Translate

Showing posts with label Israel. Show all posts
Showing posts with label Israel. Show all posts

Sunday, 11 March 2012

Perang Dengan Iran Tidak Bakal Terjadi, Netanyahu Melunak Stelah Bertemu Obama

TEL AVIV-(IDB) : Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu tidak lagi segarang beberapa pekan terakhir. Sikapnya yang ingin menyerang Iran luluh lantak setelah dia bertemu Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Jumat. Netanyahu tegas mengatakan bahwa perang dengan Iran tidak bakal terjadi. 
 
"Ini bukan masalah berapa hari, berapa minggu, atau berapa tahun. Jika sanksi ekonomi dapat bekerja, maka itu lebih baik, namun hasilnya harus mampu menghapuskan ancaman senjata nuklir Teheran," ujar Netanyahu usai lawatan ke AS, Jumat.
 
"Saya berharap tidak akan ada perang sama sekali dan tekanan (sanksi) terhadap Iran dapat berhasil. Tentu saja itu akan membuat saya bahagia, bahkan bukan hanya saya namun rakyat Israel pun akan ikut bahagia," tambah Netanyahu.  
 
Sementara itu juru bicara Gedung Putih Jay Carney membantah laporan surat kabar Israel yang menyebutkan AS menawarkan senjata baru kepada Israel sebagai imbalan atas penundaan serangan negara itu ke Iran.
 
Carney pun membantah kabar yang menyebutkan AS mendesain sebuah bom bunker buster. Bom ini dirancang khusus untuk menembus target yang berada di balik material keras atau target yang terkubur jauh di bawah tanah. "Tidak ada kesepakatan atau perjanjian semacam itu," ujar Carney.
 
Rakyat Israel sendiri, seperti diberitakan surat kabar Haaretz dalam jajak pendapat mereka, menolak rencana serangan Israel ke Iran bila tanpa dukungan AS. Sebanyak 58 persen dari 497 rakyat Israel yang dimintai keterangannya, menilai serangan Israel ke Iran jangan dilakukan sendiri. Mereka menghendaki AS turut ikut serta.
 
Selama ini Iran mengaku program nuklir dilakukan untuk kepentingan damai. Pemerintahan Presiden Mahmoud Ahmadinejad berulangkali menyatakan, nuklir mereka digunakan untuk menyediakan pasokan listrik bagi rakyatnya.
 
Dari citra yang didapatkan menunjukan, pekerja di fasilitas militer Parchin mencoba membersihkan bukti percobaan alat neutron. Alat ini biasanya digunakan untuk memicu ledakan nuklir. Klaim dari ahli IAEA ini dapat menambah tekanan dunia internasional terhadap Iran mengenai program nuklir mereka. 
 
Televisi nasional Iran melaporkan bahwa Ayatullah Ali Khamenei memuji langkah Obama yang lebih mementingkan diplomasi. Tentunya hal ini amat jarang terjadi, seorang pemimpin tertinggi Iran memberikan pujian kepada seorang pemimpin AS yang kerap berseberangan.
 
Sumber : SuaraKarya

Monday, 27 February 2012

Israel Inside

TEL AVIV-(IDB) : Membaca analisis orang ‘luar' terhadap Israel, mungkin sudah biasa. Mendengar Ahmadinejad berkali-kali menyatakan prediksinya bahwa Israel sebentar lagi akan tumbang, juga sudah biasa. Namun, cukup menarik bila kita membaca analisis orang Israel terhadap negaranya sendiri.  

Di dalam Israel, sesungguhnya ada juga segelintir orang yang ‘tercerahkan' dan bisa menilai dengan jernih kebobrokan ‘negara' dan pemerintahan Zionis. Mereka menulis, melakukan aksi-aksi perdamaian, dan berorasi di berbagai negeri untuk membangkitkan kesadaran sesama Yahudi dan umat manusia umumnya, supaya berhenti mendukung Zionisme.  Kelompok "Women in Black" misalnya. Mereka secara rutin melakukan aksi berdiri dalam diam dengan mengenakan pakaian hitam-hitam, sambil membawa spanduk-spanduk anti penjajahan Palestina. Tak pelak, mereka dikata-katai ‘pelacur' dan ‘pengkhianat' oleh orang-orang Israel.
 
Apa yang membangkitkan kesadaran orang-orang itu? Tak lain, karena kondisi di dalam negeri Israel memang sangat buruk. Uri Avnery dan Gilad Atzmon adalah dua penulis Israel yang sering menyuarakan kritik terhadap pemerintahan Zionis. Dalam tulisanberjudul"Why Israel Will Not Attack Iran", Avnery dengan gaya sarkasmenya menyebut Israel bagaikan anak sekolah yang mengancam "Hold me back, before I break his bones!"
 
Israel sesumbar akan menyerang Iran, dengan atau tanpa persetujuan AS. Omong besar ini disiarkan tanpa henti oleh media massa di seluruh dunia; memicu berbagai analisis dan talkshow. Di dalam negeri pun, para pemimpin Zionis tak henti-hentinya menyuarakan perang terhadap Iran. Menurut Avnery, Israel sesungguhnya sedang sok-sokan di depan AS, dan berkata, "Gue serang Iran nih… Ayo, coba tahan gue, gue serang nih, sekarang!"
 
Dalam analisis Avnery, Israel sama sekali tidak mungkin menyerang Iran tanpa persetujuan AS karena memang secara militer, Israel yang disebut-sebut sebagai ‘kekuatan militer terbesar di Timur Tengah' sangat bergantung pada suplai dari AS. Dengan sederhana, Avnery berupaya ‘menjelaskan' kepada orang-orang Israel bahwa Iran punya kekuasaan atas sebuah selat ‘sempit', yaitu Selat Hormuz, yang lebarnya 35 km. Jarak itu sama jauhnya dari Gaza ke Beer Sheva, yang ternyata bisa ‘dilalui' dengan mudah oleh roket sederhana milik pejuang Palestina.
 
Begitu pesawat Israel memasuki wilayah udara Iran, selat Hormuz akan segera ditutup dan angkatan laut Iran punya sangat banyak kapal pengangkut rudal untuk menjaga selat itu, jelas Avnery. Belum lagi, penutupan selat Hormuz artinya menghalangi sepertiga suplai minyak dunia dan akan menimbulkan kekacauan ekonomi yang sangat besar di dunia. Dan untuk membuka paksa selat itu, dibutuhkan operasi militer yang sangat mahal; yang akan sangat berat ditanggung olehAS dan NATO; apalagi oleh Israel. Avnery bahkan menambahkan bahwa bila perang terjadi, "Rudal pun akan menghujani Israel, tidak hanya dari Iran, tetapi juga dari Hizbullah dan mungkin Hamas. Kita tidak punya kekuatan yang cukup untuk mempertahankan kota-kota kita."
 
Namun, ancaman Israel untuk menyerang Iran sudah cukup untuk membuat pemerintah  AS kalang-kabut dan mengirim misi untuk membujuk ‘ sang adik'. Komandan Staff Gabungan Militer AS, Gen. Dempsey bahkan menyebut Iran sebagai ‘aktor rasional', untuk menenangkan Israel agar tidak menyerang Iran (baca tulisan saya sebelumnya).
 
Lalu, untuk apa Israel sesumbar akan menyerang Iran? Selain untuk menekan AS agar mau menuruti berbagai kehendak Israel, ternyata juga untuk konsumsi politik dalam negeri. Kondisi ekonomi Israel semakin buruk dan memicu demo-demo besar-besaran anti pemerintah. Tidak ada yang lebih mudah untuk mengalihkan perhatian warga dari masalah ekonomi selain adanya ancaman perang. Karena itulah ‘ancaman Iran' sangat laku dijual. Iran terus-menerus disebut sebagai pembuat bom nuklir yang akan digunakan untuk menghancurkan Israel. Ucapan legendaris Ahmadinejad, "Israel harus dihapus dari muka bumi" adalah mantra yang sangat mempan untuk menimbulkan rasa takut di tengah warga. Itulah sebabnya Avnery dengan sarkasme menutup tulisannya, "Untung ada Ahmadinejad, kalau tidak apa jadinya kita hari ini?"
 
Sebenarnya, seperti apakah kekacauan ekonomi di Israel? Bukankah berbagai media menyebut Israel sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia? Gilad Atzmon, dalam artikelnya "Israel Economy For Beginners" menjelaskan hal ini. Atzmon mengajukan dengan pertanyaan kritis, "Dari mana Israel memperoleh kekayaannya?" 
 
"Bukankah selain alpukat dan jeruk, kita tidak menjumpai produk Israel?" tulis Atzmon. Israel tidak memproduksi mobil, alat elektronik, dan sangat sedikit membuat barang-barang konsumsi lainnya. Dengan sarkasme, Atzmon menulis, "Di tanah yang mereka rampok dari bangsa asli Palestina, mereka juga tidak menemukan mineral berharga atau minyak."
 
Jadi, darimana datangnya kekayaan Israel? Atzmon menyodorkan faka-fakta –dan kebanyakan dari kita sebenarnya sudah tahu—bahwa Israel mendapatkan ‘sedekah' dari orang-orang kaya Yahudi di seluruh dunia. Dalam artikel lain di Haaretz (koran Israel), disebutkan bahwa ada istilah Ibrani yang menjadi standar nilai moral di kalangan Yahudi, yaitu ‘tzedakah'. Haaretz mengutip seorang peneliti yang menyebutkan bahwa orang-orang kaya Yahudi memiliki keterikatan kekeluargaan yang sangat erat dan menjadikan ‘tzedakah' sebagai sebuah kewajiban moral.
 
"Enam dari tujuh konglomerat yang menguasai 50% ekonomi Rusia tahun 1990-an adalah orang Yahudi," tulis Atzmon, dan banyak pengusaha Yahudi Rusia yang juga memiliki paspor Israel. Tentu saja, sudah banyak diketahui, kebanyakan konglomerat AS juga orang Yahudi. Dalam artikel di Haaretz itu juga dipaparkan betapa berbagai organisasi sosial, sekolah, dan universitas di Israel sangat menggantungkan diri dari tzedakah.
 
Selain itu, Israel meraup keuntungan besar dari bisnis pencucian uang. Israel merupakan surga untuk mencuci uang haram yang dilakukan mafia-mafia dan pengusaha kotor. Israel juga mendapatkan uang dari industri berlian. Israel mengimpor berlian mentah dari negara-negara miskin Afrika lalu mengolahnya menjadi perhiasan dan mengekspornya ke berbagai  negara dunia. Mengingat bahwa penambangan berlian banyak mengorbankan rakyat miskin di Afrika, dan bahwa berlian menjadi salah satu pilar utama ekonomi Israel yang merupakan penjajah Palestina, maka berlian produksi Israel sering disebut sebagai ‘blood diamond' (berlian berdarah).
 
Parahnya, di pasar, konsumen tidak mendeteksi, mana ‘berlian berdarah' produk Israel, mana berlian produk negara lain. Tak heran bila LSM-LSM pro-boikot produk Israel menyuarakan protes terkait tidak bisa terdeteksinya negara asal produksi berlian.
 
Israel juga mendapat uang dari penjualan alat-alat militer (dan sayangnya, Indonesia termasuk pembelinya!), bahkan dari penjualan organ tubuh manusia. Pendek kata, Israel memiliki perekonomian yang maju karena melakukan aktivitas ekonomi yang sangat kotor.
 
Dan, berita buruknya (atau baiknya?), orang-orang Yahudi kasta rendah di Israel sama sekali tidak menikmati kekayaan itu. Pertumbuhan ekonomi yang pesat di Israel pada saat yang sama justru disertai dengan ketidakadilan sosial. Di Israel, ada 18 keluarga yang mengontrol 60% perusahaan. "Jurang antara si kaya dan si miskin di Israel sangat besar," tulis Atzmon.
 
Menariknya, kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang kaya Zionis di berbagai penjuru dunia lewat aktivitas ekonomi kotornya, membuat Atzmon menyimpulkan, "Kita semua ini adalah bangsa Palestina dan kita memiliki satu musuh yang sama." 

Sumber : Irib

Saturday, 25 February 2012

Update : Israel Beli 30 M-346 Macchino Seharga 1 Miliar Dolar Amerika

TEL AVIV-(IDB) : Kementerian Pertahanan Israel mencapai kata akhir dengan Italia dalam pembelian 30 jet latih M-346 Macchino dari Alenia Aermacchi, senilai 1 miliar dolar Amerika Serikat. Kata akhir ini sekaligus mengakhiri masa penantian panjang dalam memutuskan, antara M-346 atau T-50 Golden Eagle dari Korea Selatan, yang menawarkan harga kompetitif.

Jet tempur ringan latih Italia ini sebelumnya telah memenangi dua pesanan pasti dari Singapura dan Uni Emirat Arab. Sementara T-50 baru satu, yaitu Indonesia, itupun dalam jumlah jauh lebih sedikit ketimbang pesanan dari Israel. Baik M-346 dan T-50 juga berkompetisi dalam pesanan serupa bagi Angkatan Udara Polandia dan ceruk besar untuk Angkatan Udara Amerika Serikat.

Dengan begitu, Israel memiliki 30 Macchino ini, Singapura 12, dan Italia sendiri 15 unit. Dalam konfigurasi standar, harga per unit M-346 Macchino sekitar 20 juta dolar Amerika Serikat. M-346 sangat identik dengan Yak-130 Mitten lansiran biro rancang Yakovlev dan Sokol, Rusia, dengan perbedaan pokok pada mesin penggerak.

M-346 Macchino didorong dua Honeywell F124-GA-200 bypass jet sementara Yak-130 Mitten didorong sepasang Klimov RD35 buatan Rusia. Mesin M-346 diakui lebih kuat ketimbang Klimov RD35 buatan Rusia itu.

Strategi besar bagi Korea Selatan adalah: jika memenangi Israel maka pintu bagi pasar internasional akan terbuka lebar, mengingat mereka adalah pemain baru dalam dunia jet tempur di kancah dunia. T-50 Golden Eagle bermesin satu dan menurut pilot uji, "cita rasa" dan performansinya adalah F-16 Fighting Eagle dalam versi mini.

Sementara M-346 atau Yak-130 dinilai gabungan dari F-16, F-15 Eagle, dan Eurofighter.

Bagi Israel, M-346 akan menggantikan A-4N/TA-4N Skyhawk (berkemampuan membopong misil udara ke darat nuklir) buatan dasawarsa '80-an. Israel menerima pertama kali seri A-4 Skyhawk buatan McDonnel Douglas pada 1968 akibat kelebihan produksi Amerika Serikat; Indonesia juga menerima pada dasawarsa '70-an.

Bisnis arsenal udara di antara Israel dan Italia ini juga berlaku secara resiprokal alias offset deal. Italia akan membeli senilai sama peralatan perang dari Israel, yang dikatakan pejabat di Kementerian Pertahanan Israel, Udi Shani, sebagai suatu yang memungkinkan negaranya memperoleh keuntungan jauh lebih besar dalam kenyataannya.

Italia telah membeli produk-produk persenjataan Israel, meliputi senjata berpemandu, perlengkapan intelijen, pengamatan, dan pemantauan (ISR), sistem perang elektronika, dan sistem perlindungan diri bagi helikopter dan pesawat transportasi militer.

Perusahaan Israel juga bekerja sama dengan firma Italia dalam program peningkatan peralatan militer internasional. Yang sedang didiskusikan kini adalah transfer dua pesawat peringatan dini yang dikembangkan Elta Systems. Italia menjadi kandidat utama dalam pengadaan sistem ISR yang bermula dari pesanan Turki; yang ditolak Israel.

Paket ini terkait dengan prioritas yang diajukan Angkatan Udara Italia mengikuti kampanye pertempuran di Libia, tahun lalu. Hal ini mempercepat pembelian, proses, dan diseminasi intelijen menuju data terhadap sasaran yang dituju.

Dari sisi Korea Selatan --sebelum pilihan jatuh kepada Italia-- berharap Israel memberi pesanan senilai 1,6 miliar dolar Amerika Serikat dalam proyek T-50-nya, termasuk sistem penghalau roket Iron Dome mereka. Timbal baliknya, Korea Selatan memerlukan serangkaian sistem pertahanan dari Israel, termasuk misil Spike NLOS, radar kendali tembakan utama bagi jet-jet tempurnya, dan radar besar anti peluru kendali, Green Pine.

Sumber : Antara

Tuesday, 21 February 2012

Israel Sulit Dan Beresiko Lakukan Serangan Udara Ke Iran



NEW YORK-(IDB) : Israel akan sangat sulit untuk melakukan sebuah serangan udara terhadap beberapa instalasi nuklir Iran, kata sejumlah pejabat pertahanan AS dan pengamat militer, seperti dilaporkan harian New York Times, Selasa (21/2/2012).

Pasalnya, begitu Israel memutuskan untuk menyerang Iran, para pilotnya harus terbang menempuh jarak lebih dari 1.600 kilometer, menyeberangi wilayah udara sejumlah negara yang tidak bersahabat, mengisi bahan bakar di udara, menghadapi pertahanan udara Iran, menyerang sejumlah tempat secara bersamaan, dan menggunakan sedikitnya 100 pesawat.

Sejumlah pejabat pertahanan AS dan pengamat militer yang dekat dengan Pentagon mengatakan, serangan Israel yang bertujuan untuk menghancurkan program nuklir Iran akan menjadi sebuah operasi besar dan sangat kompleks. Mereka menggambarkan, serangan itu akan berbeda jauh dari serangan Israel terhadap sebuah reaktor nuklir Suriah tahun 2007 dan reaktor Osirak Irak tahun 1981.

New York Times mengutip pernyataan Letnan Jenderal David Deptula, yang tahun lalu pensiun sebagai pejabat senior intelijen Angkatan Udara AS dan dulu merencanakan serangan udara AS tahun 2001 di Afganistan dan Perang Teluk 1991. Deptula menegaskan, sebuah serangan udara Israel terhadap Iran tidak akan mudah dilakukan.

Spekulasi bahwa Israel mungkin akan menyerang Iran telah berkembang dalam beberapa bulan terakhir seiring dengan ketegangan antara kedua negara yang meningkat. Iran menuding Israel atas serangkaian pembunuhan terhadap sejumlah ilmuwan nuklirnya. Sebaliknya, Israel menuduh Iran berada di balik serangkaian ledakan bom pada pekan lalu yang tampaknya menyasar para diplomatnya di Georgia, India, dan Thailand.

Dalam suasana yang makin mengkhawatirkan itu, penasihat keamanan nasional AS, Thomas Donilon, bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, di Yerusalem, hari Minggu. Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Martin Dempsey, melalui CNN sebelumnya memperingatkan bahwa serangan Israel terhadap Iran sekarang ini akan menimbulkan "destabilisasi". Menteri Luar Negeri Inggris William Hague, juga mengatakan kepada BBC bahwa menyerang Iran bukan "hal yang bijaksana" bagi Israel "saat ini".

Sementara itu, seorang juru bicara Israel di Washington mengatakan, negara Yahudi itu terus mendorong sanksi lebih keras terhadap Iran. Ia menegaskan, Israel, seperti halnya Amerika Serikat, "tetap menempatkan semua pilihan di atas meja".

Prihal kemungkinan rencana serangan Israel telah menjadi sumber perdebatan di Washington, kata New York Times. Sejumlah pengamat mempertanyakan apakah Israel punya kemampuan militer jika hal itu dilakukan. Salah satu ketakutan adalah bahwa AS akan terjerumus untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Michael Hayden, yang menjadi direktur CIA tahun 2006 hingga 2009, bulan lalu mengatakan, serangan udara untuk merusak secara serius program nuklir Iran "berada di luar kapasitas" Israel.

Karena Israel ingin menyerang empat lokasi nuklir utama Iran, yaitu fasilitas pengayaan uranium di Natanz dan Fordo, reaktor air di Arak dan pembangkit yellowcake-conversion di Isfahan, maka menurut para analis militer, masalah pertama adalah bagaimana menuju ke sana. Ada tiga rute potensial: rute utara via Turki, rute selatan melalui Arab Saudi atau  rute tengah melewati Yordania dan Irak.

Rute via Irak akan menjadi yang paling langsung dan paling mungkin, kata para pengamat pertahanan, karena Irak tidak memiliki pertahanan udara dan AS, setelah menarik diri pada Desember, tidak lagi memiliki kewajiban untuk membela langit Irak. Dengan asumsi Yordania akan memberi toleransi terhadap penerbangan lintas perbatasan oleh Israel, masalah berikutnya adalah jarak. Israel memiliki jet tempur F-15I dan F-16i rakitan AS yang dapat membawa bom ke sasaran. Namun jangkauan jet-jet itu terbatas, tidak sanggup mencapai jarak 3.200 kilometer pergi-pulang.

Rintangan beart lainnya adalah persediaan bom Israel yang mampu menembus fasilitas di Natanz dan Fordo, yang dibangun di dalam sebuah gunung. Dengan asumsi tidak menggunakan perangkat nuklir, Israel punya bom penghancur bunker GBU-28 seberat 2.200-kilogram buatan AS yang dapat merusak target tersebut, meskipun tidak jelas seberapa jauh bom bisa menjangkau sasaran yang berada di dalam perut gunung.

"Hanya ada satu negara adidaya di dunia yang dapat melakukan ini," kata Jenderal Deptula. 

Sumber : Kompas

Sunday, 19 February 2012

Israel Beli 30 Pesawat Latih Militer Italia

Pesawat jet latih militer M-346 buatan Alenia Aermacchi, Italia
TEL AVIV-(IDB) : Israel menyepakati pembelian 30 pesawat jet latih militer buatan Italia senilai total 1 miliar dollar AS (sekitar Rp 9 triliun), Kamis (16/2/2012).

Kesepakatan ini tercapai setelah Italia berjanji akan membalas membeli perlengkapan pertahanan dari Israel dengan nilai yang sama.

Keputusan tahap awal dan masih membutuhkan persetujuan pemerintah dan parlemen Israel mengakhiri persaingan panjang antara Italia dan Korea Selatan (Korsel) dalam memperebutkan kontrak dari Israel ini. Sebelumnya, Korsel menawarkan pesawat latih T-50.

Alasan Israel memilih pesawat jet M-346 buatan pabrikan Alenia Aermacchi dari Italia karena pesawat itu memenuhi "kebutuhan langsung" AU Israel. Selain itu, harganya cocok dan diikuti perjanjian Italia akan membeli perlengkapan pertahanan buatan Israel.

Korsel kecewa

Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan Israel Udi Shani mengatakan, perjanjian saling membeli ini memungkinkan Israel membeli pesawat Italia dalam jumlah banyak di tengah kondisi pengetatan anggaran.

Israel akan menggunakan M-346 untuk menggantikan armada pesawat A-4 Skyhawk, yang sudah 40 tahun diandalkan sebagai pesawat latih. Pesawat pertama akan dikirim pada 2014.

Pihak Korsel sendiri mengaku kecewa dengan proses pembelian yang dianggap tidak transparan. Padahal, Korsel juga telah menawarkan pembelian balik sistem antiroket Iron Dome buatan Israel senilai 1,6 miliar dollar AS.

Sumber : Kompas

Friday, 3 February 2012

Israel Tuding Iran Kembangkan Rudal yang Bisa Capai AS

TEL AVIV-(IDB) : Wakil Perdana Menteri Israel, Moshe Yaalon, mengatakan, Iran saat ini sedang mengembangkan rudal yang tidak hanya mampu menjangkau wilayah Israel, tetapi juga mampu mencapai daratan Amerika Serikat.

Pernyataan Yaalon itu disampaikan di hadapan konferensi keamanan tahunan di kota Herzliya, Israel, Kamis (2/2/2012).

Menurut mantan Panglima Angkatan Bersenjata Israel itu, pengembangan rudal generasi terbaru Iran ini dilakukan di pangkalan militer yang meledak tiga bulan lalu.

Pada 12 November 2011, ledakan keras mengguncang sebuah pangkalan militer yang terletak sekitar 45 kilometer dari Teheran, Iran. Ledakan itu menewaskan 17 orang, termasuk seorang perwira militer Iran yang diduga menjadi arsitek sistem pertahanan rudal Iran.

Waktu itu, pihak Iran mengatakan, ledakan terjadi saat uji coba sistem persenjataan yang mampu menyerang Israel. Namun menurut Yaalon, rudal sesungguhnya yang sedang dikembangkan Iran di fasilitas militer itu memiliki daya jelajah empat kali lipat daripada jarak Iran-Israel.

"Pangkalan militer itu adalah fasilitas riset dan pengembangan, tempat Iran menyiapkan produksi atau pengembangan sebuah rudal dengan daya jelajah 10.000 kilometer, yang ditujukan untuk menyerang 'Setan Besar', yakni Amerika Serikat, bukan kita," tandas Yaalon tanpa memperinci lebih lanjut.

Para pengamat militer selama ini menduga Iran memiliki peluru kendali yang memiliki daya jelajah 2.400 kilometer, atau mampu mencapai wilayah Israel dan Eropa bagian timur.

Tuduhan ini disampaikan, di tengah ketegangan seputar dugaan bahwa Iran sedang mengembangkan bom nuklir. Iran selalu membantah tuduhan itu, dan mengatakan program nuklirnya bertujuan damai. 

Sumber : Kompas

Israel Pertimbangkan Serang Iran Kalau Embargo Minyak Gagal

TEL AVIV-(IDB) : Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak, Kamis (2/2), mengatakan jika sanksi atas Iran terbukti tidak efektif, maka Israel akan mempertimbangkan untuk melancarkan aksi militer guna mencegah program nuklir Republik Islam tersebut.

"Kalau saja sanksi gagal menghentikan program nuklir Iran, maka akan perlu untuk mempertimbangkan dilakukannya tindakan," kata Barak.

Saat menyampaikan pidato terbuka dalam penutupan Konferensi Herzliya, Barak menyatakan Israel bersedia melakukan tindakan sebelum keadaan "sangat terlambat".

"Ada kepercayaan luas internasional bahwa penting untuk mencegah Iran berpaling kepada `nuklir`," katanya.

Barak menyatakan perlu untuk melakukan tindakan sebelum Teheran mencapai kemampuan nuklir, yang dikatakan Iran untuk tujuan sipil, guna mencegah Iran menjadi ancaman global, kata harian Ha`aretz.

"Siapa pun yang mengatakan `nanti` bisa menghadapi kenyataan sudah terlambat," kata Barak sebagaimana dikutip Xinhua.

Wakil Perdana Menteri Israel Moshe Ya`alon, Kamis, juga memperingatkan mengenai konsensus tentang "Iran yang memiliki nuklir", dan menekankan itu bisa jadi "mimpi buruk buat dunia bebas".

Namun, Ya`alon --yang juga adalah Menteri Urusan Strategis dan mantan kepala staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), mengatakan Barat dapat melancarkan serangan militer terhadap setiap instalasi nuklir Iran.

Kamis pagi, Direktur Dinas Intelijen Militer Israel Mayor Jenderal Aviv Kochavi mengatakan dalam konferensi Herzliya bahwa Iran "sekarang siap membuat bom nuklir".

Sumber : Antara

Tuesday, 17 January 2012

Ketika AS Tinggalkan Israel Sendirian

TEHRAN-(IDB) : Kekhawatiran Washington atas pembalasan Tehran terkait kematian ahli nuklirnya baru-baru membuktikan kegagalan AS dalam menaklukkan Iran. Di tengah kondisi terdesak saat ini, Gedung Putih membiarkan Tel Aviv sendirian dengan ambisi haus perangnya yang meledak-ledak tanpa kontrol. Imbasnya, kedua negara sekutu itu membatalkan manuver militer bersama yang rencananya digelar bulan Januari ini.

Meski belum diketahui secara detil seberapa besar tensi ketegangan antara Washington dan Tel Aviv  yang terjadi saat ini terkait masalah Iran, namun yang jelas AS tidak bersedia mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendanai petualangan berbahaya Israel yang gila perang itu. Tentu saja, Gedung Putih menolak mengorbankan kepentingan nasional AS yang saat ini dilanda krisis ekonomi yang semakin akut.


Indikasi friksi antara AS dan Israel terbaca dari sikap berlepas diri Washington atas teror Mostafa Ahmadi Roshan, Deputi Ekonomi Instalasi Nuklir Natanz. Obama terang-terangan mengelak dari keterlibatan teror berdarah itu. Sebelumnya, Washington juga bersikap dingin menyikapi aksi teror terhadap ilmuwan nuklir Iran. Namun aksi pembalasan yang dikemukakan Tehran terhadap para pelaku aksi teror itu memicu kekhawatiran Gedung Putih melebihi sebelumnya. Kekhawatiran itu semakin memuncak dengan menguatnya ancaman penutupan Selat Hormuz. Dan Iran menggelar manuver militer baru-baru ini untuk membuktikan keseriusan ancamannya itu.


Admiral Jonathan W. Greenert, Panglima Angkatan Laut AS mengatakan, "Jika saya ditanya mengapa tidak bisa tidur di malam hari, saya akan jawab karena Selat Hormuz dan aktivitas di Teluk Persia." Berbagai pernyataan para pejabat teras AS hanyalah cara Washington untuk menghindar dari kemungkinan dampak buruk pembalasan Iran.


Sehari sebelum majalah Times mengarahkan telunjuknya terhadap agen-agen Mossad sebagai pelaku teror ilmuwan Iran, majalah Foreign Policy menulis sebuah laporan berjudul " Bendera Kebohongan" yang menegaskan sikap berlepas diri Dinas Intelejen AS (CIA) atas serangan teror tehadap ilmuwan Iran.


Foreign Policy menulis, "Pada periode pemerintahan Presiden George W Bush, agen Mossad dengan mengusung bendera kebohongan atas nama CIA mengorganisir aksi teror Jundullah untuk melakukan operasi spionase dan teror di Iran pada tahun 2007-2008."


Berdasarkan laporan tersebut, mata-mata Mossad yang mengatasnamakan agen CIA mengadakan pertemuan dengan milisi Jundullah yang biasanya dilakukan di kota London dan sekitarnya. Majalah terkemuka AS itu mengungkapkan bahwa agen Mossad menggunakan paspor AS dan mata uang negeri Paman Sam itu.


Salah seorang pejabat intelejen AS kepada Foreign Policy mengungkapkan rasa herannya atas sepak terjang Israel yang melakukan tindakan apapun demi mewujudkan ambisinya. Seorang pejabat CIA mengakui bahwa AS menggandeng Israel untuk mengorek informasi rahasia dari Iran, namun Washington tidak terlibat dalam berbagai operasi teror terhadap militer dan warga sipil Iran.


Sehari setelah terbitnya laporan Foreign Policy itu, majalah Times mengutip sumber intelejen Barat secara terang-terangan menyebut agen Mossad sebagai pelaku aksi teror terhadap ilmuwan Iran. Times menegaskan bahwa teror yang sama juga dilakukan Mossad terhadap Ahmadi Roshan.


Selain Times, kantor berita CNN mengutip statemen Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton memberitakan ketidakterlibatan AS dalam aksi teror terhadap ilmuwan Iran baru-baru ini. Tidak hanya itu, Menteri Pertahanan kepada wartawan mengelak atas keterlibatan AS dalam teror Mostafa Ahmadi Roshan.


Reuters melaporkan sikap gembira para pejabat teras militer Israel atas tewasnya ilmuwan nuklir Iran baru-baru ini. Juru Bicara Militer Israel, Yoav Mordechai di laman resmi facebooknya mengatakan, "Saya tidak tahu siapa pelaku teror ilmuwan Iran, tapi saya pasti tidak akan menumpahkan air mata."


Reuters melaporkan ledakan teror bom yang menewaskan Ahmadi Roshan terjadi sehari setelah kepala staf Israel mengatakan bahwa 2012 akan menjadi  tahun kritis bagi Iran.


"2012 akan menjadi tahun kritis berkaitan dengan kelanjutan proyek nuklir Iran, perubahan internal dalam kepemimpinan Tehran, tekanan masyarakat internasional dan berbagai hal-hal yang menimpa mereka dengan cara yang tidak wajar," kata Letnan Jenderal Benny Gantz kepada anggota parlemen dalam sambutan yang disampaikan oleh juru bicaranya.


Tampaknya aksi teror terbaru terhadap ilmuwan nuklir Iran memicu ketegangan anyar antara Tel Aviv dan Washington. Martin Indyk, Mantan Duta Besar untuk Israel dalam sebuah konferensi di Baitul Maqdis mengakui adanya friksi antara Israel dan AS mengenai masalah nuklir Iran. Pemicunya, tutur Indyk, karena AS tidak menghendaki Iran menguasai senjata nuklir, sedangkan Israel sejak awal menentang keras Iran menguasai energi nuklir damai.


Direktur kebijakan Luar Negeri The Brookings Institution itu menegaskan bahwa Washington tidak menghendaki Israel menyerang instalasi nuklir Iran. Pejabat teras AS dari Presiden Obama hingga menteri pertahanan Leon Panetta mengirimkan pesan terhadap Israel mengenai bahaya besar yang akan mengancam, jika Israel benar-benar menyerang instalasi nuklir Iran. Buntut sikap mbalelo Israel terhadap peringatan Washington menyebabkan AS membatalkan manuver militer bersama kedua negara sekutu itu.


Haaretz mengutip pejabat militer Israel melaporkan bahwa penangguhan latihan perang itu dilakukan menyusul desakan AS untuk tidak meningkatkan suhu ketegangan yang terus memuncak dengan Iran, terutama setelah Tel Aviv semakin serius mewujudkan ambisinya menyerang instalasi nuklir Iran. Koran Israel itu menyatakan manuver militer bersama antara Washington dan Tel Aviv akan digelar musim semi ini, namun segera dibatalkan dengan alasan tingginya dana yang harus digelontorkan untuk membiayai latihan peran tersebut.


Haaretz mengakui bahwa manuver militer angkatan bersenjata Iran "Velayat 90" sebagai pemicu utama dibatalkan latihan perang bersama Israel-Amerika yang disebut-sebut sebagai yang terbesar dalam kerjasama militer kedua mitra dekat itu.

Sumber : Irib

weapon military