Translate

Showing posts with label Kapal Selam. Show all posts
Showing posts with label Kapal Selam. Show all posts

Tuesday, 28 February 2012

Ada Kemungkinan Leopard 2A7 Dan Kapal Selam U-214 Masuk Dalam MoU Indonesia Jerman

BERLIN-(IDB) : Indonesia dan Jerman tandatangani Memory of Understanding (MoU) di bidang pertahanan, Senin (27/2) kemarin. Hal ini menimbulkan spekulasi apakah dengan ditandatanganinya MoU tersebut, berarti TNI mengalihkan rencana pembelian tank Leopard ke Jerman, setelah parlemen Belanda tidak mengizinkan pemerintahnya menjual Leopard 2A6 miliknya.

Menanggapi isu tersebut, kepada itoday ketika dihubungi via telepon, Selasa (28/2), pengamat pertahanan Mufti Makarim mengatakan, Informasi yang selama ini beredar sudah jelas, Jika Belanda tidak mau menjual leopardnya, maka Indonesia akan membeli dari Jerman.

Namun Mufti tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa dengan ditandatanganinya MoU kerjasama pertahanan tersebut, membuat pembelian Leopard sebagai bagian dari kerjasama tersebut, sebab belum ada informasi mengenai substansi MoU itu.





Leopard 2 A7+

U-214 Submarine Class
“Biasanya ada tiga aspek di setiap kerjasama pertahanan, pertama, terkait strategi pertahanan bersama, kedua, bicara mengenai Alutsista dan ketiga, berkaitan dengan latihan bersama,” tutur Direktur Eksekutif Institute for Defense Security and Peace Studies (IDSPS) ini.

Ketiga elemen tersebut memang sudah biasa dibicarakan dalam konteks kerjasama pertahanan yang lebih besar. Hal ini cocok dengan kabar bahwa sebenarnya Indonesia sudah menandatangani kerjasama sama pertahanan sejak 2009 lalu, dimana kerjasama itu akan dievaluasi kembali di 2012.

Indonesia sendiri sebenarnya termasuk sudah berpengalaman dalam hubungan kerjasama pertahanan dengan Jerman. Setidaknya dua periode kekuasaan berbeda di masa lalu sudah merintisnya. Pertama di masa Orde Lama, ketika Indonesia banyak mengimpor Alutsista dari Blok Timur, dimana salah satunya Jerman Timur. Kedua, di masa Orde Baru khususnya di era 90-an, dimana Indonesia membeli kapal perang eks Jerman Timur pasca unifikasi Jerman.

Melihat sejarah hubungan Indonesia-Jerman, bukan tidak mungkin salah satu klausul MoU pertahanan yang ditandatangi Indonesia-Jerman mencakup pembelian Leopard 2A7 baru buatan Jerman, bukan Leopard 2A6 bekas milik Belanda.

Atau bahkan di dalam MoU tersebut, ada rencana akuisisi kapal selam kelas U214, sebab Indonesia adalah pengguna kapal selam Jerman U209. Dan Senior Vice President HDW,Clements Steinkamps produsen kapal selam Jerman pernah menyampaikan, Jerman berharap Indonesia akan membeli setidaknya dua kapal selam U214, setelah menyatakan membeli kapal selam Chang Bo Go dari Korea Selatan yang merupakan lisensi U209-1200 buatan HDW 2010 lalu.


Wajar saja jika Steinkamps berharap seperti itu, sebab Indonesia memang sedang getol-getolnya membangun pertahanannya, salah satunya dengan menambah jumlah kapal selamnya.


Sumber : Itoday

Monday, 13 February 2012

Suka-Duka Awak KRI Nanggala402(2) : Mandi Sebulan Sekali, Tidur Hanya Empat Jam Sehari

SURABAYA-(IDB) : Bagi awak KRI Nanggala 402,berada di kedalaman air selama beberapa bulan punya cerita keseharian sendiri. Meski berada di dalam air, bukan berarti bisa mandi setiap hari.

Sebaliknya gerah dan gatal hampir menjadi rutinitisan mereka di dalam kapal selam. Bayangkan saja, sebulan sekali mereka baru dapat jatah mandi. Jangan kaget jika mendapati awak kapal selam berbau sedikit apek begitu selesai berlayar.Ini karena mereka jarang diguyur air selama berlayar.

Untuk membersihkan badan,mereka biasanya hanya menggunakan tisu basah, atau hanya mengusapnya dengan handuk hangat begitu saja.Bahkan kalau kondisi darurat kadang mereka hanya ganti pakaian saja. Semua dilakukan bukan karena malas atau berlaku jorok,tetapi karena aktifivas yang begitu padat sepanjang berlayar.

Untuk sekedar mandi mereka kadang tidak sempat.” Awak kapal ini terbatas, karena hanya 34 orang.Semua konsentrasi penuh dengan tugas masing-masing,”kata salah seorang awak KRI Nanggala 402 Pelda Suprapdi Beberapa alasan menurut Suprapdi adalah karena jumlah cadangan air di dalam kapal selam yang terbatas, sehingga pemakaiannya harus super hemat.

Ini karena kapasitas tampung air dalam kapal hanya 15.000 liter saja. Jumlah air tersebut dipakai untuk minum,mandi,bersuci, memasak,dan MCK selama hampir sebulan. ”Karena air terbatas, sehingga tidak bisa dipakai seenaknya.Paling hanya bisa dikurangi untuk cuci muka dan ambil air wudlu saja. Selebihnya untuk cadangan minum dan memasak,” katanya.

Kendati punya jatah mandi sekali,bukan berarti mereka bisa berlama-lama saat berada di kamar mandi.Ini karena jumlah kamar mandi yang terbatas,sementara awak yang mengantre begitu banyak. ”Kamar mandi hanya dua. Satu untuk komandan satu lagi untuk kita.Jadi harus gantian. Makanya selalu antre panjang kalau pas jadwal mandi. Nah,kalau yang punya kebiasaan bernyanyi saat mandi, di sini tidak bisa.Sebab di luar banyak yang menunggu,”katanya mengisahkan pengalamannya berada di kapal selam.

Tidak hanya urusan mandi saja kata Suprapdi yang harus bergantian,tidur pun demikian. Para awak KRI Nanggala tidak bisa tidur seenaknya karena harus bergiliran jaga. Untuk setiap awak misalnya, rata-rata hanya punya jatah tidur 4 jam dengan waktu yang tidak menentu.Semua dilakukan dengan sistem sift seperti tugas jaga.

Saat awak lain menjalankan tugas piket misalnya,maka awak lainnya mendapat giliran tidur,begitu seterusnya hingga 36 awak mendapat jatah merata.”Jadi kalau tidur tidak mesti malam hari.Kalau jatahnya pas siang ya siang itu harus tidur.Kalau tidak,maka jatahnya hangus,”imbuhnya.

Karena jatah yang minim pula kadang awak kapal selam susah tidur dengan nyaman. Apalagi kondisi tempat tidur juga sangat sempit,menempel di dinding kapal dan hanya berukuran 170 x 50 cm.Dengan ukuran ini,praktis mereka tidak bisa bergerak bebas saat tidur,misalnya mengubah arah kepala atau bahkan mlungker (menekuk kaki dan badan) saat kedinginan.

Bahkan saat bangun pun mereka tidak bisa langsung duduk seperti di tempat tidur normal. Ini karena tinggi tempat tidur yang tidak lebih dari 40 cm. Tak hanya itu saja,besarnya gelombang air laut seringkali juga membuat mereka mendadak terjaga saat tidur. Ini karena tubuh mudah tergoyang dan membentur dinding.

Kendati demikian,para awak kapal tidak lantas jenuh dan menyerah.Sebaliknya mereka tetap tegar dan semangat menjalankan tugas dengan profesional.”Bertugas di tengah keterbatasan sudah menjadi resiko,sehingga harus tetap dinikmati.Dan kami bersyukur karena masih bisa melewatinya dengan baik,”katanya.

Bagi Suprapdi sukses menjalankan tugas yang diperintahkan atasan adalah sesuatu yang luar biasa.”Kalau semua itu sudah tercapai,maka semua penderitaan selama bertugas menjadi sirna,”tandasnya.

Sumber : Sindo

Suka Duka Awak KRI Nanggala(1) :Tangkal Rasa Takut Dengan Minum Air Laut Dalam

SURABAYA-(IDB) : Berada di kedalaman laut,dikurung dalam kapal selam yang sempit selama puluhan hari bukanlah perkara mudah.Rasa jenuh, stres,hingga gangguan kejiwaan,menjadi ancaman nyata.

Belum lagi keganasan laut yang bisa menenggelamkan mereka sewaktu-waktu. Keceriaan terus tergambar dari raut para awak KRI Nanggala 402 begitu mendarat di dermaga Armatim beberapa hari lalu. Perasaan puas sekaligus bahagia tersungging dari senyum mereka.Ini karena mereka sukses mengemban misi membawa pulang KRI Nanggala 402 dari proses overhaul di Korea Selatan.

Tetapi bukan itu saja,bisa menghirup udara alam bebas adalah sesuatu yang luar biasa bagi mereka. Bayangkan saja,21 hari lamanya mereka berada dalam kapal yang sempit.Menyelami lautan bebas hingga ratusan mil,belum lagi berkutat dengan rutinitas dan teman yang sama selama itu. Tentu ini menjadi hal yang membosankan bagi manusia normal. Namun,jiwa mereka telah terpatri dengan semboyan ‘Tabah Sampai Akhir’,seperti yang diajarkan para pelaut terdahulu.

Sehingga seberat apapun resiko yang dihadapi,pantang bagi mereka untuk mundur apalagi menyerah saat berjuang. Memang,para awak kapal selam bukanlah prajurit biasa. Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang mampu bertahan dalam situasi dan kondusi sesulit apapun. Tetapi itulah faktanya,nasib para awak kapal selam bisa dibilang tidak seenak awak kapal atas laut biasa.

Ini karena segala aktifitas mereka terbatasi. Jangankan bergerak ke sana-kemari,merokok pun tidak bisa mereka lakukan setiap waktu.Ini karena mereka berada berada di dalam kapal yang tertutup,bersama mesin kapal yang sensitif dengan asap maupun api.Padahal,di kedalaman laut yang dingin rokok bisa menjadi penawarnya. Tetapi,para awak KRI Nanggala 402 memiliki cara khusus untuk mengobati keinginan merokok itu.

Saat kondisi air laut tenang misalnya, kapal dijalankan dengan setengah terapung.Tujuannya, bagian tengah kapal yang tinggi bisa berada di permukaan air laut,sehingga mereka bisa naik dan menghisap rokok. ”Kalau kapal sudah mengapung seperti ini,kita biasanya berebut naik untuk merokok. Tetapi karena waktunya terbatas,kita tidak bisa berlama-lama,sebab harus bergantian dengan awak yang lain.

Paling hanya dua batang setelah itu turun lagi,”tutur salah seorang awak KRI Nanggala Lettu Laut (P) Hadhito. Namun aktifitas merokok lanjut Hadhito akan berhenti total kalau kondisi gelombang air laut sedang tinggi.Sebab pada situasi itu kapal sulit mengapung, karena harus menjaga keseimbangan akibat hantaman gelombang.”Kalau sudah seperti ini,kami biasanya hanya berdiri di dalam kapal sambil berpegangan agar tidak jatuh.Apalagi kalau pas ada badai atau berlayar di laut yang dalam,”katanya.

Hadhito menambahkan, meski sudah terlatih,perasaan was-was kadang masih tetap muncul saat berada di bawah laut.Kondisi ini biasanya muncul saat kapal berlayar di bawah laut yang dalam.Ini karena arus bawah laut cukup kencang, sehingga resiko bahaya juga cukup besar,seperti di laut China Selatan atau Laut Banda Maluku.”Dua lokasi ini terbilang paling angker,sebab ombaknya tidak bisa diprediksi,” kata perwira yang juga putra Kasal Laksamana Soeparno ini.

Tetapi lanjut Hadhito,para awak kapal selam sudah punya penangkal untuk menghadapi kedalaman laut tersebut.Penangkal itu tak lain berupa tradisi meminum air laut kedalaman. Setiap mengarungi kedalaman baru misalnya, maka tradisi meminum segelas air laut wajib dilakukan. ”Kapal selam ini biasanya berlayar di kedalaman 30 meter. Nah bagi mereka yang belum pernah belayar di kedalaman itu,maka wajib minum air laut.Ritual serupa juga akan kami lakukan jika kapal turun lagi di kedalaman bawah 30 meter.

Saat kapal di kedalaman 50 meter misalnya,maka harus minum air laut lagi,begitu seterusnya,sampai kapal ini berlayar di batas kedalaman maksimum 200 meter,”imbuh Serma PTB M Nuril Huda. Tradisi minum air laut kedalaman kata Nuril tidak hanya berlaku bagi anggota saja,tetapi juga komandan,perwira pelaksana maupun juga kepala kamar mesin.”Kalau sudah seperti ini kami tidak membedakan pangkat dan jabatan.

Siapa yang belum pernah masuk di kedalaman itu ya wajib minum air laut.Sebab ada sugesti dari kami,bahwa kalau sudah meminum air itu,maka kita akan menyatu dengan laut,”kata prajurit asal Lamongan ini. Pada ritual inilah,kadang banyak awak kapal yang tidak kuat karena rasa air yang begitu asin.Bahkan mereka yang tidak kuat bisa langsung diare. ”Walau begitu,tradisi ini tetap wajib diikuti,”tandasnya.

Sumber : Sindo

Friday, 10 February 2012

Angkatan Laut Iran Tambah Kapal Selam

TEHRAN-(IDB) : Seorang komandan senior Iran mengatakan, dua kapal selam baru kelas Ghadir telah bergabung dengan armada angkatan laut, sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan pertahanan negara.
 
Panglima Angkatan Laut Iran Laksamana Habibollah Sayyari mengatakan kepada IRNA bahwa kapal selam yang sepenuhnya dirancang dan diproduksi oleh para ahli Iran, akan meningkatkan kemampuan angkatan laut Republik Islam.
 
"Semua bagian dari kapal selam kelas Ghadir, termasuk lambung, peralatan radar dan sistem pertahanan canggih diproduksi di dalam negeri," jelasnya. Ditambahkannya, mereka telah meningkatkan kemampuan perlindungan dan pertahanan Angkatan Bersenjata Iran di bawah laut.
 
Pada November 2011, Wakil Komandan Angkatan Laut Iran Laksamana Gholam Reza Khadem-Bigham mengumumkan bahwa tiga kapal selam kelas Ghadir telah ditambahkan ke armada angkatan laut negara itu.
 
"Kapal selam Ghadir mampu meluncurkan torpedo dan beroperasi di perairan dangkal," ujarnya.
 
Kapal selam Ghadir pertama kali diperkenalkan pada tahun 2007. Kapal dengan bobot 120 ton ini memiliki kinerja yang sangat baik di perairan dangkal dan dapat melakukan misi di pesisir.
 
Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah membuat prestasi besar di bidang pertahanan dan mencapai swasembada dalam memproduksi sistem peralatan militer penting.
 
Iranberulang kali meyakinkan negara-negara lain, khususnya negara tetangga, bahwa kekuatan militernya tidak menimbulkan ancaman bagi pihak, karena doktrin militer Iran didasarkan pada pertahanan. 

Sumber : Irib

Wednesday, 8 February 2012

DPR Optimistis Dengan Arsenal Tempur Baru Nanggala 402 Sanggup Kawal NKRI

SURABAYA-(IDB) : Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq optimistis kapal selam TNI AL KRI Nanggala-402 yang baru  selesai diperbaiki di Korea Selatan selama 2 tahun, akan kembali mampu memperkuat tugas menjaga wilayah kedaulatan NKRI.

Menurut Mahfudz Siddiq, peningkatan kemampuan kapal selam KRI Nanggala-402 itu di antaranya engine, combat management system, dan perbaikan fisiknya. "Setelah KRI Nanggala-402 ini selesai diperbaiki, kini KRI Nanggala-402 mampu melakukan penembakan dalam satu waktu langsung ke empat  penjuru," tegasnya di Gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (8/2).

Kata Mahfudz, KRI Nanggala-402 kini juga mengalami peningkatan dalam hal kemampuan sistem radar dan sonar, untuk melakukan pendeteksian objek lawan. "KRI Nanggala-402 juga kini mengalami peningkatan dalam kemampuan penembakan sasaran. sekarang ini melakukan penembakan pada 4 sasaran berbeda dalam satu sistem kontrol," tegasnya.

Seperti diketahui, setelah menjalani perawatan total di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Korea Selatan, dan berlayar selama 17 hari, kapal selam TNI AL KRI Nanggala-402 tiba di Dermaga Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim), Ujung, Surabaya, Jawa Timur, Senin 

Sumber : Jurnamen

Tuesday, 7 February 2012

Badan Tua Semangat Muda, Gambaran Kondisi Arsenal Tempur Kapal Selam Indonesia

SURABAYA-(IDB) : Penantian panjang melihat kapal selam KRI Nanggala-402 kembali menelusup perairan Indonesia berakhir sudah. Kapal yang pernah dijuluki monster bawah laut karena kemampuan tempurnya ini kembali memperkuat jajaran TNI Angkatan Laut (AL) setelah menjalani perbaikan dan perawatan menyeluruh (overhaul) di Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering, Korea Selatan.

Kemarin kapal tipe U-29 buatan Jerman ini sukses berlabuh di dermaga Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Surabaya setelah menempuh perjalanan selama 21 hari. Keberhasilan overhaul KRI Nanggala-402 tersebut tentu semakin meningkatkan sistem pertahanan Indonesia di wilayah perairan.Kini Indonesia memiliki kapal selam tempur supercanggih yang mampu menjaga kedaulatan hukum dan keamanan laut dari serangan musuh.


Menurut Komandan Satuan Tugas Overhaul KRI Nanggala- 402 Kolonel Tunggul Suropati, ada sejumlah peranti penting yang diperbaiki dan diganti selama kapal berdimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter ini berada di Korsel,di antaranya sistem kendali senjata, radar,sonar,alat komunikasi, hingga penggantian separuh badan kapal dari haluan sampai buritan.

“Sekarang KRI Manggala- 402 ini sudah berimbang dengan milik negara tetangga, termasuk Australia.Sistem kendali senjata kapal ini sudah canggih.Senjata torpedo pada kapal ini bisa menembak dengan akurat dari jarak yang cukup jauh,”ungkapnya di Markas Koarmatim Surabaya kemarin.

Tunggul menjelaskan, keunggulan lain KRI Nanggala-402 pasca-overhaul adalah kemampuan sonar yang mencapai 24,03 mil (40 km),kemampuan selam hingga 200 meter dengan waktu selama 52 hari,radar yang dilengkapi peta elektronik,hingga komunikasi yang terintegrasi dengan sistem lain.“Jadi meskipun di bawah laut,kapal ini bisa berkomunikasi hingga seluruh dunia,”ungkapnya.

Tunggul menuturkan, banyaknya perbaikan inilah yang memerlukan waktu lama selama overhaul,termasuk biayanya yang cukup tinggi. Untuk keseluruhan perbaikan kapal, negara mengeluarkan biaya hingga USD75 juta. “Tetapi nilai itu sudah sebanding dengan kemampuan yang dimiliki.Bayangkan, KRI Nanggala-402 ini kemampuannya delapan kali dibanding kapal perang biasa,”katanya.

Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana Soeparno menyambut gembira sukses overhaul KRI Nanggala-402 tersebut.Dia berharap kapal tersebut mampu menjalankan fungsinya dengan bagus,yakni melakukan infiltrasi, peperangan atas dan bawah air,penyebaran ranjau terbatas,hingga proses evakuasi.“Sudah waktunya kita memiliki kapal selam canggih seperti ini sehingga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap terjaga,”ungkap alumnus Akademi Angkatan Laut 1978 ini.

Jenderal bintang empat kelahiran Surabaya ini menjelaskan,dengan wilayah perairan yang cukup luas, jumlah kapal selam yang dimiliki Indonesia jauh dari cukup.Saat ini baru ada dua kapal selam,yakni KRI Cakra- 401 dan Nanggala-402.“Kami memang sudah memesan kapal selam lagi ke Korsel, tetapi jumlahnya hanya tiga. Padahal minimal kebutuhan kita mencapai 12 unit,”tutur mantan Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat ini.

Menanggapi kebutuhan tersebut,Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq mengaku, DPR akan terus membantu mengupayakan.Kebutuhan alutsista memang mendesak. “Tahun 2012 ini keseluruhan anggaran pertahanan kita adalah Rp72 triliun.Anggaran ini sengaja besar karena sebagian besar alutsista kita rusak,”katanya.

Sumber : Sindo

Monday, 6 February 2012

Tampilan, Kemampuan Dan Arsenal Tempur Serba Baru Sang Nanggala 402

SURABAYA-(IDB) : Setelah 24 bulan diperbaiki menyeluruh (overhaul and retrofit) di dermaga Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Okpo, Korea Selatan, KRI Nanggala-402 kembali memperkuat armada TNI-AL, Senin.

Bedanya kali ini, sistem manajemen tempur dan operasi kapal selam kelas U-209/1300 itu diperbarui memakai sistem dari Norwegia.

Dari sisi luar Dermaga Madura, Markas Komando Armada Indonesia Kawasan Timur TNI-AL, kapal selam berkelir hitam itu muncul mengapung perlahan-lahan.

Sambutan kehadiran kembali KRI Nanggala-402 buatan Jerman itu diberikan Kepala Staf TNI-AL, Laksamana TNI Soeparno, Panglima Armada Indonesia Kawasan Timur TNI-AL, Laksamana Muda TNI Ade Sopandi, dan Ketua Komisi I DPR, Mahfudz Siddiq, serta perwakilan dari Daewoo.

Setelah merapat dan ditambat di dermaga itu, upacara singkat kedatangan KRI Nanggala-402 dilakukan antara semua unsur pimpinan TNI-AL dan Komandan KRI Nanggala-402, Letnan Kolonel Pelaut Purwanto.

Menyinggung kehadiran kembali kapal dari Satuan Kapal Selam TNI-AL itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, Marsekal Madya TNI Eris Haryanto, menyatakan, "Kita puas dengan kinerja Daewoo ini. Mereka pendatang baru di dunia perkapalselaman dunia namun bisa membuktikan janji dan komitmennya."

Sistem baru KRI Nanggala-402 diterapkan dari teknologi manajemen tempur dan operasi dari Norwegia. Teknologi digital itu memungkinkan komandan kapal mengambil keputusan secara lebih cepat, efisien, dan tepat atas posisi dan kedudukan kapal terhadap sasaran yang dituju. 

Sebelum memakai teknologi dari Norwegia itu, KRI Nanggala-402 sebagaimana "kembarannya" KRI Cakra-401 memakai teknologi Sinbad dari Belanda yang bekerja secara manual.

Kebolehan sistem baru itu juga diujicobakan selama pelalayaran pulang dari Korea Selatan menuju perairan Indonesia sejak 21 Januari lalu dan tiba di perairan Selat Madura pada Senin pagi.

Contoh kebolehan itu --dalam operasi tempur sebenarnya-- kapal bisa meluncurkan empat torpedo secara salvo pada selang waktu sangat rapat. Kapal selam sepanjang 59 meter itu sendiri memiliki delapan tabung peluncur torpedo pada ujung haluan utamanya.

Sumber : Antara 


Nanggala Mampu Menyelam Selama 52 Hari  

SURABAYA-(IDB) : Setelah diperbaiki total di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Korsel selama 2 tahun, KRI Nanggala kini sudah menjelma menjadi sebuah Kapal Selam Modern.

Kapal bernomor lambung 402 ini dilengkap dengan Torpedo yang mampu mengejar kebisingan. Kapal ini juga bisa dilengkap oleh beberapa misil seperti Exocet, Harpoon dsb. Tak hanya itu dengan kekuatan sonar baru yang bisa kapal ini mampu mendeteksi kapal perang musuh hingga 40 kilometer dengan catatan laut dalam kondisi clear atau jernih. KRI Nanggala diawaki oleh 48 awak, dalam kondisi 100 persen Nanggala bisa berada didalam air hingga 52 hari.

Kolonel (P) Tunggul Suropati, mantan Komandan Satgas Overhoul KRI Nanggala mengungkapkan kapal ini memliki kemampuan menyelam yang cukup baik. " Dalam uji coba kami bisa turun hingga 257 meter didalam laut, dalam keadaan terpaksa maksimal 300 meter " ujarnya.

Kapal selam ini sendiri mampu melaksakan tugas penyusupan, peperangan atas air dan bawah air, penyebaran ranjau terbatas. dan emergensi VIP.
KSAL dan sejumlah pejabat yang menyambut kehadiran kapal selam RI ini menyempatkan diri meninjau bagian dalam kapal.

Kembalinya kapal selam tipe U-209/1300 buatan Jerman pada 1981 itu, memantapkan kekuatan TNI AL dan bergabung dengan satu kapal selam lainnya KRI Cakra-401. Seperti halnya KRI Nanggala, kapal selam KRI Cakra juga sudah lebih dulu menjalani "overhoul" di galangan yang sama di Korsel pada 2004-2006.

Perbaikan total yang dijalani KRI Nanggala meliputi, struktur kapal, lapisan baja, sistem navigasi, dan persenjataan bawah air serta sonar berteknologi terkini.

Kapal selam tersebut berbobot mati 1.395 ton, berdimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter dengan mesin diesel elektrik yang mampu melaju hingga kecepatan 25 knot di dalam air. 

Sumber : SCTV

KSAL : Minimal 6, Idealnya 12 Kapal Selam Yang Harus Dimiliki Indonesia

SURABAYA-(IDB) : Luas laut Indonesia sekitar lima juta kilometer persegi dengan tiga alur laut kepulauan Indonesia yang terbuka untuk kepentingan pelayaran damai. Kini Indonesia memiliki 155 kapal perang berbagai tipe dan jenis dan khusus untuk kapal selam, diperlukan minimal enam unit dalam status siap operasi tempur.

"Begini, kekuatan minimal kita itu enam. Dengan perhitungan dua kapal selam disiagakan bertugas, dua siaga operasi, dan dua lagi servis berkala," kata Kepala Staf TNI-AL, Laksamana TNI Soeparno, Senin, seusai menyambut kehadiran kembali KRI Nanggala-402 dari pelayaran 17 hari selepas perbaikan menyeluruh di Korea Selatan.

Kapal selam tipe U-209/1300 buatan Jerman pada 1981 itu diperbaiki menyeluruh di Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering di Okpo, Korea Selatan, sejak dua tahun lalu. Kini kapal selam itu semakin berotot dan makin awas semua "panca indera"-nya setelah banyak sistemnya diperbarui memakai teknologi terkini di kelasnya.

Salah satunya adalah teknologi sistem manajemen tempur dan operasi secara digital dari Norwegia menggantikan sistem Sinbad buatan Belanda hasil teknologi dasawarsa '80-an. Kapal selam berkelir hitam ini sudah mampu meluncurkan empat torpedo sekaligus secara salvo dalam tempo sangat rapat adalah salah satu bentuk kemampuan yang ditingkatkan itu.
 
Pemimpin pelayaran pulang KRI Nanggala-402 itu adalah Letnan Kolonel Pelaut Purwanto, didampingi belasan perwira dan belasan bintara serta tamtamanya. Masih ada dalam pelayaran itu beberapa teknisi kunci dari pihak Daewoo untuk mengawasi kinerja instrumen-instrumen dan program komputer yang diadopsi.

Dengan begitu, TNI-AL kini memiliki dua kapal selam siap operasi tempur dan misi khusus lain, yaitu KRI Nanggala -402 dan KRI Cakra-401 dari kelas yang sama dan tergabung dalam Satuan Kapal Selam Komando Armada Indonesia Kawasan Timur TNI-AL.

Menyinggung keperluan ideal kapal selam Indonesia, Soeparno yang didampingi Ketua Komisi I DPR, Mahfudz Siddiq, menyatakan, "Yang ideal, Indonesia memiliki 12 kapal selam seperti waktu dasawarsa '60-an itu."

Jika tiada halangan, tiga tahun ke depan Indonesia akan menambah lagi kekuatan flotila kapal selammnya menjadi lima secara keseluruhan. Ada wacana pangkalan kapal selam ini akan ditempatkan di lokasi baru di Indonesia bagian tengah.

Komisi I DPR, kata Siddiq, menghendaki pemerintah menambah anggaran belanda arsenal militer nasional hingga angka Rp78 triliun dari sekitar Rp1.300 triliun APBN tahun depan. "Kerugian negara akibat ketidakmampuan kita menjaga wilayah maritim bangsa ini sebanyak Rp40 triliun memakai data pada 2007. Kini angka itu bisa bertambah lagi," katanya. 

Sumber : Antara

KRI Nanggala 402 Tiba Di Dermaga Koarmatim Surabaya

SURABAYA-(IDB) : Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno menyambut kedatangan Kapal Selam TNI Angkatan Laut, KRI Nanggala-402 di dermaga Komando  Armada RI Kawasan Timur, Ujung, Surabaya, Senin 6 Februari 2012 yang telah selesai menjalani overhaul di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Enggineering, Korea Selatan. 

Selain dihadiri para pejabat teras TNI AL, penyambutan KRI Nanggala-402 juga dihadiri Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq bersama sejumlah anggota Komisi I DPR RI, pejabat teras Kemhan, dan Mabes TNI.

KRI Nanggala-402 merupakan kapal selam tipe U-209 bermesin diesel elektrik buatan Kiel, Jerman tahun 1981 dan merupakan salah satu kapal selam andalan Indonesia, segera memperkuat kembali jajaran TNI AL setelah menjalani perbaikan menyeluruh selama kurang lebih dua tahun. Kapal selam eks Jerman yang mulai memperkuat armada kapal selam TNI AL sejak tahun 1981 itu diperbaiki total mulai dari fisik, sistem navigasi hingga persenjataan.

Untuk menjalani overhaul, KRI Nanggala-402 yang dikomandani Letkol Laut (P) Purwanto berangkat dari Surabaya sejak tanggal 9 Desember 2009 dan tiba di DSEM Okpo, Korea Selatan 19 Desember 2009. Setelah menjalani perbaikan menyeluruh, KRI Nanggala-402 bertolak dari Korea Selatan sejak tanggal 21 Januari 2012 dan tiba di Koarmatim, Surabaya tanggal 6 Februari 2012.

Sebelum merapat, KRI Nanggala-402 melintas di depan Dermaga Madura serta para anak buah kapal melaksanakan peran Parade Rool dan melaksanakan penghormatan. Dari dermaga, Koorsik Lantamal V mengiringi dengan lagu Hymne Hiu Kencana yang dinyanyikan oleh anggota TNI AL dari satuan Kapal Selam Koarmatim.

Setelah kapal merapat lambung kanan di Dermaga Madura Koarmatim, Komandan KRI Nanggala-402 melaksanakan laporan dan penghormatan kepada Kasal Laksamana TNI Soeparno serta pengalungan bunga oleh Ketua Umum Jalasenastri Ny. Lilik Soeparno kepada Letkol Laut (P) Purwanto dilanjutkan peninjauan Kasal bersama para pejabat dan undangan lainnya.

Pada kesempatan ini, Kasal bersama anggota Komisi I DPR RI, para pejabat dan undangan lainnya juga melaksanakan kunjungan ke KRI Yos Sudarso-353 dan KRI Sultan Hasanudin-366 di dermaga yang sama. Setelah itu dilaksanakan serah terima KRI Nanggala-402 dari Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsekal Madya TNI Eris Herryanto kepada Asisten Logistik (Aslog) Kasal Laksamana Muda TNI Sru Handayanto, selanjutnya dari Aslog Kasal diserahkan kepada Panglima Armada RI Kawasan Timur Laksamana Muda TNI  Ade Supandi, S.E. yang disaksikan oleh Kasal Laksamana TNI Soeparno di Lounge Room Majapahit, Koarmatim. Kemudian penyerahan maket KRI Nanggala-402 dari Kasal Laksamana TNI Soeparno kepada Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq, dari pihak DSME menyerahkan maket kapal selam kelas Zog kepada kasal.

KRI Nanggala-402 mengambil nama dari senjata pewayangan “Nanggala” dibuat oleh Howaldtswerke, Kiel, Jerman tahun 1981 tipe U-209/1300. Kapal selam ini memiliki berat 1.395 ton, dimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter. Dengan mesin diesel elektrik mampu melaju dengan kecepatan kurang lebih 25 knot dan diawaki 35 anak buah kapal. Setelah overhoul KRI Nanggala-402  telah dilengkapi sonar teknologi terkini, dengan persenjataan mutakhir, antara lain torpedo, dan persenjataan lainnya. Sebelum overhoul KRI Nanggala-402 aktif melaksanakan berbagai misi dalam rangka penegakkan kedaulatan, hukum dan kemanan di laut, serta latihan yang digelar TNI AL. Pada latihan operasi laut gabungan tanggal 8 April s.d. 2 Mei 2004, KRI Nanggala-402 menunjukan kemampuan sebagai monster bawah laut dengan menembakkan torpedo dan berhasil menenggelamkan KRI Rakata yang dijadikan sebagai sasaran tembak pada latihan dimaksud.

Guna mewujudkan pencapaian pembangunan kekuatan TNI AL di tengah keterbatasan dukungan alokasi anggaran yang ada, maka dilaksanakan strategi pencapaian berupa: pengadaan alutsista yang mengutamakan pemberdayaan industri dalam negeri, peningkatan kemampuan alutsista yang ada serta penghapusan alutsista yang sudah tidak efektif lagi.

Selain pengadaan kapal selam baru, TNI AL juga meningkatkan kemampuan KRI Cakra-401 dan KRI Nanggala-402 dengan melaksanakan overhoul di Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Korea Selatan. Overhoul KRI Cakra-401 dilaksanakan mulai bulan Mei 2004 dan selesai tanggal 13 Februari 2006 dengan hasil optimal serta telah operasional hingga saat ini. Selanjutnya overhoul KRI Nanggala-402 yang dimulai sejak bulan Desember 2009 di galangan yang sama telah berhasil diperbaharui hingga pada kondisi awal yang rata-rata tingkat kesiapan mencapai 100 persen. Saat ini, KRI Nanggala-402 telah tiba di tanah air dan merapat di Koarmatim, selanjutnya siap melaksanakan misi untuk menegakkan kedaulatan, hukum dan keamanan di laut dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kapal selam merupakan senjata berdaya tangkal tinggi, karena karakternya yang sulit dideteksi dan mampu membawa berbagai jenis senjata, seperti torpedo, ranjau maupun peluru kendali. Bagi Indonesia memiliki dan mengoperasikan kapal selam akan memperkuat daya dan kekuatan tangkal (Deterrence effect). Sejarah peperangan laut membuktikan, bahwa hanya kapal selam yang mampu masuk dan menembus jantung pertahanan lawan. Kapal selam juga dapat menghancurkan center of grafity sebuah armada tempur, demikian juga sebaliknya dapat menjadi center of grafity Angkatan Laut.

Para kesatria laut yang berdinas di kapal selam merupakan prajurit TNI AL terpilih yang senantiasa menggelorakan semangat pengabdian “Tabah Sampai Akhir”. Hal ini tidaklah berlebihan karena bagi para Submariner harus senantiasa menghadapi situasi yang paling membahayakan bahkan dapat dikatakan ekstrim sekalipun. Fakta-fakta tersebut, semakin menguatkan bahwasanya kapal selam adalah senjata yang bernilai strategik bagi TNI AL, artinya, memiliki kapal selam baik dalam jumlah yang cukup maupun kemampuan tempur (Combat Capability) yang kuat merupakan keniscayaan dalam mewujudkan postur TNI AL yang handal dan disegani.


Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno menyambut kedatangan Kapal Selam TNI Angkatan Laut, KRI Nanggala-402 di dermaga Komando  Armada RI Kawasan Timur, Ujung, Surabaya, Senin 6 Februari 2012 yang telah selesai menjalani overhaul di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Enggineering, Korea Selatan. Selain dihadiri para pejabat teras TNI AL, penyambutan KRI Nanggala-402 juga dihadiri Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq bersama sejumlah anggota Komisi I DPR RI, pejabat teras Kemhan, dan Mabes TNI.

KRI Nanggala-402 merupakan kapal selam tipe U-209 bermesin diesel elektrik buatan Kiel, Jerman tahun 1981 dan merupakan salah satu kapal selam andalan Indonesia, segera memperkuat kembali jajaran TNI AL setelah menjalani perbaikan menyeluruh selama kurang lebih dua tahun. Kapal selam eks Jerman yang mulai memperkuat armada kapal selam TNI AL sejak tahun 1981 itu diperbaiki total mulai dari fisik, sistem navigasi hingga persenjataan.

Untuk menjalani overhaul, KRI Nanggala-402 yang dikomandani Letkol Laut (P) Purwanto berangkat dari Surabaya sejak tanggal 9 Desember 2009 dan tiba di DSEM Okpo, Korea Selatan 19 Desember 2009. Setelah menjalani perbaikan menyeluruh, KRI Nanggala-402 bertolak dari Korea Selatan sejak tanggal 21 Januari 2012 dan tiba di Koarmatim, Surabaya tanggal 6 Februari 2012.

Sebelum merapat, KRI Nanggala-402 melintas di depan Dermaga Madura serta para anak buah kapal melaksanakan peran Parade Rool dan melaksanakan penghormatan. Dari dermaga, Koorsik Lantamal V mengiringi dengan lagu Hymne Hiu Kencana yang dinyanyikan oleh anggota TNI AL dari satuan Kapal Selam Koarmatim.

Setelah kapal merapat lambung kanan di Dermaga Madura Koarmatim, Komandan KRI Nanggala-402 melaksanakan laporan dan penghormatan kepada Kasal Laksamana TNI Soeparno serta pengalungan bunga oleh Ketua Umum Jalasenastri Ny. Lilik Soeparno kepada Letkol Laut (P) Purwanto dilanjutkan peninjauan Kasal bersama para pejabat dan undangan lainnya.

Pada kesempatan ini, Kasal bersama anggota Komisi I DPR RI, para pejabat dan undangan lainnya juga melaksanakan kunjungan ke KRI Yos Sudarso-353 dan KRI Sultan Hasanudin-366 di dermaga yang sama. Setelah itu dilaksanakan serah terima KRI Nanggala-402 dari Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsekal Madya TNI Eris Herryanto kepada Asisten Logistik (Aslog) Kasal Laksamana Muda TNI Sru Handayanto, selanjutnya dari Aslog Kasal diserahkan kepada Panglima Armada RI Kawasan Timur Laksamana Muda TNI  Ade Supandi, S.E. yang disaksikan oleh Kasal Laksamana TNI Soeparno di Lounge Room Majapahit, Koarmatim. Kemudian penyerahan maket KRI Nanggala-402 dari Kasal Laksamana TNI Soeparno kepada Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq, dari pihak DSME menyerahkan maket kapal selam kelas Zog kepada kasal.

KRI Nanggala-402 mengambil nama dari senjata pewayangan “Nanggala” dibuat oleh Howaldtswerke, Kiel, Jerman tahun 1981 tipe U-209/1300. Kapal selam ini memiliki berat 1.395 ton, dimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter. Dengan mesin diesel elektrik mampu melaju dengan kecepatan kurang lebih 25 knot dan diawaki 35 anak buah kapal. Setelah overhoul KRI Nanggala-402  telah dilengkapi sonar teknologi terkini, dengan persenjataan mutakhir, antara lain torpedo, dan persenjataan lainnya. Sebelum overhoul KRI Nanggala-402 aktif melaksanakan berbagai misi dalam rangka penegakkan kedaulatan, hukum dan kemanan di laut, serta latihan yang digelar TNI AL. Pada latihan operasi laut gabungan tanggal 8 April s.d. 2 Mei 2004, KRI Nanggala-402 menunjukan kemampuan sebagai monster bawah laut dengan menembakkan torpedo dan berhasil menenggelamkan KRI Rakata yang dijadikan sebagai sasaran tembak pada latihan dimaksud.

Guna mewujudkan pencapaian pembangunan kekuatan TNI AL di tengah keterbatasan dukungan alokasi anggaran yang ada, maka dilaksanakan strategi pencapaian berupa: pengadaan alutsista yang mengutamakan pemberdayaan industri dalam negeri, peningkatan kemampuan alutsista yang ada serta penghapusan alutsista yang sudah tidak efektif lagi.

Selain pengadaan kapal selam baru, TNI AL juga meningkatkan kemampuan KRI Cakra-401 dan KRI Nanggala-402 dengan melaksanakan overhoul di Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Korea Selatan. Overhoul KRI Cakra-401 dilaksanakan mulai bulan Mei 2004 dan selesai tanggal 13 Februari 2006 dengan hasil optimal serta telah operasional hingga saat ini. Selanjutnya overhoul KRI Nanggala-402 yang dimulai sejak bulan Desember 2009 di galangan yang sama telah berhasil diperbaharui hingga pada kondisi awal yang rata-rata tingkat kesiapan mencapai 100 persen. Saat ini, KRI Nanggala-402 telah tiba di tanah air dan merapat di Koarmatim, selanjutnya siap melaksanakan misi untuk menegakkan kedaulatan, hukum dan keamanan di laut dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kapal selam merupakan senjata berdaya tangkal tinggi, karena karakternya yang sulit dideteksi dan mampu membawa berbagai jenis senjata, seperti torpedo, ranjau maupun peluru kendali. Bagi Indonesia memiliki dan mengoperasikan kapal selam akan memperkuat daya dan kekuatan tangkal (Deterrence effect). Sejarah peperangan laut membuktikan, bahwa hanya kapal selam yang mampu masuk dan menembus jantung pertahanan lawan. Kapal selam juga dapat menghancurkan center of grafity sebuah armada tempur, demikian juga sebaliknya dapat menjadi center of grafity Angkatan Laut.

Para kesatria laut yang berdinas di kapal selam merupakan prajurit TNI AL terpilih yang senantiasa menggelorakan semangat pengabdian “Tabah Sampai Akhir”. Hal ini tidaklah berlebihan karena bagi para Submariner harus senantiasa menghadapi situasi yang paling membahayakan bahkan dapat dikatakan ekstrim sekalipun. Fakta-fakta tersebut, semakin menguatkan bahwasanya kapal selam adalah senjata yang bernilai strategik bagi TNI AL, artinya, memiliki kapal selam baik dalam jumlah yang cukup maupun kemampuan tempur (Combat Capability) yang kuat merupakan keniscayaan dalam mewujudkan postur TNI AL yang handal dan disegani.

Sumber : Koarmatim

Saturday, 4 February 2012

KRI Nanggala Telah Memasuki Perairan Indonesia

JAKARTA-(IDB) : Kapal selam TNI Angkatan Laut KRI Nanggala/402 telah tiba di perairan Indonesia, setelah menjalani perbaikan menyeluruh di Korea Selatan selama hampir dua tahun.

Juru bicara TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama Untung Suropati kepada ANTARA di Jakarta, Minggu mengungkapkan KRI Nanggala kemungkinan sudah berada di Laut Jawa sebelum akhirnya tiba di Dermaga Ujung Surabaya, Komando Armada RI Kawasan Timur, Senin (6/2).

"KRI Nanggala secara resmi akan disambut kedatangannya oleh Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno dan Ketua Komisi I DPR," katanya menambahkan.

Seperti KRI Cakra-401, maka KRI Nanggala menjalani perbaikan total di galangan kapal di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Okpo, Korea Selatan.

Kembalinya kapal selam tipe U-209/1300 buatan Jerman pada 1981 itu, memantapkan kekuatan pemukul TNI Angkatan Laut bersama KRI Cakra-401 sebagai arsenal bawah laut Tanah Air.

Selama perbaikan total di Korea Selatan itu, KRI Nanggala-402 bermesin diesel-listrik buatan galangan kapal di Kiel, Jerman, itu diperkuat struktur kapal, lapisan bajanya, sistem navigasi, dan persenjataan bawah air serta sonarnya.

KRI Nanggala dan KRI Cakra dibuat galangan kapal Howaldtswerke, Kiel, Jerman pada 1981 tipe U-209/1300.

Kapal selam tersebut berbobot mati 1.395 ton, berdimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter. Dengan mesin diesel elektrik mampu melaju dengan kecepatan kurang lebih 25 knot di dalam air, menyelam di kedalaman sekitar 200 meter dari permukaan laut. 

Sumber : Antara

Friday, 3 February 2012

KRI Nanggala/402 Dalam Perjalanan Pulang, Direncanakan 6 Februari Sampai Di Tanah Air

JAKARTA-(IDB) : Kapal selam TNI-AL, KRI Nanggala/402 dalam pelayaran kembali ke Tanah Air setelah dua tahun direparasi total di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Okpo, Korea Selatan. Direncanakan dia akan merapat ke pangkalannya di Komando Armada Indonesia Kawasan Timur TNI-AL, Surabaya, pada 6 Februari nanti.

Kepala Staf TNI-AL, Laksamana TNI Soeparno, dan sejumlah besar pimpinan TNI-AL beserta pimpinan DPR akan menyambut kehadiran kembali kapal selam tipe U-209/1300 buatan Jerman pada 1981 itu. Dengan kehadiran kembali KRI Nanggala/402 maka lengkap kekuatan kapal selam Indonesia karena KRI Cakra/401 telah lebih dahulu memperkuat arsenal bawah laut Tanah Air.

Selama perawatan total di Korea Selatan itu, KRI Nanggala/402 bermesin diesel-listrik buatan galangan kapal di Kiel, Jerman, itu diperkuat struktur kapal, "kulit" bajanya, sistem navigasi, dan persenjataan bawah air serta sonarnya. Yang terakhir ini sangat vital dan bisa dibilang menjadi mata, telinga, dan indra peraba kapal selam untuk menghantam ataupun penghindari lawan.

Kali ini, KRI Nanggala/402 dikomandani Letnan Kolonel Pelaut Purwanto, melayari perairan di selatan Korea Selatan hingga memasuki perairan Nusantara. Kapal berkelir hitam dengan beberapa menara pengintai dan penghisap udaranya itu telah meninggalkan Indonesia sejak Desember 2009 dan menjalani pelayaran percobaan pasca perawatan besar di Korea Selatan pada Desember 2011.

Sebelum KRI Nanggala/402, galangan kapal sama di Okpo, Korea Selatan, itu juga sukses merawat secara menyeluruh terhadap KRI Cakra/401, kapal selam identik dengan dia mulai Mei 2004 hingga 13 Februari 2006. Dengan kedua proses perawatan berat itu, Indonesia juga menyerap pengetahuan dan penguasaan teknologi perkapalselaman dari negara maju.

Sejak pertama kali memiliki kapal-kapal selam pada masa Orde Lama, TNI-AL menamai flotila kapal selamnya dengan nama-nama senjata perwayangan. KRI Nanggala-402 mengambil nama dari senjata pewayangan "Nanggala", sebagaimana halnya dengan KRI Cakra/401, dibuat galangan kapal Howaldtswerke, Kiel, Jerman pada 1981 tipe U-209/1300.

Kapal selam ini memiliki bobot mati 1.395 ton, berdimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter. Dengan mesin diesel elektrik mampu melaju dengan kecepatan kurang lebih 25 knot di dalam air, menyelam di kedalaman sekitar 200 meter dari permukaan lut, dan diawaki 35 anak buah kapal termasuk komandannya.

Indonesia merupakan negara pertama di ASEAN yang memiliki kapal selam, sejak masa pemerintahan Soekarno. Tercatat Indonesia pernah memiliki hingga 12 kapal selam kelas Whiskey dari Rusia, bahkan sebagian sempat "dipinjamkan" secara diam-diam kepada Pakistan untuk menghadapi armada laut India pada dasawarsa '60-an.

Dalam banyak buku ajar dan praktik peperangan laut dan maritim, kepemilikan dan pengerahan kapal selam bernilai amat sangat strategis. Kapal selam juga mampu menjadi alat pemunah akhir yang sangat sulit diprakirakan manuvrabilitasnya dalam banyak peperangan laut dunia.

Walau saat itu Indonesia merupakan negara baru, namun Presiden Soekarno sangat paham akan peran strategis flotila kapal selam itu, sehingga pendekatan dengan Blok Timur menghasilkan kehadiran 12 kapal selam kelas Whiskey dari Rusia itu.

Di ASEAN, belakangan Singapura memiliki empat kapal selam bekas Kerajaan Swedia dari kelas Sjoormen (di Inggris dikenal sebagai kelas Challenger); diikuti Malaysia yang membeli kapal selam baru kelas Scorpene dari Perancis. 

Sumber : Antara

Monday, 23 January 2012

DPR Dukung Pengadaan Kapal Selam Dari Korea Selatan

JAKARTA-(IDB) : Anggota Komisi I DPR Tjahjo Kumolo mendukung pengadaan tiga kapal selam yang dibeli dari Korea Selatan (Korsel) untuk memperkuat TNI AL.

"Kita memang sesungguhnya sangat butuh kapal selam mendesak paling tidak empat unit. Karenanya atas tercapainya kontrak pengadaan pengadaan kapal selam dengan Korsel, kita akan mendukungnya," ujar Tjahjo Kumolo di sela-sela raker dengan Menhan Purnomo Yusgiantoro di Komisi I DPR, Selasa (24/1).

Sebelumnya, Komisi I DPR telah menyetujui anggaran untuk membelian dua unit kapal selam. Dua kapal selam yang harus dimiliki RI itu memiliki kemampuan setera dengan kemampuan kapal selam yang dimiliki Singapura. Namun, pemerintah dengan alokasi anggaran yang telah disetujui DPR, membeli tiga kapal selam dari Korsel, meski kemampuan kapal selam yang nantinya akan dimiliki itu kemampuannya di bawah dari kemampuan kapal selam milik Singapura, namun setara dengan kapal selam yang dimiliki oleh Malaysia.

"Saya kira kita tidak akan mempermasalahkan itu. Karena pembelian kapal selam itu dalam kondisi baru. Yang penting tidak barang bekas," tegas Tjahjo.

Sekjen DPP PDIP ini juga menjelaskan, dalam raker dengan Menhan dan jajarannya ini, ia dan anggota Komisi I lainnya akan mengkritisi soal pengadaan alutsista untuk TNI, yang belakangan melenceng dari tujuan semula. Misalnya, rencana pembelian tank Leopard bekas dari Belanda, yang tiba-tiba muncul dan tidak dibahas lebih dahulu di Komisi I. "Termasuk rencana menerima hibah pesawat Hercules bekas dari Australia, yang ini juga belum disepakati di DPR," tegasnya.

Tjahjo mengatakan, Komisi I memliki kepentingan untuk meluruskan rencana modernisasi alutsista bagi TNI yang ideal dalam jangka pendek, menegah dan panjang, agar sesuai rencana awal. Di antaranya mengedepankan produksi dalam negeri. "Karenanya kita akan pertanyakan pengadaan-pengadaan alutsista yang belakangan ini muncul mendadak dan terkesan tidak sesuai rencana awal.

Sumber : Jurnamen

Thursday, 19 January 2012

Komisi I DPR Segera Bahas Kontrak Pengadaan 3 Kapal Selam

JAKARTA-(IDB) : DPR telah mendengar adanya kontrak kerjasama dalam pengadaan tiga Kapal selam antara pihak Kemenhan RI dengan Perusahaan Daewoo Shipbuilding Marine Enginerering (DSME), untuk memperkuat TNI AL. Karena itu, Komisi I DPR akan segera memanggil Kemenhan dan Kasal untuk membahas soal telah tercapainya kontrak kerjasama ini.

Demikian dikatakan Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq kepada Jurnalparlemen.com di DPR, kemarin (Rabu/18/1).

“Mungkin sekitar awal Februari nanti kita akan panggil Kemenhan dan Kasal untuk membahas kontrak pengadaaan tiga kapal selam dengan Korsel tersebut. Ini perlu agar menjadi jelas persoalannya.Karena sejuah ini pihak pemerintah belum secara resmi menyampaikan informasi ke DPR. Sehingga saat masyarakat dan media masa menanyakan hal ini, dan DPR sulit menjelaskan, karena informasi yang dimiliki DPR dalam masalah ini masih bersifat informasi informal dan pemberitaan dari media masa itu sendiri,” ujar Mahfudz.

Wakil Sekjen PKS ini menjelaskan, memang sebelumnya Komisi I DPR telah menyatakan atas dukungan untuk pembelian dua kapal selam, berikut anggarannya. Saat itu, spesifikasi dan kualifikasi yang disetujui dalam pembelian dua kapal selam itu, setara dengan kemampuan kapal selam yang dimiliki oleh Kapal selam Singapura.

Mahfudz mengaku senang, jika dari anggaran sebelumnya untuk pengadaan dua unit kapal selam itu, justru saat ini bisa untuk membeli tiga unit. Tetapi pertanyaannya, apakah kemampuannya sama dengan kemampuan dua kapal selam yang disetujui oleh DPR sebelumnya?

“Karena yang saya dengar dari beberapa sumber, spek dan kemampuan tiga kapal selam yang akan dibeli dari perusahaan Korsel itu tidak setara dengan kapal selam milik Singapura, dibawahnya sedikit, namun setara dengan kapal selam milik Malaysia,” tegasnya.

Mengingat informasi dalam pengadaan kapal selam ini terus berkembang dan simpang siur, terutama dari kemungkinan dari spek dan kemampuan yang sebelumnya disampaiakan ke DPR dan Komisi I menyetujui, kata Mahfudz, maka DPR hanya mengingatkan agar pihak pemerintah tidak keluar dari kesepakatan itu.

“Karena setiap perubahan spek dan kualikasi dalam pembelian alutsita dari yang sebelumnya yang telah disepakati dengan DPR, jelas itu akan menimbulkan permasalahan baru. Karena kemudian hal itu akan memunculkan perubahan dari anggota Dewan, mana kala ternyata di tengah jalan pemerintah memutuskan sepihak dalam hal spek alutsita yang di beli tersebut,” tegasnya.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Republik Indonesia pada akhir Desember 2011 lalu menandatangani kontrak pengadaan tiga unit kapal selam dengan perusahaan galangan kapal asal Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding Marine Enginerering (DSME). Tiga kapal selam ini akan segera melengkapi armada tempur TNI Angkatan Laut.

Kontrak pengadaan tiga unit kapal selam tersebut ditandatangani oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan RI Mayjen TNI Ediwan Prabowo dan President & CEO DSME Sang-Tae Nam.

Kemenhan berharap, kehadiran tiga kapal selam baru ini dapat memperkuat daya tempur dan daya tangkal TNI Angkatan Laut. Sebelumnya, RI menjajaki beberapa negara untuk pengadaan kapal selam bagi TNI AL. Negara-negara yang sempat dipertimbangkan RI untuk memproduksi kapal selam tersebut adalah Jerman (U-209), Korea Selatan (Changbogo), Rusia (Kelas Kilo), dan Prancis (Scorpen)

Sumber : Jurnamen

Wednesday, 18 January 2012

KASAL : Satu Dari Tiga Kapal Selam TNI AL Selesai 2015

JAKARTA-(IDB) : Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno mengatakan, kapal selam pertama dari tiga unit yang dipesan dari Korea Selatan, akan selesai pada 2015.

"Untuk yang pertama diperkirakan selesai pada 2015," katanya, di sela Rapat Pimpinan TNI 2012 di Mabes TNI, Jakarta, Rabu.

Ia menegaskan kontrak pengadaan tiga kapal selam baru untuk TNI Angkatan Laut telah ditandatangani antara Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dengan perusahaan galangan kapal asal Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding Marine Enginering (DSME).

Kontrak tersebut ditandatangani pihak Kemhan RI diwakili oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan RI Mayjen TNI Ediwan Prabowo, sedangkan pihak DSME diwakili oleh President & CEO DSME Sang-Tae Nam pada Desember 2011.

Kasal menambahkan, untuk kapal selam pertama itu sepenuhnya dibuat di Korea Selatan, dan dua unit sisanya akan dikerjakan bersama antara Indonesia dan Korea Selatan untuk selanjutnya sepenuhnya dikerjakan Indonesia yakni PT PAL.

Senada dengan Kasal, sebelumnya Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menjelaskan dalam kontrak itu ada ketentuan mengenai mekanisme alih teknologi mulai dari awal hingga akhir pengadaan selesai seluruhnya.

"Artinya dari awal pembelian proses alih teknologi itu sudah berjalan, yakni dengan mengirimkan sejumlah teknisi yang masa kerjanya masih panjang untuk melihat langsung proses pembuatan kapal selam itu," ujar Wamenhan.

"Pengadaan sumber daya manusia yang akan dikirim ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia, khususnya PT PAL. Dan jumlahnya relatif besar minimal 50 orang," ujar Sjafrie.

Pada pengadaan tahap kedua, para teknisi yang telah dikirimkan tersebut diharapkan mulai terlibat dalam hal-hal teknis menyangkut pembuatan kapal selam.

"Nah disini mulai ada interaksi fisik langsung para teknisi kita dalam proses pembuatan kapal selam. Jadi, peran negara produsen sudah sekitar 50 persen diambil oleh para teknisi kita," tutur dia.

Sjafrie menambahkan selama proses pembuatan dua kapal selam itu selain menyiapkan dan mengirimkan para teknisi juga sudah dibangun pula galangannya. "Sehingga semua ini berjalan paralel," katanya.

Selanjutnya, ujar Sjafrie, pada pembuatan kapal selam ketiga sudah dapat dilakukan di Indonesia dan seluruhnya dilakukan oleh tenaga-tenaga Indonesia.

"Itu kebijakan dasar, strategi besar dalam mekanisme pengadaan alat utama sistem senjata yang ditetapkan Indonesia baik untuk pengadaan alat utama sistem senjata berteknologi tinggi seperti kapal selam, maupun berteknologi sedang," kata Wamenhan.

Sumber : Antara

weapon military