Translate

Showing posts with label Inggris. Show all posts
Showing posts with label Inggris. Show all posts

Thursday, 23 February 2012

AL Inggris Beli Kapal Tanker Militer Dari Korsel

LONDON-(IDB) : Angkatan Laut Inggris (Royal Navy) memutuskan membeli empat kapal tanker militer dari perusahaan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) asal negeri ginseng, Korea Selatan. Demikian diumumkan Kementerian Pertahanan Inggris, Rabu (22/2/2012).

Harga empat kapal, yang masing-masing berbobot 37.000 ton, itu 452 juta poundsterling (Rp 6,4 triliun). Tanker yang dinamakan Military Afloat Reach and Sustainibility (MARS) itu diharapkan sudah mulai dioperasikan pada 2016 untuk menggantikan kapal-kapal tanker Royal Navy yang sudah berusia lebih dari 30 tahun.

Kapal-kapal buatan DSME ini memiliki panjang lebih dari 200 meter dan dilengkapi dek pendaratan helikopter. Tanker tersebut mampu melakukan pengisian bahan bakar satu kapal induk dan satu kapal perusak secara simultan sambil mengirim bahan bakar bagi kapal-kapal lain menggunakan helikopter.

Pompa kapal tanker tersebut mampu mengisi penuh dua kolam renang ukuran olimpiade dengan bahan bakar dalam waktu satu jam.
”Kapal-kapal itu juga didesain untuk bisa selalu di-upgrade guna menyesuaikan perkembangan teknologi yang artinya mereka dirancang dengan pikiran jauh ke depan,” ungkap Komodor Bill Walworth, komandan Royal Fleet Auxiliary atau armada kapal-kapal suplai militer Inggris.

Keputusan menghadiahkan kontrak tersebut kepada sebuah perusahaan asing memicu keprihatinan terkait industri pertahanan dalam negeri Inggris, terutama di saat sedang gencar-gencarnya pemangkasan anggaran pertahanan.

”Ini kabar buruk yang lain lagi bagi industri (pertahanan) Inggris. Pertama, kami kalah dengan Perancis dalam (kontrak penjualan) jet tempur dan kini kami kalah dengan Korea Selatan dalam kontrak pembelian dari AL kami sendiri,” tutur Jim Murphy, juru bicara bidang pertahanan untuk Partai Buruh yang menjadi oposisi.  

Sumber : Kompas

Sunday, 19 February 2012

Perbandingan Kekuatan Armada Laut Inggris dan Iran

TEHRAN-(IDB) : Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague kembali menyinggung "semua opsi" termasuk serangan militer terhadap Iran atas program nuklir sipilnya di tengah spekulasi yang mencuat bahwa kapal perang Inggris tidak mampu bertahan menghadapi peluncur rudal Iran di Teluk Persia.
 
"Ini bukan cara kami berurusan [dengan program nuklir Iran] ... untuk memprioritaskan aksi militer. Meskipun demikian saya kembali menekankan, kami tidak membatalkan [opsi] apapun dari meja, " kata Hague.
 
Hague juga mengklaim Iran "jelas melanjutkan program nuklir militer mereka" dan menambahkan "Jika mereka mencpai senjata nuklir," akan mengakibatkan ancaman "perang dingin baru di Timur Tengah."
 
Pernyataan Hague itu merupakan lanjutan dari berbagai statemen serupa para pejabat Inggris, termasuk Perdana Menteri David Cameron, yang mengancam Iran dengan serangan militer dari selatan Teluk Persia dan Laut Oman.
 
Namun, fakta di lapangan justru berbicara lain dan menunjukkan bahwa Inggris akan menderita konsekuensi yang sangat buruk jika bergabung dengan sekutunya Amerika Serikat dan Israel dalam menyerang Republik Islam Iran.
 
Inggris telah berusaha mengesankan bahwa kekuatan pasukan Iran tidak akan mampu menghadapi pasukan Inggris dan bahwa Iran tidak akan mampu membalas serangan Inggris.
 
Inggris saat ini telah menempatkan sejumlah kapal tempurnya di Teluk Persia termasuk HMS Sheffield dan HMS Coventry –kapal perusak kuno Type-42—yang pernah dikirim ke Argentina dan ditenggelamkan oleh pasukan Angkatan Laut Argentina dengan menggunakan rudal Exocet subsonik pada Perang Falklands 1982.
 
Inggris juga mengirim kapal frigat Type-23, yang menggunakan sistem radar dan perlengkapan logistik era 1989. Kapal tersebut sangat rentan menghadapi rudal balistik supersonik anti-kapal milik Iran.
 
Angkatan Laut Iran telah memamerkan rudal balistik pintar supersonik "Khalije Fars" akhir 2011 lalu.
 
Rudal berbahan bakar padat itu mampu menghancurkan sasaran pada jarak 300 km dan dilengkapi sistem pencarian target yang akan mengunci target pada tahap akhir sebelum mencapai target. Sistem itu membuat kapal musuh tidak punya kesempatan untuk melarikan diri.
 
Spesifikasi rudal Khalij Fars, dan rudal Iran lainnya, jauh lebih unggul dibandingkan rudal Exocets yang menenggelamkan kapal perang Inggris 40 tahun lalu.
 
Beberapa waktu lalu, Iran juga menguji berbagai jenis rudal jarak menengah, dan jauh, termasuk rudal anti-radar Mehrab tipe dari darat ke udara, rudal Nour tipe permukaan-ke-permukaan, dan rudal Qader tipe pantai-ke-laut, dengan kisaran daya tempuh hingga 200 kilometer.
 
Kemampuan rudal Iran semakin memperbesar kemungkinan skenario tragis bagi Angkatan Laut Inggris seperti yang mereka alami pada manuver perang AS di Teluk Persia tahun 2002.
 
Pada tahun 2002, AS menggelar manuver Operation Millennium Challenge di Teluk Persia setelah dua tahun perencanaan dan menghabiskan dana 250 juta dolar.
 
Setelah manuver itu berakhir, Letnan Jenderal Paul Van riper, yang memimpin pasukan musuh atau Red Force dalam manuver tersebut membocorkan fakta kepada Army Times bahwa hasil dari manuver itu adalah banyaknya armada angkatan laut AS yang tenggelam di Teluk Persia dan merupakan bencana terburuk bagi Angkatan Laut Amerika Serikat pasca Pearl Harbor.
 
Van Riper mengatakan jika manuver itu adalah perang nyata, maka 16 kapal perang AS termasuk sebuah kapal induk dan dua kapal induk helikopter tenggelam ke dasar laut Teluk Persia, sementara sisanya berantakan meninggalkan ribuan tentara Amerika tewas, sekarat atau cedera. 

Sumber : Irib

Inggris Perancis Perkuat Kerja Sama Industri Militer

PARIS-(IDB) : Inggris dan Perancis sepakat meningkatkan kerja sama di bidang industri militer untuk mempertahankan kekuatan sekaligus menghemat anggaran masing-masing. Beberapa sektor industri pertahanan yang akan mereka garap bersama, antara lain, pengembangan pesawat tak berawak, kapal induk, dan nuklir.

Kesepakatan tersebut tercapai dalam pembicaraan antara Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dan Perdana Menteri Inggris David Cameron di Paris, Perancis, Jumat (17/2/2012). Dalam pertemuan tersebut, perusahaan-perusahaan pertahanan dari kedua negara menandatangani kontrak senilai 500 juta poundsterling (Rp 7,1 triliun) untuk membangun reaktor nuklir di Inggris dengan menggunakan teknologi Perancis.

Perusahaan penerbangan Dassault dari Perancis dan BAE Systems dari Inggris juga diminta untuk bekerja sama dalam proyek pesawat tak berawak atau drone MALE (medium altitude long-endurance) dan satu proyek pesawat tempur tak berawak (UCAV). MALE diproyeksikan akan beroperasi pada 2020, sementara program pesawat tempur tak berawak diharapkan rampung pada 2030.

Menteri Pertahanan Perancis Gerard Longuet mengatakan, kedua negara sudah menunda kerja sama dalam pembuatan kapal selam, tetapi tetap melanjutkan proyek bersama membangun kapal induk yang juga akan dioperasikan kedua negara pada 2020. 

Sumber : Kompas

Sunday, 12 February 2012

Argentina Tuduh Inggris Kirim Senjata Nuklir ke Malvinas

NEW YORK-(IDB) : Argentina menuduh Inggris mengirim kapal selam bertenaga nuklir yang membawa rudal balistik berhulu ledak nuklir ke perairan Samudera Atlantik Selatan dekat Kepulauan Falkland atau Malvinas, yang disengketakan kedua negara. Argentina mengatakan, langkah Inggris itu melanggar traktat zona bebas nuklir di kawasan Amerika Latin.

Tuduhan tersebut dilontarkan Menteri Luar Negeri Argentina Hector Timerman di sela kunjungannya ke markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, Jumat (10/2/2012) waktu setempat atau Sabtu (11/2/2012) WIB.

"Argentina mendapat informasi bahwa dalam kerangka penempatan pasukan Inggris di Kepulauan Malvinas, mereka mengirim satu kapal selam nuklir untuk membawa senjata nuklir ke Atlantik Selatan," tutur Timerman, sambil menyebutkan kapal selam itu bernama Vanguard.

Angkatan Laut Inggris atau Royal Navy mengoperasikan sedikitnya 11 kapal selam bertenaga nuklir, salah satunya bernama HMS Vanguard, yang dioperasikan sejak 1992. Kapal selam sepanjang 150 meter ini mampu membawa rudal Trident, rudal balistik berhululedak nuklir yang berdaya jelajah hingga 6.400 kilometer.

Sebelumnya, AL Inggris sudah mengumumkan akan mengirim kapal perusak terbarunya, HMS Dauntless untuk "tugas rutin" ke Malvinas. Media Inggris juga memberitakan Inggris mengirim salah satu kapal selam kelas Trafalgar, kapal selam bertenaga nuklir tetapi membawa persenjataan konvensional.

Menurut Timerman, Argentina telah menanyakan secara resmi kepada Inggris melalui jalur diplomatik apakah negara itu sungguh-sungguh mengirim senjata nuklir ke kawasan Malvinas, tetapi pihak Inggris menolak mengiyakan maupun membantah. Jika benar ada senjata nuklir ditempatkan di kawasan Malvinas, kata Timerman, itu akan melanggar Traktat Tlatelolco yang melarang keberadaan senjata nuklir dalam bentuk apa pun di seluruh wilayah Amerika Latin dan Kepulauan Karibia.

Duta besar Inggris untuk PBB Mark Lyall Grant langsung menggelar jumpa pers khusus untuk merespons pernyataan Timerman ini. Dia mengatakan, pihaknya tidak pernah berkomentar soal penempatan armada kapal selam maupun senjata nuklirnya. "Fungsi utama kapal selam adalah mereka pergi ke seluruh dunia dan Anda tidak tahu mereka sedang berada di mana. Itu sebabnya mereka punya fungsi penggentar," tandas Lyall Grant.

Soal pelanggaran traktat bebas senjata nuklir, Lyall Grant mengatakan, selama kapal-kapal selam pembawa senjata nuklir itu berada di luar batas wilayah Argentina, tidak ada pelanggaran yang dilakukan. 

Sumber : Kompas

Tuesday, 7 February 2012

Inggris Baru Putuskan Jumlah Pesanan F-35 pada 2015

LONDON-(IDB) : Inggris baru akan memutuskan pada 2015 soal berapa jumlah pasti pesawat tempur F-35 buatan Amerika Serikat yang akan mereka beli. Keputusan Inggris ini makin menambah ketidakpastian program Joint Strike Fighter (JSF), yang berambisi membuat pesawat tempur masa depan yang akan menggantikan peran semua pesawat tempur negara-negara Barat saat ini.

"Kami tak akan membuat keputusan final tentang jumlah keseluruhan pesawat F-35 yang akan kami pesan sebelum Revisi Strategi Pertahanan yang akan datang (pada 2015)," ungkap juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris, Selasa (7/2/2012).

Pada 2001, Inggris berkomitmen membeli 138 pesawat berkemampuan stealth tersebut. Namun, berbagai kondisi yang terjadi, baik di Inggris maupun dalam program JSF itu sendiri membuat Pemerintah Inggris pada 2010 menyatakan akan memotong jumlah pesanan F-35 tanpa merinci jumlahnya.

Inggris berniat membeli varian F-35C yang dioperasikan dari kapal induk untuk melengkapi armada kapal induknya kelak. Sejak Inggris memutuskan hanya akan mengoperasikan satu kapal induk pada masa depan, spekulasi pengurangan jumlah pesanan F-35 mulai muncul karena satu kapal induk Inggris maksimum hanya bisa mengangkut 36 pesawat ini, dan bahkan dalam operasi rutin hanya akan membawa tak lebih dari 12 pesawat.

Pengurangan jumlah pesanan F-35 dari komitmen semula berisiko menaikkan lagi ongkos produksi dan harga satuan pesawat tersebut. Padahal, program JSF sudah mencetak rekor sebagai program pengembangan persenjataan termahal dalam sejarah Departemen Pertahanan AS.

Berbagai masalah teknis yang baru terungkap setelah pesawat itu menjalani uji terbang, ditambah kondisi perekonomian AS yang memaksa negara adidaya itu memangkas anggaran pertahanannya, juga dikhawatirkan akan membuat AS memotong jumlah pesanannya. Rancangan fiskal AS tahun 2013, yang akan diumumkan pekan depan, diduga akan memasukkan penundaan pemesanan 179 pesawat F-35 sampai setelah tahun 2017.

Beberapa mitra internasional dalam program JSF juga sudah mulai meninjau kembali komitmen pesanan mereka. Menurut FlightGlobal, Australia sudah mengatakan akan memikirkan kembali rencananya membeli 12 unit F-35, sementara Turki telah memutuskan menunda pembelian dua pesawat itu, dan diduga kuat Italia juga akan mengikuti jejak Turki.

Sejauh ini Inggris baru benar-benar memesan tiga pesawat F-35 untuk uji coba dan satu pesawat lagi untuk keperluan evaluasi, dengan nilai kontrak total 632 juta dollar AS (Rp 5,65 triliun). Pernah beredar kabar di Inggris bahwa negara itu hanya akan memesan 50 pesawat. Namun, pihak Kementerian Pertahanan Inggris membantahnya.

Sumber : Kompas

Saturday, 4 February 2012

Argentina Geram Inggris Kirim Kapal Selam Ke Malvinas

LONDON-(IDB) : London mengirimkan kapal selam nuklir ke kepulauan Malvinas di saat ketegangan antara Inggris dan Argentina atas wilayah-wilayah yang disengketakan terus meningkat.

Menurut laporan media pada Sabtu (4/2), Perdana Menteri Inggris David Cameron secara pribadi telah menyetujui pengerahan kapal kelasTrafalgar. Namun, juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris (MoD) mengatakan, "Kami tidak mengomentari pengiriman kapal selam."


Kapal selam bersenjata berat diagendakan di perairan Malvinas pada bulan April guna perayaan 30 tahun perang 1982, di mana kedua negara memperebutkan  Malvinas yang juga dikenal sebagai Falkland.


Angkatan Laut Kerajaan Inggris telah mengungkapkan hal itu dan sedang mengirim HMS Dauntless,  sebuah kapal perusak Tipe 45 ke Falkland.


Pangeran William tiba di Malvinas pada Kamis untuk misi pelatihan enam pekan dengan Royal Air Force (RAF).


Sementara itu, pemerintah Buenos Aires telah mengutuk keras langkah provokatif London dengan mengirim Pangeran William ke Malvinas dan menyamakan hal itu dengan seorang "Penakluk".


"Warga Argentina menyesal bahwa pewaris kerajaan akan datang ke tanah air dengan seragam penakluk dan bukan dengan kebijaksanaan sebagai seorang negarawan yang bekerja untuk pelayanan perdamaian serta dialog antarnegara," penggalan pernyataan Kementerian Luar Negeri Argentina .

Malvinas terletak sekitar 250 mil laut dari Argentina dan telah menjadi jajahan Inggris selama lebih dari 180 tahun.


Argentina mengklaim kedaulatan atas wilayah tersebut dan kedua negara terlibat perang selama 74 hari pada tahun 1982.

Sumber : Irib

Wednesday, 1 February 2012

Update : PM Inggris akan Desak India Batalkan Rafale

LONDON-(IDB) : Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan akan mendesak India untuk mempertimbangkan kembali keputusannya memilih pesawat tempur buatan Perancis, Dassault Rafale. Cameron menyatakan kecewa atas keputusan India tersebut.

Hal itu disampaikan Cameron saat berbicara di hadapan parlemen Inggris di London, Rabu (1/2/2012). Sehari sebelumnya, India memutuskan memilih Rafale daripada pesaing utamanya, Eurofighter Typhoon, yang didukung Inggris.

Cameron berjanji kepada parlemen akan mendorong India untuk memikirkan kembali keputusannya, mumpung saat ini kontrak pembelian dengan pihak Perancis belum ditandatangani. "Keputusan itu jelas mengecewakan. Saya akan melakukan segala cara, seperti yang sudah saya lakukan, untuk mendorong India melihat kembali ke Typhoon," tutur Cameron.

Eurofighter Typhoon adalah pesawat buatan konsorsium perusahaan dirgantara dari empat negara, yakni Inggris, Jerman, Spanyol, dan Italia. Pesawat tempur tersebut bersaing dengan Rafale, sesama pesawat buatan Eropa, dalam memperebutkan kontrak pengadaan 126 pesawat tempur masa depan Angkatan Udara India senilai 12 miliar dollar AS.

India memutuskan memilih Rafale karena harga dan biaya perawatan per unit Rafale lebih murah dibanding Typhoon. Keputusan ini belum mengikat, karena sifatnya baru memberi hak eksklusif bagi Dassault untuk melakukan negosiasi lebih lanjut sebelum penandatanganan kontrak final.

Menurut Cameron, Typhoon memiliki berbagai kemampuan yang lebih unggul dibanding Rafale, dan ia akan mendesak pemerintah India melihat hal tersebut. Rafale maupun Typhoon sama-sama terlibat dalam operasi militer di Libya tahun lalu.

Kontrak pembelian dari AU India ini diperjuangkan mati-matian oleh kedua pesaing dari Eropa, karena akan berarti sangat besar di tengah kondisi krisis ekonomi yang melanda mereka saat ini. 

Sumber : Kompas

Monday, 30 January 2012

Sea Ceptor, Rudal Supersonik Terbaru Inggris

Sea Ceptor, Sistem Rudal Terbaru Inggris (mbda-systems.
LONDON-(IDB) : Angkatan Laut Kerajaan Inggris sedang mengembangkan sistem baru pertahanan udara. Sistem pertahanan ini diklaim mampu menghancurkan rudal lawan dengan kecepatan supersonik.

Sea Ceptor, itulah nama rudal pertahanan udara terbaru Inggris. Laman Daily Mail sebagaimana dilansir Foxnews menuliskan rudal jenis baru ini bisa diluncurkan dari atas kapal perang. Rudal pertahanan ini bisa melaju dengan kecepatan lebih dari Mach 3 (3 kali kecepatan suara, kecepatan suara setara 331.6  meter per detik). Rudal ini mampu menjaga area seluas 500 milpersegi.

Untuk mengembangkan sistem ini, Inggris memberikan kontrak senilai US$760 juta atau sekitar Rp6,8 triliun kepada perusahaan pembuat rudal, MBDA.

Sistem baru pertahanan ini diklaim mampu menghancurkan serangan dari luar, baik dalam bentuk rudal dan bentuk serangan lainnya.

"Pengembangan sistem rudal ini merupakan peningkatan besar bagi Inggris untuk menjadi pemimpin dalam industri rudal utama dunia dan sekali lagi menguatkan komitmen kami untuk memberikan teknologi perang tercanggih kepada armada kami," kata Menteri Pertahanan, Peter Luff.

"Sistem senjata baru ini akan melengkapi kapal frigate kami untuk menghadapi ancaman rudal di masa mendatang," kata Laksamana Mark Stanhope.

"Investasi mengembangkan teknologi pertahanan seperti Sea Ceptor ini sangat penting untuk menjamin Angkatan Laut meningkatkan kemampuannya dalam mempertahankan kepentingan Inggris di manapun dibutuhkan," ujar Stanhope.

Sumber : Vivanews 

Sunday, 22 January 2012

Kapal Perang Inggris Prancis Bergabung Dengan Armada Amerika di Selat Hormuz

JAKARTA-(IDB) : Kapal-kapal Inggris dan Prancis bergabung dengan kelompok kapal induk AS dalam armada enam kapal perang yang melewati perairan sensitif Selat Hormuz, kata Departemen Pertahanan Inggris Minggu.

Kementerian itu mengatakan, satu kapal Angkatan Laut Kerajaan, HMS Argyll, merupakan bagian dari kelompok kapal induk yang dipimpin

Amerika Serikat berlayar melalui Selat Hormuz, di mana Iran telah mengancam untuk menutup setelah tindakan Barat menjatuhkan sanksi-sanksi baru atas program nuklir Teheran.

Seorang juru bicara mengatakan: "HMS Argyll dan satu kapal Prancis bergabung dengan kelompok kapal induk AS transit melalui Selat Hormuz, untuk menggarisbawahi komitmen internasional tak tergoyahkan mereka dalam mempertahankan hak-hak berdasarkan hukum internasional."

Ia mengatakan Inggris mempertahankan "kehadiran terus -menerus di wilayah itu sebagai bagian dari kontribusi abadi kita untuk keamanan Teluk".

Kapal perang Inggris telah berpatroli di Teluk terus menerus sejak tahun 1980-an.

Selat Hormuz adalah rute transit utama untuk pasokan minyak global.

Para menteri luar negeri Uni Eropa bertemu di Brussels pada Senin yang diperkirakan setuju terhadap pemberian sanksi kepada Bank Sentral Iran dan mengumumkan embargo pembelian minyak Iran.

Amerika Serikat, Prancis, Inggris dan Jerman menuduh Iran berusaha membangun bom nuklir, namun Teheran berkali-kali menegaskan bahwa program nuklirnya untuk kepentingan damai.

Sumber : Antara

weapon military