militer di Aceh tahun 2003 Inggris melarang TNI mengunakan pesawat tempur Hawk dan tank Scorpion digunakan di Aceh.  Nah saat ini negeri Rooney itu kelihatannya sedang berupaya mengambil hati pemerintah RI sehubungan dengan hampir pastinya order 3 Fregat Ragam Class dan diliriknya 1 skuadron jet tempur Typhoon.  Padahal baru dilirik loh, soalnya Typhoon baru mengalami kekalahan telak dari Rafale dalam tender jet tempur medium multi guna AU India baru-baru ini.

Pepatah lama yang mengatakan tidak ada rotan akar pun jadi, kiranya perlu disesuaikan sehubungan dengan rencana beli alutsista MBT Leopard.  Pepatahnya diubah jadi: Kalau akar jual mahal kita beli sekalian rotannya.  MBT Leopard itu kan buatan Jerman. Belanda hanya user, lha kalau user mau jual tapi banyak persyaratan mending beli ke pabriknya saja langsung.  Jerman paham dengan kita karena sejarah gaulnya dengan kita penuh dengan kehangatan apalagi ada Habibie yang menjadi perekat manisnya hubungan itu.  Oleh sebab itu kunjungan Kanselir  Jerman Angela Merkel ke Indonesia pertengahan tahun ini perlu kita sambut hangat menuju kemitraan strategis Indonesia-Jerman.  Siapa tahu U214 jadi menu utama hidangan makan malamnya.  Dalam hati siapa yang tahu, ah bisa aja si Jagvane.
 
Sumber : Analisis

Tuesday, 28 February 2012

Ada Kemungkinan Leopard 2A7 Dan Kapal Selam U-214 Masuk Dalam MoU Indonesia Jerman

BERLIN-(IDB) : Indonesia dan Jerman tandatangani Memory of Understanding (MoU) di bidang pertahanan, Senin (27/2) kemarin. Hal ini menimbulkan spekulasi apakah dengan ditandatanganinya MoU tersebut, berarti TNI mengalihkan rencana pembelian tank Leopard ke Jerman, setelah parlemen Belanda tidak mengizinkan pemerintahnya menjual Leopard 2A6 miliknya.

Menanggapi isu tersebut, kepada itoday ketika dihubungi via telepon, Selasa (28/2), pengamat pertahanan Mufti Makarim mengatakan, Informasi yang selama ini beredar sudah jelas, Jika Belanda tidak mau menjual leopardnya, maka Indonesia akan membeli dari Jerman.

Namun Mufti tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa dengan ditandatanganinya MoU kerjasama pertahanan tersebut, membuat pembelian Leopard sebagai bagian dari kerjasama tersebut, sebab belum ada informasi mengenai substansi MoU itu.





Leopard 2 A7+

U-214 Submarine Class
“Biasanya ada tiga aspek di setiap kerjasama pertahanan, pertama, terkait strategi pertahanan bersama, kedua, bicara mengenai Alutsista dan ketiga, berkaitan dengan latihan bersama,” tutur Direktur Eksekutif Institute for Defense Security and Peace Studies (IDSPS) ini.

Ketiga elemen tersebut memang sudah biasa dibicarakan dalam konteks kerjasama pertahanan yang lebih besar. Hal ini cocok dengan kabar bahwa sebenarnya Indonesia sudah menandatangani kerjasama sama pertahanan sejak 2009 lalu, dimana kerjasama itu akan dievaluasi kembali di 2012.

Indonesia sendiri sebenarnya termasuk sudah berpengalaman dalam hubungan kerjasama pertahanan dengan Jerman. Setidaknya dua periode kekuasaan berbeda di masa lalu sudah merintisnya. Pertama di masa Orde Lama, ketika Indonesia banyak mengimpor Alutsista dari Blok Timur, dimana salah satunya Jerman Timur. Kedua, di masa Orde Baru khususnya di era 90-an, dimana Indonesia membeli kapal perang eks Jerman Timur pasca unifikasi Jerman.

Melihat sejarah hubungan Indonesia-Jerman, bukan tidak mungkin salah satu klausul MoU pertahanan yang ditandatangi Indonesia-Jerman mencakup pembelian Leopard 2A7 baru buatan Jerman, bukan Leopard 2A6 bekas milik Belanda.

Atau bahkan di dalam MoU tersebut, ada rencana akuisisi kapal selam kelas U214, sebab Indonesia adalah pengguna kapal selam Jerman U209. Dan Senior Vice President HDW,Clements Steinkamps produsen kapal selam Jerman pernah menyampaikan, Jerman berharap Indonesia akan membeli setidaknya dua kapal selam U214, setelah menyatakan membeli kapal selam Chang Bo Go dari Korea Selatan yang merupakan lisensi U209-1200 buatan HDW 2010 lalu.


Wajar saja jika Steinkamps berharap seperti itu, sebab Indonesia memang sedang getol-getolnya membangun pertahanannya, salah satunya dengan menambah jumlah kapal selamnya.


Sumber : Itoday

Saturday, 25 February 2012

Generasi Teranyar Tank Leopard

JAKARTA-(IDB) : Perusahaan Krauss-Maffei Wegmann (KMW) asal Muenchen, Jerman, mengembangkan dan memproduksi tank Leopard seri terbaru yang diluncurkan pertama kali pada Juni 2010, Leopard 2 A7+. Tank ini setingkat lebih maju dan canggih daripada Leopard 2 A6 yang akan dibeli pemerintah Indonesia dari Belanda.

Leopard 2 A7+ adalah tank tempur utama berteknologi canggih yang telah teruji dan digunakan Angkatan Darat Jerman. Pada Juli 2011 pemerintah Jerman melalui Dewan Keamanan Federal telah menyetujui penjualan 200 unit Leopard 2 A7+ ke pemerintah Kerajaan Arab Saudi.

Manajer proyek Krauss-Maffei Wegmann, Kai Stollfuss, mengatakan ada dua perbedaan utama antara tank Leopard 2 A7+ dibandingkan Leopard 2 A6: sistem periskop dan sistem komputernya yang jauh lebih canggih. Leopard 2 A7+ dapat digunakan di segala medan pertempuran, mulai dari pegunungan, perbukitan, perkotaan, hingga menyeberangi sungai.

"Sama seperti Leopard 2 A6, Leopard 2 A7+ cocok digunakan di Indonesia. Tank ini terbukti andal digunakan di Afganistan yang kondisi geografisnya bergunung-gunung," ujar dia di sela pameran kedirgantaraan dan teknologi pertahanan Singapore Airshow, Jumat pekan lalu, 17 Februari 2012.

Leopard 2 A6 dilengkapi dengan meriam L55, sebuah mesin yang mampu mendeteksi ranjau dan sistem pendingin udara. Sejak Maret 2001 Angkatan Darat Jerman memperbarui tank Leopard 2 A5 mereka menjadi Leopard 2 A6. Adapun tentara Kerajaan Belanda memperbarui 180 unit tank Leopard 2 A5 menjadi Leopard 2 A6, yang mulai beroperasi sejak Februari 2003.

Leopard 2 A7+ memiliki fasilitas yang lebih lengkap daripada pendahulunya. Selain meriam Rheinmetall L55 kaliber 120 mm dan mesin pendeteksi ranjau, tank tempur yang dikembangkan untuk misi baru Angkatan Darat Jerman ini dilengkapi dengan sistem yang berfokus pada perlindungan 4 awaknya dari serangan roket, ledakan ranjau, hingga lontaran granat.

Tank jenis ini juga dilengkapi peralatan untuk membersihkan jalur dari ranjau, jebakan bom, atau puing-puing yang dapat menghalangi pergerakan. Sarana komunikasi eksternal yang lebih canggih juga dipasang pada tank tempur ini. Tak hanya itu, Leopard 2 A7+ juga dilengkapi dengan sensor panas di bagian depan dan belakang serta peningkatan kemampuan periskop untuk pengintaian jarak jauh.

Dengan berat 67,5 ton, panjang badan dan meriam 10,97 meter, lebar 4 meter, tinggi 2,64 meter, Leopard 2 A7+ memiliki mesin berkekuatan 1.500 tenaga kuda yang mampu dipacu hingga kecepatan 72 kilometer per jam. Daerah jelajahnya mencapai 450 kilometer. Tembakan meriamnya mampu menjangkau jarak hingga 6 kilometer.

Stollfuss mengatakan Krauss-Maffei Wegmann adalah satu-satunya perusahaan di Jerman yang memproduksi tank seri Leopard. Perusahaan ini awalnya mengembangkan Leopard 2 sebagai tank tempur utama pada 1979, menggantikan Leopard 1 yang diproduksi 16 tahun sebelumnya. Leopard dikembangkan menjadi beberapa seri hingga yang terbaru adalah Leopard 2 A7+.

Ada lebih dari 6.000 unit tank Leopard 1 yang diekspor ke Belgia, Denmark, Kanada, Yunani, Italia, Belanda, Norwegia, Australia, dan Turki. Sedangkan Leopard 2 digunakan militer Austria, Kanada, Denmark, Cile, Finlandia, Yunani, Jerman, Belanda, Norwegia, Portugal, Polandia, Singapura, Swiss, Turki, Swedia, dan Spanyol. Jumlah Leopard 2 seluruhnya mencapai lebih dari 3.200 unit.

Stollfuss tidak bersedia memberikan informasi harga tank Leopard yang diproduksi Krauss-Maffei Wegmann. Dia mengatakan hanya sebagai pihak yang menyediakan tank sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan negara pembeli. Soal harga tank diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah Jerman. "Karena pembelian tank ini harus G to G, dari pemerintah ke pemerintah," kata dia.

Ditanya tentang rencana pemerintah Indonesia membeli tank Leopard dari Belanda, Stollfuss mengetahui dan mengikuti pemberitaannya. Dia pula yang memberi tahu Tempo bahwa tank yang dipesan pemerintah Indonesia adalah dari seri Leopard 2 A6. Namun dia enggan berkomentar tentang rencana pembelian Leopard 2 A6 oleh pemerintah Indonesia.

Belanda berencana menjual 100 unit tank Leopard 2 A6 bekas. Pemerintah Indonesia harus merogoh kocek sebanyak US$ 280 juta untuk mendapatkan seluruh tank yang ditawarkan Belanda. Itu pun jika parlemen kedua negara, yang selama ini getol menolak rencana pembelian tersebut, berubah sikap dan menyetujuinya.

Stollfuss mengatakan, kalaupun jadi membeli Leopard 2 A6 buatan Belanda, pemerintah Indonesia disarankan memperbarui dan meningkatkan kemampuannya menjadi tank seri terbaru, yakni Leopard 2 A7+. Menurut dia, tank dengan kemampuan lebih canggih pasti akan lebih menguntungkan pemerintah Indonesia. "Tapi tentu harus ada biaya tambahan yang dikeluarkan untuk modifikasi tersebut," kata dia menandaskan. 

Sumber : Tempo

Rencana Kedepan Leopard Tidak Akan Ditempatkan Di Papua

JAKARTA-(IDB) : Untuk menjaga integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Indonesia membutuhkan tank kelas berat (main battle tank/MBT). Karenanya diperlukan modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista), salah satunya pengadaan Tank Leopard 26A. Hal tersebut dikatakan Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro di kantor Kementerian Pertahanan, Jumat (24/2).

Purnomo menjelaskan, rencananya Tank Leopard tidak akan ditempatkan di wilayah Papua. Karena kondisi geografis di Papua tidak memungkinkan untuk dilalui jenis kendaraan tempur tank kelas berat. Meski begitu, pihaknya menyatakan pembangunan batalyon tank dalam pembangunan modernisasi alutsista mendesak dilakukan TNI AD.

 “Indonesia membutuhkan MBT, karena yang dimiliki selama ini hanya Light Battle Tank alias tank ringan, seperti Scorpion dan AMX 13,” kata Purnomo dalam siaran pers yang diterima Republika.

Menurut Purnomo, Leopard 26A merupakan jenis alutsista tank yang memiliki teknologi terbaik saat ini. Walaupun tank tersebut berukuran besar, imbuhnya, namun tetap dapat melalui lokasi jalur tanpa infrastruktur, termasuk melewati sungai sedalam empat meter.

Purnomo melanjutkan, pemerintah telah mempersiapkan anggaran pengadaan 100 unit Leopard 26A, sesuai dengan kebutuhan dari TNI AD. Ini lantaran kondisi ekonomi Indonesia sedang membaik, sehingga moderinisasi TNI dimungkinkan dilakukan. “Pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5 persen yang menjadi alasan untuk memenuhi kebutuhan alutsista TNI,” kata Purnomo.

Sumber : Republika

Tuesday, 21 February 2012

Menhan: Indonesia Butuh MBT

SEMARANG-(IDB) : Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menegaskan, Indonesia membutuhkan main battle tank atau tank berat seperti Leopard yang direncanakan akan dibeli dari Belanda.
"Kami percaya, negara yang kuat harus memiliki sistem pertahanan yang kuat. Di negara maju mana pun, ketika ekonomi membaik, sistem pertahanannya pasti meningkat," kata Purnomo di Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (22/2/2012).
Sebelumnya, tank Leopard itu menuai kontroversi dan penolakan dari sejumlah kalangan, termasuk dari parleman Belanda sendiri. Sejumlah kalangan menilai Leopard tidak cocok untuk kontur geografis Indonesia.
Namun, Purnomo  menekankan, Indonesia membutuhkan tank berat, karena yang dimiliki Indonesia selama ini hanya tank ringan seperti Scorpion dan AMX 13.
Dia juga menyebutkan, Malaysia sudah memiliki tank berat yang ditempatkan di sepanjang perbatasan dengan Kalimantan. Sebagai perbandingan, tank berat seperti Leopard memiliki berat hingga 60 ton, sedangkan  light battle tank berbobot sekitar 15-20 ton.
Leopard, menurut Purnomo, walaupun berukuran besar, tetap dapat melalui lokasi tanpa infrastruktur, termasuk melalui sungai sedalam empat meter.

Sumber : Kompas

Ukraina Menawarkan Perakitan Tank Tempur Di Indonesia

JAKARTA-(IDB) : Perusahaan Ukraina berminat untuk bekerjasama dengan Indonesia dalam industri strategis, terutama dalam produksi alat utama sistem senjata untuk TNI. Untuk tahap pertama, mereka menawarkan perakitan tank tempur buatan Ukraina di Indonesia.

Minat itu diutarakan Ukrspecexport, perusahaan milik pemerintah Ukraina yang menangani ekspor dan impor produk-produk militer. "Perusahaan kami tertarik dalam mengembangkan hubungan bilateral dengan Indonesia, tidak saja dengan penjualan namun juga melalui kemitraan strategis," demikian pernyataan dari Ukrspecexport, yang diwakili direktur departemen Denys Voronkov, 21 Februari 2012.

"Produksi alat-alat perang di wilayah Indonesia jauh lebih penting bagi kami ketimbang hanya mengirim barang. Kami ingin mitra kami mendapat keuntungan yang besar dari kerjasama itu," lanjut Ukrspecexport.

Sebagai langkah awal, perusahaan itu menawarkan perakitan tank tempur utama (MBT) buatan Ukraina, yang dikenal dengan sebutan "Bulat." Perakitan itu bisa berlangsung di pabrik PT Pindad. Perakitan Tank Bulat ini bisa dikelola secara patungan antara Pindad dan Ukrspecexport.

"Kami menganggap proyek ini lebih dari sekadar alih teknologi, namun juga kerjasama bilateral dalam memproduksi tank yang dimaksud. Namun, tentu saja, bila mitra kami belum siap atas langkah itu, kami bisa memasok MBT Bulat yang diproduksi penuh di Ukraina dalam waktu dekat," demikian perwakilan dari Ukrspecexport.

Kendati tidak dirinci secara jelas, biaya tank itu relatif lebih murah dari MBT sejenis. Berbobot 45 ton, Bulat dianggap lebih ringan dari tank-tank tempur lain. Tank Bulat digunakan Angkatan Darat Ukraina pada 2004 dan sejak 2005 dibuat produk lanjutan. Saat ini Angkatan Darat Ukraina - yang merupakan pecahan Uni Soviet - mengoperasikan lebih dari 80 unit tank Bulat dan jumlahnya akan bertambah. 

Pihak Ukrspecexport menjamin jual beli tank ini tidak akan diganggu oleh kepentingan politik, sehingga Indonesia tidak perlu khawatir karena Ukraina tidak akan menerapkan ancaman embargo di kemudian hari. 

Perusahaan itu pun mengundang para petinggi TNI untuk datang ke Ukraina dan mengunjungi produksi Tank Bulat sekaligus bisa menyaksikan demonstrasi kendaraan tempur itu di Brigade Lapis Baja Ukraina.

Sumber : Vivanews

Saturday, 18 February 2012

Armata, Tank Terbaru Rusia Jadi Tahun 2013

MOSCOW-(IDB) : Rusia sedang menguji berbagai komponen utama dari proyek pengembangan tank Armata. Purwarupa tank tempur utama terbaru itu dijadwalkan rampung pada 2013 dan akan mulai diproduksi untuk Angkatan Darat Rusia dua tahun kemudian.

Demikian diungkapkan portal berita lenta.ru, yang melaporkan Menteri Pertahanan Anatoly Serdyukov dan CEO pabrik tank Uralvagonzavod Oleg Sienko telah menghadap Perdana Menteri Vladimir Putin, Jumat (17/2/2012).

Portal tersebut tidak menjelaskan lebih detail soal proyek tank baru ini. Namun, pada April 2011, mantan Deputi Pertama Kepala Direktorat Kendaraan Lapis Baja Kementerian Pertahanan Rusia Letnan Jenderal Yuri Kovalenko pernah menyatakan, Rusia akan memiliki tank baru dengan berbagai karakteristik yang sama sekali baru, sistem pengisian peluru otomatis, dan ruang awak yang terpisah, pada 2015.

Kovalenko waktu itu mengatakan, hasil pengembangan dua proyek tank tempur utama lainnya, yakni Object 195 (T-95) dan Black Eagle dari akhir 1990-an, akan dimasukkan dalam pengembangan Armata.

Selain mengembangkan tank abad ke-21 ini, Kemenhan Rusia juga telah menandatangani kontrak senilai enam miliar rubel (Rp 1,8 triliun) dengan Uralvagonzavod untuk memodernisasi 170 unit tank tempur utama T-72. Pengerjaan modernisasi itu akan dilakukan di fasilitas khusus di Omsk, Siberia barat daya.

Sumber : Kompas

Parlemen Belanda Masih Bingung Soal Penjualan Leopard Ke Indonesia

DEN HAAG-(IDB) : Pemerintah Belanda tidak menutup kemungkinan akan menjual tank Leopard tuanya ke Indonesia. Demikian pernyataan menteri Belanda Uri Rosenthal (Luar Negeri) dan Hans Hillen (Pertahanan) hari Rabu (15/02) menanggapi pertanyaan tertulis yang diajukan parlemen Belanda medio Januari lalu.

Arjan El Fassed, anggota parlemen dari Partai Kiri Hijau (Groenlinks), pertengahan Januari melayangkan pertanyaan tertulis kepada kabinet setelah laporan berbagai media, baik media Belanda maupun Indonesia, menunjukkan bahwa negosiasi mengenai kesepakatan transaksi belum dihentikan, meski telah ada himbauan dari Parlemen. Radio Nederland menanyakan komentar El Fassed akan tanggapan yang diberikan kabinet.

Anggota parlemen El Fassed kepada Radio Nederland mengatakan, parlemen belum mengambil tindakan karena belum ada kesepakatan apa-apa. Namun jika kesepakatan sampai diambil, kabinet harus tetap menginformasikannya dulu kepada parlemen. Dan saat itu akan ditinjau kembali apakah situasi hak asasi manusia masih terancam di Indonesia.

Sebelum Kementerian Pertahanan diizinkan melakukan transaksi alutsista dengan negara tertentu, mereka harus meminta rekomendasi dari Kementerian Luar Negri mengenai situasi terkini di negara tersebut. Rekomendasi tersebut lalu harus disampaikan ke Parlemen. Stempel "kondusif/tidak kondusif" dari Kemenlu sangat berperan dalam menentukan kelanjutan transaksi.

"Mayoritas anggota parlemen telah meminta pemerintah Belanda untuk tidak menjual tank Leopard ke Indonesia karena keterlibatan militer Indonesia dengan pelanggaran hak asasi manusia. Di Belanda berlaku bahwa transaksi alat utama sistem senjata (alusista) senilai di atas 2 juta Euro harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari parlemen. Yang terjadi saat ini adalah mayoritas anggota parlemen menyetujui bahwa situasi Indonesia tidak kondusif untuk membeli tank-tank kami."

Jangan Gegabah
"Indonesia dan beberapa negara lain telah menunjukkan minatnya membeli tank Leopard. Pembicaraan tertutup telah dilakukan dengan negara-negara tersebut yang dapat berujung pada kesepakatan penjualan,'' kata menteri Rosenthal dan Hillen. Jika proses telah sampai pada tahap tersebut, para menteri sebelumnya diharuskan melaporkan hal ini pada Parlemen.

"Kalau pada akhirnya kabinet Belanda memutuskan mengikat kesepakatan dengan Indonesia, tetap saja harus dilihat kemungkinan adanya pelecehan hak asasi manusia. Saat ini, sampai saat ini, kebanyakan dari kami merasa transaksi tidak boleh dilakukan. Adanya penjualan bisa diartikan sebagai sinyal yang salah dari pemerintah Belanda, jika kita melihat situasi di Papua Barat saat ini," demikian El Fassed menjelaskan kepada Radio Nederland.

Ketika ditanya apakah Belanda akhirnya tidak rugi kalau begitu saja melewatkan kemungkinan transaksi senilai 213 juta dollar yang sanggup dikeluarkan pemerintah Indonesia demi rongsokan tanknya, El Fassed mengatakan Belanda tidak boleh gegabah dan harus tetap berpegang pada peraturan yang ada.

"Yaaah, kalau mengenai masalah itu kita kembali lagi ke debat tak berujung; uang atau moral. Tapi kami (parlemen) berpegang pada ketetapan Eropa yang mengatakan dalam transaksi senjata kita harus mencermati risiko pemakaian senjata tersebut di kemudian hari."

Indonesia dinilai masih sangat kurang menghormati hak-hak asasi manusia, terutama di Papua Barat. Parlemen mengkhawatirkan Indonesia akan menggunakan tank Leopard untuk menekan rakyatnya. Apakah Indonesia sebegitu tidak dipercayanya untuk diperbolehkan membeli tank?

"Begini, keberatan bukan hanya datang dari parlemen Belanda. DPR Indonesia sendiri juga tidak seluruhnya sepaham kok. Mereka meragukan apakah tank ini cocok untuk situasi di sana. Apakah dana yang dialokasikan tidak ketinggian. Tapi itu urusannya parlemen Indonesia, bukan urusan saya", tegas anggota parlemen Belanda ini.

"Lagipula Indonesia itu terdiri dari banyak pulau. Tank semacam ini bukanlah senjata yang efektif digunakan di situasi kepulauan. Karena itu menurut kami hanya ada satu alasan mengapa mereka mau membeli tank ini; untuk digunakan di kota besar untuk memadamkan pemberontakan-pemberontakan seperti yang Anda lihat terjadi di negara-negara Arab. Kemungkinan inilah yang ingin kami cegah."

Tidak Kecolongan Lagi
Bagaimana dengan desakan untuk berhemat bagi Kementerian Pertahanan, seperti layaknya bagi semua institusi pemerintahan di Belanda?

"Ya betul. Tapi walaupun demikian transaksi tidak harus buru-buru dilakukan. Nilai pakai tank tidak akan lantas berkurang. Menurut kami langkah penghematan tidak boleh dijadikan alasan untuk begitu saja berkelit dari peraturan yang telah ditetapkan Eropa atas penjualan senjata," lanjut El Fassed.

Menurutnya Belanda harus lebih berhati-hati agar tidak dipermalukan lagi seperti yang terjadi tempo hari di Bahrain dan Mesir, juga Libya. Melalui layar televisi kita melihat tank-tank Belanda digunakan untuk menghalau para demonstran. Saat itu Den haag kecolongan karena mereka tidak menyelidiki perihal ini dengan cermat. Demikian Arjan El Fassed kepada Radio Nederland. 

Sumber : Kompas

Thursday, 16 February 2012

Pembelian Tank Leopard Jalan Terus

BATAM-(IDB) : Pemerintah menyatakan proses pembahasan pembelian tank Leopard dari Belanda tetap berjalan. Perbincangan dengan pemerintah Belanda masih dalam proses.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, pembelian itu adalah proses antara pemerintah dan pemerintah. "Saya katakan ini on going proccess," ujarnya, Kamis (16/2/2012) di Batam, Kepulauan Riau.

Namun, Purnomo tidak menjelaskan lebih lanjut sejauh apa proses itu berjalan. Ia juga tidak menjelaskan penolakan parlemen Belanda atas rencana penjualan itu.

Belanda berencana menjual 119 tank Leopard bekas. Jika transaksi tuntas, Belanda akan mendapatkan 280 juta dolar AS dari Indonesia.

Namun, rencana itu dihadang baik di Belanda maupun di Indonesia. Parlemen Belandan dan Indonesia cenderung menolak rencana itu dengan beragam alasan. 

Sumber : Kompas

Wednesday, 15 February 2012

Pembelian Tank Leopard Diharapkan Terealisasi Sebelum 2014

JAKARTA-(IDB) : Meski dikritik sejumlah kalangan, rencana pembelian 100 Tank Laeopard Belanda tetap dilanjutkan. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo bahkan berharap pembelian 100 unit Tank Leopard tersebut dapat selesai sebelum 2014.
 
"Sampai sekarang masih tahap penjajakan dan belum berhenti. Tim yang kami bentuk masih membahasnya dan diharapkan sebelum 2014 sudah selesai," ujar Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo kepada wartawan di Surabaya, Rabu (15/2).

Ia mengaku, tim yang dipimpin Wakil KSAD Letjen TNI Budiman dalam rangka melihat dan mengadakan perkembangan negosiasi lanjutan. Hingga kini belum ada perubahan berarti dan masih menjadi tarik ulur di parlemen Belanda.

"Sekali lagi saya tegaskan, kalau Belanda menjual kami beli, tapi kalau tidak kami pergi. Tunggu saja perkembangan berikutnya," kata mantan Pangkostrad tersebut.

Pihaknya juga mengatakan saat ini Jerman juga sedang menjajaki dan menawari Indonesia. Menurut Pramono, tank buatan Jerman menjadi alternatif jika target awal tidak kesampaian.

"Memang ada tawaran dari Jerman. Hanya saja kami belum bersikap, tapi itu bisa dijadikan alternatif. Yang pasti sebelum 2014 sudah harus selesai," tutur mantan Danjen Kopassus tersebut.

Jika pembelian Tank Leopard yang alokasi anggarannya mencapai 280 Juta US Dollar berjalan mulus, diharapkan bisa menjadi prestasi serta menaikkan wibawa bangsa.

Sementara itu, alokasi anggaran dari pemerintah Indonesia untuk modernisasi peralatan TNI AD sebesar Rp14 triliun. Dana tersebut digunakan untuk sejumlah alat utama sistem senjata (alutsista) lainnya.

"Diantaranya pengadaan tambahan helikopter, PT Pindad yang menyiapkan anoa atau panser, serta alutsista lainnya. Bahkan Leopard ini hanya bagian kecil saja kok," tukas jenderal yang juga pernah menjabat Pangdam Siliwangi tersebut.

Khusus tahun ini, direncanakan pembelian meriam, rudal anti pesawat, peluncur roket multiras dan lainnya. Apalagi sekarang Indonesia masih tertinggal jauh daripada negeri lain seperti Malaysia maupun Thailand.

Sumber : Republika

Tuesday, 14 February 2012

DPR Setuju Pembelian Tank Leopard, Tapi Dengan 3 Syarat

JAKARTA-(IDB) : Komisi I DPR menyatakan tidak menolak niat pemerintah untuk melakukan pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) jenis tank. Namun, khusus untuk pengadaan tank jenis Leopard dari Belanda,Komisi I DPR mengajukan syarat tiga klausul.

Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq menyatakan, Komisi I DPR kemungkinan besar tidak akan menyetujui anggaran untuk pembelian tank Leopard bekas dari Belanda jika Kementerian Pertahanan (Kemenhan) dan TNI tidak bisa memenuhi klausul utama tersebut. Klausul itu adalah secara teknisIndonesiamembutuhkan tank jenis tempur berat itu dan ada jaminan tidak akan ada embargo pemeliharaan dan suku cadang di masa mendatang.


Klausul selanjutnya, ada alih teknologi (transfer of technology) dalam pembelian tank Leopard tersebut.“Jika memang Mabes TNI tetap meminta Leopard bekas itu,Komisi I DPR harus diyakinkan secara teknis dan politis. Jika hal itu tidak dipenuhi oleh tim negosiasi Mabes TNI, lebih baik membeli yang baru kendati jumlahnya menjadi separuhnya,”ungkap Mahfudz di Jakarta kemarin.


Mahfudz menduga,Kemenhan dan Mabes TNI akan matimatian berusaha untuk melancarkan rencana pembelian tank Leopard itu,termasuk melancarkan klausul yang diinginkan Komisi I DPR. Langkah ini dilakukan agar tidak ada benturan di kemudian hari. Karena itu,Kemenhan dan TNI harus menjajaki semuanya. “Semua klausul tersebut harus dipenuhi mengingat belanja alutsista setiap tahun selalu menelan anggaran negara yang besar,”tandasnya.


Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddinmengaku, tawaran tank Leopard sebenarnya bukan hanya dari Pemerintah Belanda, melainkan juga dari pemerintah Jerman. “Tawaran Belanda adalah tank bekas yang jika jadi dibeli oleh Indonesia akan di upgrade kemampuannya,” ungkap Sjafrie. Sedangkan Leopard yang ditawarkan Jerman, ujarnya, adalah refurbishment. Artinya bukan tank bekas yang akan dibeli sebab Leopard asal Jerman ini sudah ditingkatkan lebih dulu kemampuannya.

Sumber : Sindo

Thursday, 9 February 2012

Penjualan Tank Leopard Ke Indonesia Bisa Jatuhkan Pemerintah Belanda

JAKARTA-(IDB) : Pro dan kontra rencana pembelian Tank Leopard masih bergulir. Bahkan, terus dibahas di Belanda sebagai pihak yang akan menjual armada tempur tersebut.

Wakil Ketua Komisi I dari Fraksi PDI Perjuangan TB Hasanuddin mengatakan, atas perdebatan rencana ini beberapa waktu lalu, Indonesia kedatangan salah seorang perwakilan dari parlemen Belanda dari Partai Groenlink bernama Mariko Peters.

Partai tersebut merupakan partai perwakilan parlemen yang mendukung penolakan rencana penjualan Tank Leopard ke Indonesia.

"Menurut dia (Mariko Peters) kalau nanti Pemerintah Belanda tetap memaksa menjualnya, maka akan ada mosi dari parlemen yang bisa saja akan membuat pemerintah di sana jatuh," ujar TB Hasanuddin di Gedung DPR, Kamis (9/2/2012).

Dalam pertemuan itu, lanjut dia, perwakilan parlemen Belanda juga menjelaskan bahwa penolakan rencana penjualan tersebut memiliki dasar tersendiri. Selain karena kasus pelanggaran HAM di Indonesia yang dianggap tak bisa ditoleransi, alasan mahalnya biaya perawatan tank juga menjadi pertimbangan dari parlemen Belanda.

"Oposisi Belanda menilai Tank Leopard sendiri di Belanda dianggap pemborosan dan tak sesuai dengan strategi perang modern," ungkapnya.

TB mengaku tak mengetahui mengapa alasan kedua menjadi pertimbangan yang masuk dalam penolakan penjualan Tank Leopard. Sebab, jika rencana pembelian itu berhasil, yang akan melakukan pemborosan adalah pihak Indonesia bukan Belanda.

"Saya tidak tahu, karena konon Pemerintah Belanda sedang melobi anggota parlemen Belanda dan tidak mustahil parlemen Belanda akan melobi DPR, tapi kita menolak itu, tidak ada lobi-lobi," tambahnya. 

Sumber : Inilah

Wednesday, 8 February 2012

Parlemen Belanda Secara Resmi Tolak Jual Leoprad Ke Indonesia

JAKARTA-(IDB) : Parlemen Belanda telah bersikap dan memutuskan secara resmi melarang menjual tank Leopard pada Pemerintah RI. Bahkan, Parlemen Belanda mengancam memberikan sanksi pada pemerintahannya, jika tetap nekat menjual Tank Leopard ke tentara RI.

Hal ini disampaikan Wakil Ketua Komisi I DPR RI Tubagus Hasanuddin, atas hasil pertemuan anggota Parlemen Belanda dengan anggota Komisi I DPR pada pekan kemarin.

"Jadi, pada Minggu kemarin (5/2), salah satu anggota parlemen Belanda dari Partai Groenlink bernama Mariko Peters, datang dan melakukan pertemuan dengan Komisi I DPR," tegas Tubagus Hasanuddin di Gedung DPR, Selasa (7/2).

Menurut Hasanuddin, anggota Parlemen Belanda tersebut diterima oleh anggota Komisi I Helmy Fauzi. Intinya, dalam pertemuan tersebut, anggota Parlemen Belanda tersebut menyampaikan informasi bahwa Parlemen Belanda memutuskan, melarang penjualan Tank Leopard.

"Bahkan mereka mengancam pemerintahannya sendiri, jika sampai nekat menjual Tank Leopard itu ke Indonesia," tambahnya.

Menurut Hasanuddin, berdasarkan penjelasan yang disampaikan oleh anggota parlemen Belanda tersebut, salah satu alasan Parlemen Belanda tidak menyetujui penjualan tank Leopard ke RI adalah terkait pelanggaran HAM.

"Kalau itu alasannya, jelas kita juga membantahnya,soal praktek pelanggaran HAM itu. Karena Belanda juga telah melanggar HAM berat dengan menjajah rakyat dan bangsa Indonesia selama 3,5 abad. Itu riil dan fakta,"ujarnya.

Jadi,kata Hasanuddin, dengan penjelasan yang telah disampaikan oleh anggota Parlemen Belanda tersebut, tertutup sudah pintu pembelian Tank Leopard sebagaimana direncanakan Kemenhan selama ini.

"Cukup berat Belanda menjual Leopardnya ke RI. Jadi pemerintah sudah tidak perlu lagi banyak berharap dapat memiliki Tank Leopard dari Belanda. Karena Parlemen Belanda sudah mengeluarkan larangan penjualan Leopard ke RI. Makanya, saya juga setuju dengan sikap KASAD. 'Lu jual,gua beli. Lu tidak jual, gua tidak maksa'. Itu sudah pas sikap seperti itu, saya setuju," tegasnya.

Sumber : Jurnamen

Saturday, 4 February 2012

Pembelian Alutsista Lewat Broker, Sekali Transaksi Kebocoran Anggaran Hingga Milyaran Rupiah

JAKARTA-(IDB) : Pembelian alat utama sistem senjata di Indonesia berpotensi menguntungkan segelintir orang yang lazim disebut calo atau makelar pengadaan. Jika tidak diberantas, calo akan membebani keuangan negara dan merugikan TNI sebagai pengguna.
   
"Calo itu sudah ada sejak sebelum reformasi, sekali tender untungnya bisa miliaran rupiah," ujar Direktur Eksekutif Lembaga Studi Strategi Pertahanan Indonesia Rizal Darmaputra Msi pada Jawa Pos, Sabtu (4/2).

Calo ini biasanya berupa perusahaan rekanan yang mempunyai koneksi dengan pejabat tertentu. Menurut Rizal, calo hanya mengambil satu atau dua persen dari total belanja senjata.


"Tapi peralatan yang dibeli bisa jutaan dollar satu buahnya, bisa dibayangkan berapa keuntungannya," kata alumnus IDSS Jenewa, Swiss itu.


Sebagai ilustrasi harga satu tank kelas berat sejenis Leopard seharga Rp 25 miliar per buah. Sedangkan satu pesawat intai sekelas Searcher MK II buatan Israel harganya Rp 54 miliar.


Ada beberapa modus yang biasa dipakai calo calo ini. Pertama, menggunakan sistem komisi. Yakni, mereka yang melakukan survei sekaligus mendatangkan barang sampai Indonesia.


Pejabat yang menangani tinggal terima beres saja. "Komisi ini diambil dari nilai tender totalnya," katanya.

   
Modus kedua, melakukan mark up harga. Jika ternyata deal, maka senjata yang dibeli bisa tiga kali lipat lebih mahal dari harga aslinya. "Mereka ini diuntungkan dari selisih harga itu," kata Rizal.
   
Untuk memuluskan rencananya, para calo tak segan segan memberi servis ekstra untuk para pejabat yang terlibat dalam jual beli senjata. "Misalnya mengantar ke pabrikan di luar negeri secara gratis, tentu tidak lupa ada uang saku juga," kata peneliti yang beberapa kali melakukan riset ke Afghanistan ini.
     
Namun, Rizal mengaku tidak tahu persis apakah sistem percaloan itu masih ada dalam pengadaan senjata saat ini. "Itu praktik di masa lalu, mudah-mudahan saja sudah tidak ada lagi, yang rugi TNI dan juga keuangan negara hilang sia sia," katanya.
   
Presiden SBY juga menaruh perhatian khusus soal mafia alutsista ini. Dalam rapat kabinet bidang pertahanan Kamis (02/02) lalu SBY secara khusus meminta agar tidak ada lagi praktik mark up dalam pengadaan alutsista.
    
SBY mengingatkan juga agar praktik kongkalikong dalam pengadaan alutsista yang bisa merugikan negara bisa dihindari. "Jangan ada mark up, jangan ada lobi sana lobi sini, menggalang sana menggalang sini, akhirnya harganya menjadi berlebihan dan negara dirugikan," kata SBY saat itu.

Dalam paparan di depan DPR sehari sebelumnya, KSAD Pramono Edhi Wibowo secara tegas akan membasmi sistem percaloan dan mark up. Ipar SBY ini menegaskan sistem pembelian senjata berlangsung G to G (government to government) dan tidak menggunakan jasa perantara.


Saat ini yang menjadi kontroversi soal pengadaan senjata adalah rencana pembelian tank Leopard dari Belanda dan pesawat intai tanpa awak dari Filipina yang dibuat oleh Israel.


Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Brigjen Hartind Asrin menegaskan sistem calo sudah tidak ada lagi dalam pengadaan senjata di lingkungan TNI. "Semuanya dibahas oleh lembaga yang disebut clearing house yang dipimpin langsung oleh Wakil Menteri Pertahanan," katanya.


Dengan begitu, tidak ada ruang bagi calo untuk beroperasi. "Ada rapat yang juga dihadiri wakil kepala staf tiga angkatan. Nanti dilihat secara teknis spesifikasinya dan kesesuaian dengan pagu anggaran yang ada," katanya

Sumber : JPNN

Friday, 3 February 2012

Tarik Ulur Penjualan Tank Leopard Belanda Ke Indonesia

DEN HAAG-(IDB) : Pemerintah Belanda sudah kebelet ingin menjual alat utama sistem pertahanan (alutsista) tua mereka. Cuma, begitu ada negara yang bereaksi dan berniat membeli tank-tank, parlemen menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Begitu bunyi kalimat pembuka di harian De Pers, Rabu (01/02), seperti dikutip Radio Nederland, Kamis.

Debu dan pasir beterbangan di sekitar tank tempur Leopard A26. Demikian foto yang terlihat di brosur kementerian pertahanan. Kabinet Mark Rutte ingin menambah kas negara dari penjualan 119 tank tipe tersebut. Calon pembeli sudah bermunculan, tetapi perkaranya tidak sesederhana itu. Lihat saja kasus Indonesia. Perdebatan seru mengenai penjualan mencuat, baik di negara pemakan keju maupun di negara dengan 245 juta penduduk.

Parlemen Belanda ingin tahu apa rencana Indonesia, negara kepulauan yang memiliki ratusan hektar hutan, terhadap satu tank yang beratnya setara dengan lima puluh mobil Golfs Volkswagen. Lebih-lebih anggota parlemen khawatir dengan isu hak asasi manusia, misalnya dengan rakyat Papua. Akhir tahun lalu 12 orang tewas dan ratusan orang ditangkap ketika unjuk rasa di sana pecah.

Menurut organisasi hak-hak asasi manusia, ada demonstran yang bahkan harus mendekam 20 tahun di tahanan dengan dalih mengacu pada undang-undang lama warisan Belanda kolonial. Bagi Partai Sosialis (SP), Partai Buruh (PvdA), Partai Kiri Hijau (GroenLinks), dan Partai Kristen Sosial Konservatif (ChristenUnie), ini sudah cukup menjadi alasan untuk urung melepaskan tank Belanda ke Indonesia. Alasan Partai Kebebasan (PVV) lain lagi. Penduduknya yang 86 persen Muslim menjadi alasan keberatan bagi mereka.

Dipermalukan

Namun, ke mana rongsokan Belanda ini harus dijual, tulis De Pers. Selama bertahun-tahun, Belanda tidak pernah keberatan memasok tank ke Arab Saudi dan kendaraan lapis baja ke Mesir dan Bahrain, tetapi sekarang banyak anggota parlemen yang keberatan. Bahkan, untuk melepaskannya ke negara seperti Yaman dan Turkmenistan, mereka masih harus pikir-pikir dulu.

Ini tidak terlalu mengejutkan. Pada 14 Februari tahun lalu, Belanda sontak dipermalukan ketika tayangan televisi mengenai pemberontakan Musim Semi Arab memperlihatkan lewatnya kendaraan perang yang dicurigai mirip dengan alat perang tua Belanda.

Dalam tanggapan terhadap pertanyaan anggota parlemen dari GroenLinks, Arjan El Fassed, Menteri Luar Negri Uri Rosenthal akhirnya harus mengakui bahwa Belanda lebih dari sekali melepaskan surplus pertahanannya ke Bahrain. "Ini termasuk kendaraan lapis baja (panser) 35 M-113 dan 25 YPR," kata menteri dari Partai Liberal Konservatif (VVD) itu.

"Juga di Mesir, pada insiden Maspero bulan Oktober, di mana 27 korban tewas, banyak panser yang digunakan," kata anggota dewan Joël Voordewind dari ChristenUnie. "Besar kemungkinan panser-panser bekas kami juga ada di antaranya."

Belanda rupanya pemasok besar kendaraan lapis baja. Hanya ke Mesir saja, antara tahun 1996 dan 2006 sudah lebih dari seribu panser yang terjual. Bahrain dan Mesir bersama-sama menyumbang kas negara Belanda sejumlah 200 juta euro.

Sekarang Indonesia juga berani membayar jumlah yang sama untuk tank-tank Leopard A26. Jumlah yang sulit ditampik oleh Menteri Pertahanan Hans Hillen, padahal kementeriannya harus menghemat 1 miliar euro. Untuk jumlah setinggi ini, menteri dari CDA itu rela mengesampingkan sebentar "moralitasnya".

Anggota dewan Martijn van Dam asal PvdA, yang sebelumnya gagal menghentikan rencana pengiriman tank ke Mesir berkomentar: "Negara yang sudah jelas-jelas ingin membeli tank malah dilarang. Lihat, dong, negara-negara yang telah kita pasok sebelumnya, sebanyak apa demokrasi terjadi di sana?" Demikian De Pers.

Sumber : Kompas

Thursday, 2 February 2012

Jangan Skeptis Soal Tank Leopard

JAKARTA-(IDB) : Belum final rencana pembelian 100 tank 2A6 Leopard buatan Jerman dari Angkatan Darat Kerajaan Belanda. Rektor Universitas Pertahanan, Letjen TNI Syarifudin Tippe, mengajak masyarakat jangan skeptis melihat permasalahan tentang itu.

TNI-AD memerlukan main battle tank (MBT) Leopard 2A6 karena tank bekas asal Belanda itu memiliki teknologi canggih. "Tank ini bisa menjangkau sasaran secara presisi. Kita perlu tank ini, untuk mengembangkannya di masa depan," katanya, di Jakarta, Kamis.

Rencana pembelian 100 unit tank Leopard dari pemerintah Belanda merupakan keputusan yang tepat.

Di sisi lain, Tippe yang berasal dari korps infantri bisa menerima pendapat bahwa Leopard dengan bobot kosongnya yang 62 ton tidak pas dengan keadaan infrastruktur dan topografi Tanah Air.

Menurut dia, Leopard didesain bisa beroperasi di segala medan, sehingga cara melihatnya harus diproyeksikan menghadapi medan peperangan dan tidak semata mempermasalahkan penempatannya di Jakarta dan Surabaya.

"Kita jangan spektis melihat permasalahan. Tank ini bisa di segala medan dan tidak masalah digunakan seperti tank dalam Perang Dunia Kedua," ujar Syarifudin.

Sebelumnya, Kepala Staf TNI-AD, Jenderal TNI Pramono E Wibowo, menegaskan, rencana pembelian 100 unit Leopard masih dalam perundingan. "Kami ini sedang mencari yang sesuai dengan permintaan prajurit di lapangan serta anggaran yang tersedia, " kata Wibowo, di sela Rapat Pimpinan TNI Angkatan Darat 2012.

KSAD juga mengatakan telah meminta maaf kepada Dewan Perwakilan Rakyat karena komunikasi yang kurang berjalan dengan baik antara TNI AD dan badan legislatif. Dana dari pemerintah untuk meremajakan arsenal militer Indonesia sebanyak Rp14 triliun.

Sumber : Antara

Tuesday, 31 January 2012

Indonesia Membutuhkan Main Battle Tank

JAKARTA-(IDB) : Dalam sebuah peperangan, kavaleri memiliki peran yang sangat vital baik, dalam melakukan penyerangan ke daerah lawan maupun dalam posisi mempertahankan wilayah. Karena itu, tidak hanya TNI AD yang memiliki unit kavaleri--dalam hal ini tank tempur--, namun juga TNI AL (Marinir).
 
Tank tempur setidaknya memiliki tiga klasifikasi, yaitu: tank ringan (light tank), tank sedang (medium tank) dan tank berat (main battle tank). Main Battle Tank ( MBT) ini memiliki keunggulan dibandingkan dengan tank ringan atau tank sedang. Antara lain: memiliki meriam dengan kaliber yang lebih besar yaitu 120 mm bila dibandingkan dengan tank yang dimiliki TNI AD saat ini jenis AMX-13 yang memiliki meriam kaliber 75 mm.
 
Selain itu MBT memiliki ketebalan baja (armor) setebal 100-500 mm, sedangkan tank ringan yang dimiliki TNI AD hanya 40-60 mm. Dengan spesifikasi seperti itu, MBT memiliki keunggulan dalam hal daya gempur persenjataan serta perlindungan optimal bagi awak kavaleri.
 
Pembelian MBT ini ada dalam rencana pembelian alutsista TNI AD tahun anggaran 2012. Namun, rencana TNI AD ini ditentang cukup kuat oleh sebagian kalangan pengamat pertahanan dan parlemen, khususnya anggota Komisi I DPR RI karena dianggap tidak cocok dipakai di Indonesia.
 
Persoalan Geografis
 
Dari berbagai alasan penolakan MBT tersebut, hal yang paling sering muncul adalah persoalan geografis. TB Hasanuddin, anggota Komisi I DPR RI misalnya mengatakan, dengan berat 62 ton, MBT seperti Leopard tidak cocok beroperasi di Indonesia yang memiliki geografi berbukit-bukit, tanah yang gembur serta rawa-rawa. Hal ini diperkuat dengan kenyataan bahwa MBT lebih banyak dimiliki oleh negara-negara yang berada di belahan kontinental di mana memiliki dataran padat serta gurun seperti di Timur Tengah.
 
Hal ini tidak salah. MBT seperti Leopard bila dioperasikan di daerah penuh rawa tentu akan tenggelam. Namun, tentu saja TNI sudah memperhitungkan hal ini. MBT dirancang untuk berhadap-hadapan dalam peperangan dengan tank lawan. Bila tank lawan tidak bisa memasuki daerah yang tanahnya gembur atau berbukit, maka MBT Indonesia tentu tidak akan dioperasikan di sana.
 
TNI juga memiliki Denzipur yang memiliki kemampuan untuk memetakan geografi dan topografi daerah yang bisa dilalui MBT serta yang tidak. Jadi, kekhawatiran akan ketidakcocokan geografis bukan alasan yang tepat untuk menolak kehadiran MBT.
 
Industri Dalam Negeri
 
Selain persoalan geografis, penolakan terhadap MBT juga dikarenakan alasan bahwa TNI seharusnya memanfaatkan produk dalam negeri yang sudah dimulai PT Pindad. Penolakan didasarkan pada Perpres No 54 Tahun 2012 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah yang mengamanatkan pembelian alutsista dilakukan kepada pabrikan dalam negeri bila sudah dapat dibuat di dalam negeri.
 
Dalam hal ini, PT Pindad--menurut keterangan anggota Komisi I--sudah memiliki purwarupa tank menengah. Atas dasar itulah, Komisi I menyatakan TNI sebaiknya memesan tank menengah dari PT Pindad karena selain lebih cocok dengan kondisi geografis Indonesia dapat juga membantu industri senjata dalam negeri untuk meningkatkan kemampuannya.
 
Tentu saja kita menginginkan supaya industri alutsista dalam negeri, khususnya PT Pindad, tumbuh mandiri dengan memproduksi semua keperluan persenjataan TNI. Namun, bila ternyata industri dalam negeri belum memiliki kemampuan dan teknologi dalam memproduksi tank, khususnya MBT, mau tidak mau kita harus memesan dari pabrikan luar negeri.
 
Perimbangan Kekuatan 
 
Bila kita lihat peta kekuatan militer di kawasan, hanya Indonesia dengan Filipina, Timor Leste serta Papua Nugini yang tidak memiliki MBT. Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam serta Australia sudah lama memiliki MBT. Hal ini sedikit banyak memengaruhi keseimbangan kekuatan di kawasan. Dalam perspektif kekuatan militer, MBT memiliki daya nilai penggentar (deterence) tersendiri karena berbagai keunggulan yang dimilikinya.
Perimbangan kekuatan militer inilah sesungguhnya yang menjadi alasan utama bagi TNI AD untuk membeli MBT. KSAD Jenderal Pramono Edhie Wibowo mengatakan, TNI menginginkan perimbangan kekuatan di kawasan hanya untuk menyamakan kekuatan, bukan untuk melebihi kekuatan militer negara tetangga yang bisa merusak keseimbangan kawasan.
Hal yang sama juga menjadi alasan TNI AU melakukan pembelian pesawat tempur jenis Sukhoi maupun F16. Pembelian persenjataan tidak harus semata-mata mempertimbangkan derajat ancaman keamanan atau nilai kegunaan kekinian, namun juga untuk kesiapsiagaan kekuatan militer dalam upaya menimbulkan efek gentar. Sebagaimana pernyataan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Samsoedin bahwa efek gentar yang ditimbulkan dari kekuatan persenjataan TNI akan membantu Indonesia dalam berdiplomasi dengan negara lain dalam bidang apa pun.
 
Ironis, TNI AD yang merupakan matra utama dalam pertempuran darat hanya memiliki tank yang sudah uzur, yaitu Scorpion dengan berat 8,9 ton dan AMX-13 yang sedang dilakukan retrofit oleh PT Pindad dengan berat 13-14 ton. Sedangkan Marinir dari TNI AL memiliki Tank BMP-3F dengan berat 18,7 ton. Terlihat bahwa dengan TNI AL saja TNI AD sudah tertinggal dalam hal kekuatan dan kemampuan tank yang dimiliki.
 
Dengan kondisi TNI saat ini dan adanya niat pemerintah untuk kembali membangun kekuatan militer sesuai Minimum Esencial Force (MEF), sepatutnya kita dukung karena dengan TNI yang kuat harga diri bangsa juga akan lebih baik di mata negara lain. Jangan terjadi lagi preseden di mana TNI meminta persenjataan A yang dibutuhkan, tapi yang diberikan persenjataan B di luar kriteria kebutuhan TNI.
 
Namun begitu, anjuran anggota DPR supaya TNI memanfaatkan produk pertahanan dalam negeri juga harus kita dukung bersama. Karena itu, jalan keluar yang terbaik dalam polemik pembelian MBT ini adalah alangkah arifnya bila TNI tetap membeli MBT sesuai kebutuhannya, namun tidak harus sebanyak yang diinginkan saat ini.
 
Bila dianggarkan TNI mampu membeli 100 unit MBT, maka cukup dibeli sekitar 60-80 unit MBT. Sisa anggarannya digunakan untuk memesan tank menengah yang dimiliki PT Pindad. Dengan begitu PT Pindad juga memiliki kesempatan untuk melakukan research & development demi kemandirian alutsista bangsa. 

Sumber : Jurnas

Monday, 30 January 2012

Tank T-90 Mampu Tangkal Serangan Berbagai Senjata

JAKARTA-(IDB) : Tentara Nasional Indonesia (TNI), tengah melirik Tank T-90 buatan Russia, sebagai alternatif rencana pembelian alusita tank Lepopard, milik Belanda, yang mengundang kontroversi.

Namun, seperti apakah spesifikasi yang dimiliki si bongsor T-90? Berikut hasil penelusuran Tribunnews.com.
Tank T-90 merupakan kendaraan tempur utama angkatan bersenjata Russia, hasil pabrikasi dari Uralvagonzavod, yang terletak di Nizhny Tagil, Rusia. T-90 merupakan modifiskasi ke tiga dari tank T-72, dimana T-90 diklaim merupakan kereta meriam paling modern di angkatan darat dan marinir Russia.

Mimiliki berat 46,5 ton, T-90 dioperasikan oleh tiga awak, dan mampu berlari dengan kecepatan maksimum 60 kilometer perjam, dengan daya jelajah 550 kilometer. T-90 memiliki pelindung yang merupakan campur
an baja. dan Kontak-5 peledak-reaktif armor

T-90 dilengkapi dengan meriam berkaliber 125 milimeter 2A46M, dua senapan mesin, pengindra panas, termasuk pelindung ledak reaktif Kontakt-5, penanda tanda bahaya laser, pembangkit gelombang elektromagnetik EMT-7 untuk menghancurkan ranjau elektromagnetik dan pengacau rudal anti tank. T-90 juga dilengkapi dengan peralatan penangkal nuklir, senjata biologi dan kimia.

Sumber : TribunNews

weapon military